Current Issues

Studi: Kasus Covid-19 di Indonesia Jauh Lebih Banyak dari Data Pemerintah

Dwiwa

Posted on June 4th 2021

Indonesia telah mencatatkan lebih dari 1,8 juta kasus Covid-19 pada Kamis (3.6) dengan total kematian 51.095 jiwa. Jumlah kasus harian dalam beberapa minggu terakhir juga cukup stabil di angka 5 hingga 6 ribuan. Jauh menurun dibanding awal tahun yang mencapai belasan ribu.

Tetapi, apakah pada kenyataannya memang kasus Covid-19 di Indonesia hanya sebanyak itu? Ternyata menurut sebuah studi, kasus Covid-19 di Indonesia sebenarnya jauh lebih besar daripada data yang selama ini dipegang pemerintah.

Dilansir dari Reuters, sebuah studi seroprevalensi nasional antara Desember dan Januari menunjukkan 15 persen orang Indonesia telah tertular Covid-19. Jika dihitung dari data pemerintah, dengan total penduduk sekitar 270 juta jiwa maka angka resmi pada Januari menunjukkan hanya sekitar 0,4 persen orang yang terpapar.

Bahkan, seandainya dihitung dengan data saat ini, baru sekitar 0,7 penduduk Indonesia yang secara resmi tercatat terpapar penyakit yang disebabkan virus SARS-Cov-2 ini.

Pandu Riono, seorang ahli epidemiologi Universitas Indonesia yang terlibat dalam penelitian yang dilakukan dengan bantuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) itu mengatakan hasil survei tidak terduga diberikan di bawah pelaporan.

Juru Bicara Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, mengatakan jika mungkin studi ini masih awal. Tetapi ada kemungkinan kasus lebih banyak dari yang dilaporkan secara resmi karena banyak kasus tidak bergejala. Lagi pula, pelacakan kontak masih rendah dan laboratorium untuk tes juga terbatas.

Berdasar tes darah, studi seroprevalensi mendeteksi antibodi yang muncul pada orang yang kemungkinan besar sudah terjangkit penyakit tersebut. Angka resmi sebagian besar didasarkan pada tes swab, yang mendeteksi virus itu sendiri dan hanya mengungkapkan kondisi saat itu.

Sementara antibodi berkembang satu sampai tiga minggu setelah seseorang terpapar virus dan akan tetap ada di tubuh selama beberapa bulan. Studi seroprevalensi di negara lain, termasuk India, juga mengungkapkan infeksi yang lebih luas.

“Sistem surveilans resmi kami tidak dapat mendeteksi kasus Covid-19. Ini lemah. Pelacakan kontak dan pengujian di Indonesia sangat buruk dan menjelaskan mengapa begitu sedikit kasus yang terdeteksi,” ujar peneliti utama studi Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, yang mengomentari tetapi tidak berwenang mengonfirmasi angka tersebut.

Rekan penulis Pandu mengatakan meski studi menunjukkan penyebaran virus lebih luas, Indonesia tampaknya masih jauh dari mencapai kekebalan kelompok, menjadikannya prioritas untuk mempercepat vaksinasi.

Berdasar data pemerintah, saat ini, baru 6 persen dari 181 juta penduduk Indonesia yang ditargetkan telah divaksinasi lengkap dengan dua dosis. Sementara 9,4 persen telah mendapat suntikan.

Hasil awal dari studi seroprevalensi terpisah di Bali, yang dilakukan oleh Universitas Udayana, menemukan 17 persen dari mereka yang diuji pada September dan November tampaknya telah terinfeksi, kata peneliti utama Anak Agung Sagung Sawitri kepada Reuters. Ini 53 kali lebih tinggi dari tingkat infeksi berdasarkan kasus yang tercatat secara resmi pada waktu itu. (*)

Related Articles
Current Issues
BPS: Makin Banyak Orang Memakai Masker, Tetapi Tidak Semuanya Mencuci Tangan

Current Issues
Kasus Covid-19 Makin Bertambah, Surveilans Indonesia Ternyata Masih Rendah

Current Issues
Angka Kematian Covid-19 di Singapura Terendah di Dunia, Apa Rahasianya?