Lifestyle

Kenapa Orang yang Tinggal di Daerah Panas Cenderung Emosian?

Ternyata ada istilah heat hypothesis.

Kezia Kevina Harmoko

Posted on June 3rd 2021


(Ilsutrasi: Razvan Vezeteu/Dribbble)

Pernah gak sih merasa orang dari daerah tertentu cenderung lebih suka marah-marah dibandingkan orang yang tinggal di daerah yang sejuk? Sebagian orang bawaannya ngegas terus, padahal yang lain bisa santai. Ternyata, fenomena ini sudah sering diteliti dalam ilmu Psikologi dan mencetuskan suatu istilah: heat hypothesis.

Apa itu heat hypothesis?

Intinya, hipotesis ini menyebut bahwa cuaca atau temperatur panas bikin orang gampang beragresi alias merasa marah, kecewa, kesal, pokoknya bad mood. Kondisi panas juga meningkatkan kemungkinan seseorang bertindak kejam.

Alasan di balik heat hypothesis

Chersich et. al. (2019) menyebut bahwa panas berdampak pada kenyamanan seseorang dan kestabilan emosinya. Logis sih, kalau cuaca lagi panas kita cenderung berkeringat dan jadinya gak bisa tenang karena kesal. Berada di lingkungan panas juga bikin kita lebih sensitif dan meningkatkan pikiran agresif, menurunkan emosi positif seperti kebahagiaan dan keceriaan.

Karena cuaca panas, kita cenderung memilih untuk keluar rumah biar mencari angin segar. Nah, di sini menjadi kemungkinan alasan kenapa cuaca panas berpengaruh pada meningkatnya kriminalitas dan kekerasan. Lagi kesal, ketemu orang yang bisa jadi bikin tambah kesal… klop deh.

Di luar itu, cuaca panas juga berpotensi bikin kita dehidrasi. Beberapa dampak dari dehidrasi sendiri adalah gangguan mood, kebingungan, dan kemarahan. Mangkanya penting banget buat stay hydrated~

Fakta-fakta tentang heat hypothesis

Sudah cukup banyak penelitian mengenai heat hypothesis. Misalnya di penelitian yang dilakukan Kenrick dan MacFarlane di tahun 1986 di Arizona, Amerika Serikat. Jumlah suara klakson dibunyikan ternyata semakin tinggi pas cuaca lagi panas. Ditambah lagi kalau si sopir gak punya AC di mobil, mereka lebih sering membunyikan klakson. Pasti paham kan kalau membunyikan klakson tanda gak sabar.

Miles-Novelo dan Anderson (2019) juga memaparkan bahwa negara yang lebih panas punya kasus kriminalitas yang lebih tinggi. Peningkatan derajat temperatur udara juga disertai dengan peningkatan kasus pembunuhan. Kabar “baik”nya, bumi kita sedang mengalami pemanasan global. Mantap bukan?

Kondisi udara yang panas mungkin bukan pendorong utama terjadinya agresivitas, tapi sangat mungkin sebagai faktor pendorong. Misal lagi bokek, terus cuaca terasa seperti neraka lagi bocor, keinginan buat nyolong es teh di kulkas orang bisa jadi lebih tinggi. Jadi, lebih baik buat stay cool (ngadem di mana gitu) dan penuhi kebutuhan cairan tubuh buat menghindari efek negatifnya.(*)

Related Articles
Lifestyle
Sulit Banget Menyelesaikan Tugas, Sebenarnya Depresi atau Malas? Nih Bedanya

Lifestyle
Jangan Terlalu Serius, Ini Alasan Mengapa Humor Juga Penting dalam Hidup

Lifestyle
Tidak Hanya Kesehatan Mental dan Fisik, Kesehatan Digital Juga Penting