Cerpen

Siapa Yang Seharusnya Sadar?

Hafizh Pratama

Posted on September 7th 2018

“Menurutmu aku berubah?” Tanyamu mengalihkan fokusku yang dari tadi terpantek ke layar ponsel.

            Terus terang aku ingin mengiyakan. Namun bibir seperti terkunci dan leher mendadak kaku. Alhasil, hanya batinku yang dengan lantang menyeru: Ya! Kamu tidak lagi seperti yang dulu kukenal. Kemana kamu yang ceria, tak selalu menyimpan curiga, dan menyimpan senyum seindah senja?

            “Hei, aku tanya. Kok diam aja?” Kamu kembali mendesakku dengan pertanyaan yang tak ingin kujawab.

            Bagaimana kalau kuutarakan gelisahku ini? Akankah hujan yang turun di luar berpindah ke pipimu? Cukup sudah perasaan ini membuatku merasa bersalah dalam sunyi. Jangan kau tambah lagi. Tolong.

“Ng...nggak kok. Kenapa sih harus tanya begitu? Kamu yang sekarang ya sama aja kayak kamu yang dulu,” jawabku sok tenang.

Palsu. Jawabanku sama palsunya dengan kamu. Tapi, kenapa pula aku harus jujur kalau kepalsuan bisa menyamarkan kesedihan?

            “Tapi kamu yang berubah,” lontarmu seketika mengguncang semestaku.  “Maksudmu?”

            “Aku kangen kamu yang dulu. Yang lebih punya banyak perhatian, yang nggak pernah bosan mendengarkan uneg-unegku, yang selalu peduli sama mauku. Kamu sekarang kayak orang lain. Dingin.”

            Hujan di luar, petir di telingaku.

            “Ya dinginlah, di luar kan lagi hujan.”

            “Nggak lucu. Itu bukan kamu banget.”

            Aku berusaha tersenyum mendengar protesmu. Getir. Ingin rasanya mengingatkanmu tentang telepon-teleponku, pesan-pesan singkatku, waktuku yang terus terbagi mengikutimu ke sana-kemari tapi kamu lebih memilih larut dalam duniamu sendiri.

            Ingin rasanya memberitahumu kalau aku pun ingin didengar. Uneg-uneg apa yang kamu ceritakan padaku? Semua darimu adalah keluh-kesah, repetan, umpatan, bosan! Beritahu aku bagaimana bisa tetap peduli kalau tingkahmu begini?

            Aku menghela napas panjang. “Pulang, yuk. Aku ngantuk.”

            “Kamu benar-benar nggak peduli lagi sama aku! Kamu egois! Kamu berubah!” Kamu mulai drama. Kau tarik-tarik ujung jaketku, berusaha menahanku.

            Aku berbalik. Menatapmu yang mulai menunduk dan sepertinya sedang bersiap-siap menumpahkan air mata entah berapa liter.

            “Kalau kamu nangis di sini, kita nggak akan pulang. Aku akan menahanmu di sini. Sampai besok. Selamanya pun aku tidak keberatan.”

            Kamu berhenti terisak. Dan entah kenapa, masih saja tangan ini mau keluar dari saku. Terulur padamu, demi bisa mengelus lembut rambut panjangmu.

            “Masih sedih?”

            Kamu yang masih menunduk, menggeleng pelan.

            “Masih ngerasa aku berubah?”

            Tetap menunduk, kamu mengendikkan bahu. Sedangkan aku, kembali menarik napas panjang.

            “Pulang?” tanyaku sehalus mungkin. Kuhapus air mata yang sempat mengalir di pipimu. Kamu akhirnya mau mengangkat wajah dan tersenyum samar.

            Kutatap dalam-dalam mata sayumu. Setelah kejadian ini, masih bisakah kita bersenda gurau seperti biasa? Masih mungkinkah kita kembali menelusuri jalan dan mendatangi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi bersama? Masih maukah kamu menikmati es krim bersamaku? Masih adakah...kita?

            Aku berusaha tersenyum saat menggandengmu pergi. Meski tahu senyumku ini tak pernah lagi sama, aku tetap memaafkanmu. Atas kebodohan-kebodohan ini. Atas kebodohan-kebodohan kita yang tak pernah terucap.

Related Articles
Cerpen
Lima Belas Cupcake Pertama

Cerpen
Di Lapangan Saat Aku Menyadari Kamu

Cerpen
Ikhlas Tanpa Batas