Current Issues

Setelah Terus Dikritik, Facebook Bakal Cabut Perlakuan Khusus ke Politisi

Jingga Irawan

Posted on June 4th 2021

Credit: Financial Times

Setelah terus menerus dikritik soal perlakukan khususnya ke politisi, Facebook akhirnya berubah sikap. Facebook berencana mengakhiri kebijakan kontroversialnya yang melindungi politisi dari aturan moderasi konten.

Dilansir dari The Verge, Jum’at (4/6), perubahan yang akan segera diumumkan Facebook tersebut terjadi setelah Dewan Pengawas menegaskan keputusannya untuk tetap menangguhkan akun mantan Presiden Donald Trump. Dewan pengawas juga mengkritik perlakuan khusus yang diberikan Facebook kepada politisi.

Dewan Pengawas merupakan sebuah kelompok independen yang didanai Facebook untuk meninjau keputusan konten yang dianggap melanggar kebijakan. Lembaga tersebut menegaskan bahwa aturan yang sama harus berlaku untuk semua pengguna. Pasca keputusan kasus Trump, Dewan Pengawas memberi Facebook waktu hingga 5 Juni untuk menanggapi rekomendasi kebijakannya.

Facebook juga berencana menerapkan sistem penindakan rahasia yang diberikan pada akun saat melanggar aturan kontennya. Termasuk memberi tahu pengguna ketika mereka menerima peringatan karena melanggar aturannya yang menyebabkan penangguhan.

Sebelumnya, sebuah kabar beredar bahwa Facebook melakukan intervensi untuk menjaga halaman politik agar tidak dikenakan hukuman keras berdasarkan kebijakan penindakan.

Perubahan penting yang harus dilakukan Facebook dikarenakan perusahaan tersebut telah lama menerapkan pendekatan “lepas tangan” untuk “apa yang dikatakan politisi” dalam platform-nya. Eksekutif perusahaan, termasuk CEO Mark Zuckerberg, sebelumnya mengatakan bahwa mereka seharusnya tidak terlibat dalam urusan politisi.

Facebook juga berpendapat bahwa perkataan politisi sudah menjadi yang paling diawasi di dunia dan pasti diperhatikan. Jadi, perusahaan swasta tidak boleh menyensor apa yang dikatakan politisi kepada warganya.

Selama beberapa tahun terakhir, Facebook telah melindungi daftar akun politik yang tidak tunduk pada proses pengecekan fakta atau moderasi konten. Pada 2019, sekelompok karyawan meminta daftar tersebut ditindak, karena penelitian internal menunjukkan bahwa orang-orang cenderung mempercayai kebohongan jika dibagikan oleh pejabat terpilih.

Pada tahun yang sama, wakil presiden urusan global Facebook, Nick Clegg, melakukan pembelaan. Ia mengatakan Facebook akan memperlakukan pidato dari politisi sebagai konten yang layak diberitakan, sebagai aturan umum, harus dilihat dan didengar. Menurut Nick, bukan peran media sosial untuk ikut campur saat politisi berbicara.

Di luar konten yang secara jelas sudah berlabel ilegal seperti pornografi anak, Facebook hanya akan mengambil tindakan terhadap komentar politisi jika komentar tersebut secara kredibel dapat menyebabkan kerusakan fisik. Atau bisa mencegah pemungutan suara.

Pendekatan lepas tangan untuk konten politik menghadapi protes yang intens ketika Trump menggunakan Facebook untuk memicu perpecahan setelah pembunuhan George Floyd. Saat itu Trump malah memuji para pendukungnya ketika mereka mencoba melakukan pemberontakan beserta kekerasan di Gedung Capitol AS pada 6 Januari.

Di India, negara pengguna Facebook terbesar, perusahaan tersebut mendapat kecaman karena tidak melakukan tindakan terhadap komentar kekerasan yang dibuat oleh anggota partai yang berkuasa. Di bawah kebijakan baru untuk politisi, Facebook tampaknya masih dapat menggunakan pengecualian kelayakan berita untuk membiarkan postingan yang seharusnya dihapus.

Setelah serangan di Capitol oleh pengikut Trump, Facebook tanpa batas waktu memblokir akun mantan Presiden AS itu. Namun, Dewan berpendapat bahwa langkah Facebook untuk memblokir akun secara tak terbatas pada Trump tidak benar. Sebab, kebijakan publiknya tidak menjelaskan rincian bahwa perusahaan bisa memblokir akun seseorang tanpa batas.(*)

Related Articles
Current Issues
Belum Satu Bulan Diluncurkan, Blog Donald Trump Ditutup

Current Issues
Donald Trump Beri Selamat Kepada Nigeria Karena Berani Blokir Twitter

Current Issues
Akun Facebook-nya Ditangguhkan 2 Tahun, Donald Trump Ngamuk