Portrait

Nuke Tri Saputra, Melepas Raket Tenis untuk Menggapai Ring Basket

#BreakingTheBarrier (2)

Mainmain.id

Posted on May 9th 2018

 

Ini cerita tentang pemain basket muda professional. Diumurnya yang masih sangat muda, dia mendapatkan nominasi penghargaan di liga basket professional Indonesia. Bukan cuman satu, melainkan dua! Namanya tercatat sebagai nominator kategori Most Improved Player of the Year dan Most Valuable Player.

Dia adalah Nuke Tri Saputra.

“Aku inget banget. Dulu waktu masih SMP, ketika aku ikut ekstra kurikuler basket, temen-temenku udah pada bisa main basket.  Sedangkan aku belum. Aku disuruh latihan sendiri di pinggir lapangan. Cuman boleh dribble aja,” ujar Nuke yang merupakan punggawa tim profesional Pacific Caesar.

Berlatar dari keluarga tennis, Nuke membuat sebuah keputusan besar. Dia pindah haluan. Dari tenis ke basket. Hal itu dilakukan semata karena dia merasa raket tenis bukanlah isi hatinya.

“Aku sempet putus asa karena bingung harus olahraga apa lagi. Aku nggak bisa berkembang di olahraga tenis. Tapi orang tua juga melarang main basket, karena keluargaku yang berdarah tennis,” tuturnya. Pada akhirnya pun Nuke memutuskan untuk tetap bermain basket.

Awal mula dirinya berkenalan dengan basket pun terbilang unik. Kala itu Nuke dan adiknya sedang bersepeda dan mampir ke GOR Joyokusumo di Pati, Jawa Tengah. Ia pun sengaja duduk dan melihat orang-orang bermain basket.

“Tiba-tiba ada anak yang main basket nyamperin dan bilang, ‘ayo le ikut’,” kenangnya.

Berawal dari pertemuan tersebut, Nuke kecil dan adiknya pun tertarik untuk ikut ekstrakurikuler basket di sekolah mereka, SMP Negeri 1 Pati. Dari sana, ia pun makin ketagihan dan selalu semangat untuk bermain basket di sekolahnya. Puncaknya, ia ikut seleksi Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), sebuah mes pembinaan basket, di Semarang.

Gagal.

Nuke nggak menyerah. Ia mencoba peruntungannya dengan join seleksi kedua. Gayung bersambut. Nuke dinyatakan lolos seleksi dan melanjutkan karir basketnya di Semarang.

“Waktu SMA, aku terinspirasi banget dengan kakak kelasku, kak Idos. Ia berhasil lolos skuad DBL selection dan berangkat ke Australia,” ujar Nuke. Dari sana, Nuke pun terus menembus batasnya dengan latihan keras. Bahkan, saking kerasnya latihan yang dilakukan, Nuke sempat mengalami bengkok di tulang hidungnya.

Dia harus istirahat. Empat minggu dihabiskannya untuk pemulihan.

Di saat proses pemulihan tersebut, Nuke mendapat cobaan kedua.

Ibu kandungnya meninggal dunia.

“Aku drop. Drop banget…”

“Tapi, aku nggak mau pencapaianku cuman sampai sini aja. Aku nggak mau berhenti. Setelah kejadian berat itu, aku bangkit dan mengejar latihanku yang sempat terhenti,” sambung Nuke.

Dengan tekadnya yang membara, Nuke terus berlatih. Dia selalu menunjukkan yang terbaik di setiap pertanding. Nuke dan timnya sukses menjadi salah satu tim yang disegani di Semarang, termasuk dalam ajang Honda DBL 2012 Central Java Series, walau belum mampu menjadi juara.

Meski demikian, sosok Nuke begitu spesial. Skill, attitude, dan akademiknya sama-sama baik. Bukan hal yang aneh bila akhirnya dia berhasil terpilih menjadi skuad Honda DBL All-Star 2012.

“Rasanya bangga dan sedih. Bangga karena aku bisa meraih mimpiku jadi skuad Honda DBL All-Star. Sedihnya, kenapa kok pas kayak gini Mama nggak ada. Padahal aku pengen banget banggain Mama,” ujar Nuke.

Kini, di usianya yang genap berusia 23 tahun pada 1 Maret lalu, Nuke sudah menjadi pemain basket profesional dan merengkuh banyak penghargaan.

 “Karena aku punya mimpi, akupun menembus semua tembok penghalangku dan bisa jadi seperti sekarang. I’m breaking my barrier!” tutup Nuke. (*)

Related Articles
Sport
Profil Delapan Pemain DBL Yang Diundang ke Jr. NBA Indonesia Camp

Sport
NBA Undang Delapan Pemain DBL Berbagi Inspirasi

Sport
Karena Slam Dunk, di-Follow Lebih Dari Seribu Akun Dalam Sehari