Tech

Era Pesawat Supersonik Kembali, Diluncurkan Mulai 2025

Jingga Irawan

Posted on June 4th 2021

credit: Boom Supersonic

Era penerbangan supersonik tampaknya lahir kembali. Dilansir dari The Verge, Jum’at (4/6), maskapai penerbangan AS, United Airlines, telah setuju membeli 15 pesawat supersonik dari Boom Supersonic. Jika semuanya berjalan lancar, United Airlines bakal menambah pembelian hingga 50 buah.

Namun, The Verge mengungkap bahwa kesepakatan itu masih bisa berubah. Tergantung pada hasil pengujian keamanan United Airlines dan kemampuan Boom Supersonic, meskipun belum pernah membangun atau menerbangkan jet supersonik skala penuh sebelumnya.

Jika jet Overture milik Boom lulus pemeriksaan, pesawat itu rencananya bakal diluncurkan pada 2025. Lalu terbang pada 2026, dan diharapkan dapat mengangkut penumpang pada 2029. Pada saat itu, Boom mengklaim jet supersoniknya akan dapat melakukan perjalanan dari New York ke London lebih cepat. Yang biasanya memakan waktu penerbangan tujuh jam, bisa menjadi 3,5 jam.

Sementara, untuk Los Angeles ke Sydney, yang biasanya memakan waktu 15 jam, menjadi enam jam 45 menit. Boom mengatakan bahwa tiket menunggangi supersoniknya berharga USD 5.000 (Rp 72 juta) per kursi. Akan tetapi, United Airlines berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk mengumumkan harga tiket penerbangan.

“Visi Boom untuk masa depan penerbangan komersial, dikombinasikan dengan jaringan rute industri yang paling kuat di dunia, akan memberikan akses bagi pelancong bisnis dan rekreasi ke pengalaman penerbangan yang luar biasa,” kata CEO United Airlines Scott Kirby.

Boom merupakan start up yang akan membawa kembali era perjalanan supersonik komersial. Dan ini merupakan kesepakatan terbaru untuk Boom. Selain United Airlines, perusahaan tersebut memiliki kontrak atau nota kesepahaman dengan Rolls-Royce dan Angkatan Udara AS.

Boom sebelumnya meluncurkan XB-1 skala penuh pertamanya, yang dijadwalkan melakukan penerbangan perdana pada 2021. Dengan panjang 71 kaki (21,6 meter), XB-1 adalah jenis produksi penuh yang diperkecil. Versi promosinya hanya memiliki ruang untuk pilot, sedangkan versi komersialnya akan menampung hingga 88 penumpang dan awak.

Pesawat XB-1 diharapkan mencapai kecepatan 1.3 Mach, yang didorong tiga mesin J85-15. Mesin itu diproduksi oleh General Electric, terutama untuk pesawat militer. Pesawat ini merupakan versi promosi skala ketiga dari Boom Technology, sebagai bagian dari pengembangan jet Overture.

Sementara untuk perbandingan, jet Overture skala penuh akan memiliki panjang 205 kaki (63 meter), memiliki ketinggian jelajah 60.000 kaki, dan mencapai kecepatan 1,7 Mach.

Kedua perusahaan mengklaim jet Overture akan menerapkan zero-emission. Dan dioptimalkan dengan 100 persen bahan bakar energi berkelanjutan. Tetapi perusahaan tidak memberikan rincian tambahan tentang jenis bahan bakar apa yang akan mereka gunakan atau bagaimana mereka menerapkan zero emissions.

Namun, beberapa pengamat lingkungan khawatir bahwa daya tempuh yang lebih cepat dapat membuang lebih banyak polusi ke lingkungan. Sebagai informasi, industri penerbangan global menghasilkan sekitar 2 persen dari semua emisi karbon dioksida yang diproduksi oleh manusia, tetapi jet supersonik diketahui jauh lebih berpolusi dari perhitungan itu.

Boom awalnya berjanji memulai tes penerbangan pada 2017 dengan harapan bisa mengangkut penumpang pada 2020, namun semuanya terlambat dari jadwal.

Belum ada jet komersial supersonik yang beroperasi sejak Concorde, yang dibangun oleh perusahaan kedirgantaraan Prancis Aérospatiale dan British Aircraft Corporation. Tapi pesawat tersebut kemudian pensiun setelah 27 tahun bertugas pada 2003.(*)

Related Articles
Tech
Pesawat Supersonik AS2 Diluncurkan 2024, New York-London Hanya 4,5 Jam

Interest
Awas! Jangan Sampai Hal Ini Menimpa Kalian Saat Naik Pesawat

Current Issues
Di AS, Tolak Pakai Masker di Pesawat Bisa Kena Denda Rp 42,6 Juta