Sport

Euro 2020: Di Tangan Mister Roberto Mancini, Italia Hidup Lagi

Mainmain.id

Posted on June 4th 2021

SELURUH Italia tahu betapa hancurnya Negeri Spageti itu ketika Gli Azzurri tak lolos ke Piala Dunia 2018. Pemainnya dikecam habis-habisan, apalagi pelatih. Harian Gazzetta dello Sport malah menyebut sepak bola Italia kembali ke abad kegelapan prestasi. Italia butuh seorang Mister –sebutan pelatih tim nasional– yang punya jiwa renaisans untuk bangkit kembali.

Begitu hebatnya tekanan dan desakan ke pelatih, sampai-sampai banyak yang tidak mau lagi menjadi Mister. Roberto Mancini terpaksa menerima tanggung jawab sebagai Mister itu pada Mei 2018. Pria kelahiran Iesi, Ancona, Italia, 27 November 1964, tersebut menggantikan Gian Piero Ventura.

Tiga tahun kemudian, Mancini telah mengubah sekelompok pemain yang lemah dan berkinerja buruk menjadi pesaing serius untuk Euro 2020. Mengapa Italia disebut pesaing serius? Di bawah imperium Mister Mancini, Italia menciptakan rekor prestisius tidak pernah kalah dalam 25 pertandingan terakhir.

Apa rahasia kebangkitan Gli Azzurri hingga menorehkan rekor luar biasa? ”Bakat muda, semangat, dan kepercayaan,” klaim mantan bos Manchester City Mister Mancini.

Mancini tahu betul Italia punya banyak pemain berbakat. Karena itu, lolos ke Euro 2020, misalnya, adalah sebuah keharusan. Itu label wajib yang jika gagal tidak bisa diterima dengan baik oleh publik Italia.

”Terkadang ada situasi, seperti kehilangan Piala Dunia, tapi saya masih berpikir sepak bola Italia menyediakan beberapa pemain terbaik di dunia. Karena itulah, saya merasa sangat positif memasuki pekerjaan ini. Saya hanya harus menunjukkan keyakinan dan menunggu kedewasaan pemain,” ucap eks striker timnas Italia itu.

Seluruh cetak biru Mancini untuk Italia telah digembar-gemborkan di generasi berikutnya –terutama setelah kekalahan playoff Pala Dunia 0-1 dari Swedia pada 2018 yang memicu serangkaian pengunduran diri dari pemain senior seperti penjaga gawang Gianluigi Buffon, Giorginio Chiellini, Andrea Barzagli, dan Daniele de Rossi.

Kala itu, ibarat buku, Mancini sedikit banyak harus merobek buku tersebut dan memulai dari awal saat ia menyusun kembali kekuatan bola negeri itu bersama sejumlah anak muda Italia.

Kali terakhir Italia gagal lolos ke Piala Dunia terjadi pada 1958. Artinya, seseorang harus berusia lebih dari 60 tahun untuk mengingat turnamen akbar itu tanpa Italiano.

Setelah finis kedua di grup di belakang Spanyol, Italia dipaksa menjalani playoff dua leg melawan Swedia pada November 2017.

Swedia memenangi leg pertama di kandang 1-0 berkat gol Jakob Johansson. Bayangkan, sepanjang permainan, Italia tak ubahnya seperti tim pejalan kaki. Mereka hanya punya satu tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan. Leg kedua, mereka benar-benar mendominasi permainan, dengan 73 persen penguasaan bola. Namun, mereka gagal menemukan gawang lawan. Swedia melaju ke Rusia setelah menahan 0-0.

Pertandingan usai, dunia seperti berhenti berputar. Beberapa pemain pingsan di lapangan. Kiper Buffon berlinang air mata. Giorgio Chiellini menyembunyikan wajahnya dengan kostum biru. Italia benar-benar tersingkir dan tersungkur. Semua yang terlibat di dalamnya seperti ”tersangka” yang terseret masalah hukum. Indeks dan peringkat Italia terjun bebas dari yang semula berkutat di digit satu menjadi 21. Itu peringkat terendah dalam sejarah bola Gli Azzurri lho. Ventura dipecat dua hari kemudian. Hingga tujuh bulan berikutnya, di tangan Mancini, Italia bak mati suri.

Setelah itu, pelan tetapi pasti, Mancini  membangun kembali puing-puing kehancuran tersebut. Italia sudah kembali bersorak girang. Mereka menunggu berita kemenangan demi kemenangan sebelum merebut trofi Eropa itu dari negara Semenanjung Iberia, Portugal, ke bumi pertiwi Italia.

''Saya tidak menyesal untuk diri saya sendiri, tetapi untuk semua sepak bola Italia. Kami gagal pada sesuatu yang juga berarti sesuatu pada tingkat sosial,'' sebut Mancini.

Mancini lantas membentuk kembali kerajaan yang jatuh –dengan dasar yang kuat dari anak-anak muda yang lapar di jantungnya. Mister memanggil Nicolo Zaniolo di skuad pertamanya. Mancini menginginkan pemain yang tahu apa artinya mengenakan kaus biru.

Ia memanggil pemain yang belum pernah dimasukkan ke timnas dari klub papan tengah seperti Verona dan Spezia –dengan lebih dari 30 pemain diberikan caps pertama.

Gianluigi Donnarumma melesat jadi kiper nomor satu. Mister mengintegrasikan bintang muda Federico Chiesa dari Juventus, Nicola Barella dan Stefano Sensi dari Inter, Sandro Tonali dari Milan, dan Moise Kean dari PSG.

Sebagai titik fokus di jantung tengahnya bersama Marco Verratti, dengan Immobile memimpin lini depan dan didukung Lorenzo Insigne dan Federico Bernadeschi. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Related Articles
Sport
Alessandro Florenzi Kembali ke Timnas Italia karena Roberto Mancini

Sport
Marco Verratti Masih Andalan Roberto Mancini di Skuad Italia

Sport
EURO 2020: Dibuka Atraksi Teatrikal Mancini dan Gunes