Tech

TikTok Bakal Kumpulkan Data Biometrik Pengguna AS, Termasuk Faceprints

Jingga Irawan

Posted on June 4th 2021

Credit: Vox Media

Aturan baru yang diterapkan oleh raksasa media sosial, TikTok, menghebohkan dunia maya baru-baru ini. Dilansir dari Tech Crunch pada Jum’at (4/6), kebijakan privasi TikTok AS memiliki bagian anyar yang mengizinkan aplikasi pembuat konten video tersebut dapat mengumpulkan identifikasi biometrik dari konten penggunanya. Termasuk faceprints dan voiceprints.

Dikutip dari laman Emirates, biometrik adalah karakteristik manusia yang menunjukan identitas seseorang, mulai dari sidik wajah, sidik jari dan mata. Semua ini dipakai untuk mengidentifikasi identitas.

Namun, TikTok belum dapat mengonfirmasi pengembangan fitur seperti apa yang digunakan untuk mengumpulkan data biometrik. Akan tetapi, aplikasi milik ByteDance tersebut berjanji akan meminta persetujuan jika praktik pengumpulan data semacam itu dilakukan.

Bagian awal dari kebijakan baru itu menjelaskan bahwa TikTok dapat mengumpulkan informasi tentang gambar dan audio yang ada di konten pengguna. Seperti mengidentifikasi objek dan pemandangan yang muncul, keberadaan serta lokasi dalam gambar fitur atribut wajah dan tubuh, sifat audio, dan teks kata-kata yang diucapkan dalam konten.

Meskipun terdengar ngeri dan berkaitan langsung dengan privasi, media sosial lain juga melakukan pengenalan objek pada gambar yang diunggah untuk memperkuat fitur aksesibilitas. Seperti menggambarkan apa yang ada di foto, atau biasanya digunakan tujuan penargetan iklan.

Kebijakan tersebut juga mencatat bahwa bagian dari pengumpulan data ini bertujuan mengaktifkan efek video khusus, untuk moderasi konten, klasifikasi demografis, konten serta rekomendasi iklan, dan untuk operasi non-identifikasi pribadi lainnya.

Namun, yang lebih memprihatinkan dari bagian baru kebijakan ini merujuk pada rencana yang belum jelas untuk mengumpulkan data biometrik.

“Kami dapat mengumpulkan pengidentifikasi biometrik dan informasi biometrik sebagaimana didefinisikan berdasarkan undang-undang AS, seperti sidik wajah dan sidik suara, dari Konten Pengguna Anda. Jika diwajibkan oleh hukum, kami akan meminta izin yang diperlukan dari Anda sebelum pengumpulan tersebut,” kata TikTok.

Menurut Tech Crunch, pernyataan tersebut menunjukkan ketidakjelasan apakah kebijakan itu mempertimbangkan hukum federal, undang-undang negara bagian, atau keduanya.

Dan juga tidak menjelaskan alasan mengapa TikTok membutuhkan pengumpulan data tersebut dari pengguna. Mengingat, beberapa tahun terakhir masalah data privasi yang ada di media sosial telah menjadi salah satu isu penting yang harus diperhatikan.

Apalagi, hanya segelintir negara bagian di AS yang memiliki undang-undang privasi biometrik, termasuk Illinois, Washington, California, Texas, dan New York. Bahkan, bisa jadi kebijakan ini nantinya meluas ke negara lain. Dan belum tentu pula negara lain memiliki undang-undang untuk melindungi privasi biometrik.

Saat dihubungi untuk dimintai penjelasan oleh Tech Crunch, juru bicara TikTok tidak dapat memberikan rincian lebih lanjut tentang rencana perusahaan untuk pengumpulan data biometrik.

“Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan kami terhadap transparansi, kami baru-baru ini memperbarui Kebijakan Privasi kami untuk memberikan kejelasan lebih lanjut tentang informasi yang mungkin kami kumpulkan,” kata juru bicara tersebut.

Perusahaan justru mengarahkan pihak Tech Crunch ke artikel tentang pendekatannya terhadap keamanan data, laporan Transparansi terbaru TikTok dan keamanan privasi yang baru-baru ini diluncurkan.

Kebijakan biometrik tersebut diungkap pada saat TikTok telah mendapatkan kembali kepercayaan dari beberapa pengguna AS.

Di bawah pemerintahan Donald Trump, pemerintah federal berusaha untuk melarang TikTok beroperasi di AS sepenuhnya. Trump menyebut aplikasi itu sebagai ancaman keamanan nasional karena kepemilikannya oleh perusahaan Tiongkok. TikTok melawan larangan tersebut dan mencatat bahwa mereka hanya menyimpan data pengguna TikTok AS di Amerika Serikat sendiri dan di Singapura.

Perusahaan mengklaim tidak pernah membagikan data pengguna TikTok dengan pemerintah Tiongkok atau menyensor konten, meskipun aplikasi tersebut dimiliki oleh perusahaan teknologi ByteDance yang berbasis di Beijing. Dan berjanji tidak akan pernah melakukannya, walau diminta.

Bagian baru tersebut hanya sebagian kecil dari kebijakan privasi TikTok. Dalam skala besar, TikTok sebenarnya sudah memiliki banyak data tentang penggunanya, bahkan tanpa data biometrik.

Kebijakan krivasi TikTok secara otomatis telah mengumpulkan informasi tentang perangkat pengguna. Termasuk data lokasi berdasarkan kartu SIM dan alamat IP dan GPS, penggunaan TikTok sendiri dan semua konten yang dibuat atau unggah, metadata dari konten, cookie, aplikasi dan nama file di perangkat, status baterai dan bahkan pola dan ritme penekanan tombol.(*)

Related Articles
Tech
Capai Kesepakatan, Xiaomi Berhasil Lolos dari Daftar Hitam AS

Tech
Cabut Larangan Trump, Biden Bikin Aturan Baru Soal TikTok, Alipay, dan WeChat

Current Issues
Setelah Terus Dikritik, Facebook Bakal Cabut Perlakuan Khusus ke Politisi