Sport

Di Mana Ada Bola, di Situ Ada Kante

Mainmain.id

Posted on May 31st 2021

N’GOLO Kante seperti ada di mana-mana. Ia ada di tengah bagian kiri. Ia ada pula di tengah bagian kanan. Ia ada di depan jantung pertahanan. Ia ada di depan kotak penalti lawan. Itulah kunci rahasia kemenangan Chelsea atas Manchester City di final Liga Champions Minggu dini hari (30/5) WIB.

Peran itu sudah dilakukan semenjak ia tiba di Inggris pada 2015. Ia bermain untuk Leicester City. Di ujung musim, Leicester juara. Momen tersebut bak kisah Cinderella. Dan, kisah itu seperti terulang pada final Liga Champions. Semenjak semifinal melawan Real Madrid, Kante kembali menunjukkan peran vitalnya.

Saat masuk ke pertahanan Chelsea, di mana ada bola, di situ ada Kante. Kalimat tersebut dilontarkan seorang Steve Walsh. Walsh adalah pemandu bakat Leicester City. Ia sosok di balik layar kisah Cinderella Leicester saat tampil sebagai juara Liga Inggris pada 2016. Walsh menemukan tiga mutiara The Foxes, yaitu Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan N’Golo Kante. "Kami memainkan Danny Drinkwater di lini tengah dan N’Golo Kante di kedua sisinya," kata Walsh.

Rasanya seperti itu dengan Kante. ”Ia di sini! Ia di sana! Ia ada di mana-mana! N’Golo! N’Golo!” raung 6.000 fans Chelsea secara berkala sepanjang pertandingan. Kante mungkin tidak sepenuhnya menyetujui bahasa tersebut lantaran sebagai seorang muslim yang bersahaja dan bersuara lembut. Ia pasti akan memahami dan menghargai sentimen tersebut.

Pelatih City Pep Guardiola sebetulnya sudah berupaya maksimal. Ia coba-coba mengisolasi Kante dari rekannya yang lain. Kante bukanlah burung yang terkurung dalam sangkar. Ia ke luar dengan cerdas dan langsung memberikan tekanan klasik yang konstan kepada City.

Saat perayaan kemenangan, ada beberapa akting cemerlang yang indah. Kurt Zouma, misalnya, mengangkat Kante dan berlari-lari sambil menggendongnya seolah-olah gelandang mungil itu baru saja tiba dari Caen, Prancis.

Tidak ada yang tahu kisah masa lalunya. Kante biasa melakukan perjalanan ke tempat latihan di Boulogne dengan skuter sebelum pindah ke Caen. Di Leicester Kante punya mobil tua butut yang sudah rusak. Ketika ia datang ke Chelsea, idenya sederhana saja. Ia membeli sebuah Mini Cooper. Mobil baru memang, tapi masih tampak kecil saat diparkir di samping semua Overfinch Range Rovers. ”Kante tak kenal lelah dalam penampilan,” kata Thomas Tuchel memuji gelandang bertahan yang lahir pada 29 Maret 1991.

Dari kehilangan pengalaman Thiago Silva hingga cedera di babak pertama, dengan Andreas Christensen masuk dan nyaris tidak melakukan kesalahan, ada kesatuan dan struktur pada Chelsea yang dicontohkan Kante. Ia adalah pemenang Piala Dunia bersama Prancis, juara Liga Premier dua kali, juara Piala FA, juara Liga Europa, dan sekarang juara Liga Champions. Belum pernah ada seorang pemain pun yang bisa mengumpulkan semua trofi utama sepak bola Inggris dan dunia.

Pemain Chelsea yang lain, sebut saja Antonio Rudiger, juga lumayan vital perannya. Pemain asal Jerman itu sempat di-bully ketika mantan pelatih Frank Lampard meninggalkan Stamford Bridge. Rudiger dianggap salah satu biangnya.

Namun, Minggu pagi kemarin, mereka harus merenung ulang. Tidak ada yang bermain dengan hati lebih dari Rudiger. Bloknya pada menit 28 untuk menggagalkan upaya Phil Foden membuat Pep Guardiola dan Manchester City patah hati.

Rudiger pernah berbicara soal masa kecilnya di perkebunan Neukolln di Berlin. Ia cuma anak seorang pengungsi perang dari Sierra Leone, Afrika. Ia membangun pijakan yang lebih besar dalam kehidupan Jerman untuk orang tuanya. Ia berbicara tentang rasisme dan prasangka. Ia meninggalkan rumah pada usia 16 tahun untuk membangun kehidupan baru. Rudiger menderita musim ini. Ia berulang-ulang melewati pelecehan rasial dari pendukung Chelsea sendiri, terutama di media sosial. Adegan penyelamatan itu adalah penebusannya yang setimpal. ''Perjuangannya sangat besar. Kami mengalami beberapa momen berbahaya  setelah Thiago Silva keluar,'' ucap Tuchel.

Tidak ada yang lebih berani dari Mason Mount, seorang anak muda yang bermain dengan joie de vivre (menikmati hidup dengan bahagia dan semangat) yang melampaui usianya. ''Di sekelilingnya kami menyaksikan para pemain berpengalaman Manchester City, pemain internasional berpengalaman, yang tampak bingung dengan kesempatan itu. Mount hanya melakukan apa yang ia lakukan sepanjang musim,'' sebut pelatih kurus yang kini sudah menggenggam sembilan trofi di tangan. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Artikel Terkait
Sport
Jelang Final Liga Champions, Siang Malam Ederson Asah Tendangan Penalti

Sport
Tebas Masa Honey Moon Tuchel

Sport
Jelang Final Liga Champions 2020/2021: Sejarah Berpadu ke Biru Laut