Portrait

Spanduk Pecel Lele yang Seragam Ternyata Ada Sejarahnya, lho!

Jingga Irawan

Posted on May 29th 2021

Hartono, seorang pelukis spanduk Pecel Lele (Via Sumut Invest)

Pamor pecel lele sekarang ngalahin viralnya gosip artis Ibu Kota, gengs. Dari Sabang-Merauke semuanya lagi getol ngomongin makanan ini di media sosial.

Kejadiannya bermula dari video yang diunggah seorang remaja wanita di platform TikTok. Wanita tersebut mengeluh karena harga pecel lele di Yogyakarta mahal banget. Bahkan, ia mengaku harus bayar terpisah untuk nambah lalapan. Respons pun berdatangan. Ada yang setuju dengan si mbak karena punya pengalaman serupa. Ada pula yang julid.

Pecel lele atau pecek lele adalah makanan khas Lamongan, Jawa Timur, yang amat legendaris di Indonesia. Hampir di setiap daerah, pasti kalian nemuin setidaknya ada satu penjual pecel lele dengan spanduk khas-nya itu.

Tanpa kalian sadari, spanduk tenda-tenda PKL yang jual pecel lele tersebut hampir semuanya sama lho, gengs. Seakan ada pakemnya, mulai dari font, warna, hingga jargon “Khas Lamongan” nya yang nggak pernah ketinggalan ditulis itu.

Spanduk biasanya digunakan sebagai alat promosi bagi para pemilik warung. Dan berfungsi untuk penutup gerobak. Namun, spanduk pecel lele nggak hanya berguna untuk mengenalkan makanan saja. Lebih dari itu, spanduk khas tersebut punya sejarah, identitas sosial bahkan alat komunikasi non-verbal.

Maestronya adalah Pak Hartono. Pada awal tahun 1990-an, pria berusia 50 tahun asal Lamongan itu membuka warung pecel lele di Jakarta dan butuh spanduk untuk warungnya. Saat itu Hartono ingat bahwa ia punya teman yang berprofesi sebagai pelukis spanduk. Datanglah Hartono pada temannya, untuk minta dibikinkan spanduk pecel lele.

Namun, bukannya senang, teman Hartono itu justru menolak membuatkannya spanduk, karena tahu Hartono punya bakat melukis, ia disuruh untuk bikin spanduk sendiri, gengs. Akhirnya, Hartono membuat spanduk sendiri yang pakemnya mengikuti warna-warna stabilo. Agar eye-catching dan menarik perhatian pelanggan ketika malam hari. 

Selain untuk menarik perhatian, spanduk pecel lele juga difungsikan sebagai daftar menu, lho. Itu lah mengapa ada gambar-gambar hewan yang merepresentasikan makanan sang penjual. Mulai dari ikan lele, kemudian berkembang ada ayam hingga bebek.

Ternyata oh ternyata gengs, spanduk yang dilukis Pak Hartono itu diikuti oleh mantan karyawannya yang juga buka warung pecel lele. Dari situ lah, spanduk khasnya itu mulai menarik perhatian banyak orang.

Ia kemudian disarankan seorang teman untuk menjadikan pelukis spanduk sebagai pekerjaan utama. Pak Hartono sempat ragu, karena spanduk lukis bisa tahan sampai tahunan gengs. Ia nggak yakin akan banyak peminatnya. Akhirnya, ia memasang target untuk membuat 700 spanduk sebagai patokan. Setelah 14 tahun lamanya, target tersebut baru terpenuhi. Dan Hartono, memutuskan menutup warung pecel lelenya.

Pak Hartono kini sukses beralih profesi menjadi pelukis spanduk Pecel Lele. Bahkan, saat ini penjual pecel lele di seluruh Indonesia berdatangan untuk pesan spanduk lukis pada Pak Hartono. Ada yang dari Kalimantan, Sulawesi hingga Bali, keren banget kan!

Spanduk lukis sebenarnya sudah eksis sejak akhir 1970-an. Meskipun kini sudah ada banner, spanduk lukis masih terus dipakai oleh sebagian besar PKL di seluruh negeri. Selain karena identitas dan tradisi, spanduk lukis tidak mudah rusak dan tahan lama. (*)

 

Related Articles
Opinion
Kenapa Pilih Brand Luar, Kalau Yang Lokal Sudah Mengglobal?

Portrait
Berkenalan Dengan Tirto Adhie Soerjo, Jurnalis Pertama Indonesia

Portrait
31 Maret Isaac Newton Meninggal, Ini 5 Fakta yang Mungkin Belum Kalian Tahu