Current Issues

Mimpi itu Pertanda, Benarkah?

I Kadek Wira Aditya

Posted on September 7th 2018

Beberapa hari ini saya sempat mengalami kesialan. Kehilangan motor rasanya seperti kehilangan pacar yang abis diputusin, sedih. Eits, tapi bukan itu point pentingnya. Hari sebelum motor saya hilang, ibu saya bercerita kalau dirinya sempat mendapatkan pertanda lewat mimpi kalau bakal terjadi sesuatu (ya sebut saja kesialan). Sedikit merinding memang mendapatkan cerita itu dari ibu secara langsung. Lantas, saya pun berpikir kalau mimpi punya semacam “rahasia” di balik itu. Mungkinkah mimpi adalah pertanda bagi orang yang mengalaminya ?

Akhirnya saya menemukan jawabannya yang saya baca di situs Pscyhologytoday yang ditulis oleh seorang psikolog konseling dari Santa Clara University. David B Feldman namanya. Hubungan antara mimpi dan “pertanda” sebenarnya sudah ada sejak zaman Mesir Kuno pada 1279-1213 SM (masa Raja Ramses II).  Saat itu, orang yang memiliki mimpi yang “jelas pertandanya” dianggap diberkati sebagai orang yang memperoleh “pertanda”. Mimpi dipercaya sebagai salah satu cara terbaik untuk menerima “pertanda” dari dewa-dewa yang dipercayai oleh masyarakat Mesir Kuno.

Penjelasan lebih lanjut soal itu, kemudian dijelaskan secara ilmiah oleh pakar psikoanalisis, Sigmund Freud (abad ke-19) dan Carl Jung (abad ke-20). Mereka menyimpulkan bahwa mimpi merupakan gambaran tentang cara kerja pikiran (batin). Ketika pikiran sadar kita tertidur, pikiran bawah sadar kita menghasilkan gambar yang dapat memberi gambaran khusus ke dalam diri kita yang terdalam. 

Terlepas dari apakah mimpi meramalkan masa depan, untuk memahami arti mimpi, kita harus menafsirkannya seolah-olah ditulis dalam kode rahasia (ya bisa dibilang sebagai “pertanda”). Kalau kamu pernah browsing seputar mimpi yang pernah kamu alami (seperti tafsir mimpi misalnya), mimpi memiliki artinya masing-masing. Contohnya saat tidur mendapatkan mimpi gigimu semua copot, “pertanda” kalau dirimu sedang tidak percaya diri. Tapi bagaimana jika tidak ada kode rahasia, dan kamu hanya menghabiskan waktu membaca banyak tafsiran yang berbeda artinya dari berbagai sumber ? Bagaimana jika mimpi sebenarnya tidak berarti apa-apa?

Itulah kesimpulan yang ditarik oleh beberapa ahli saraf modern, yang percaya bahwa mimpi hanyalah efek samping atau hasil dari aktivitas saraf. Psikiater asal Harvard University, J. Allan Hobson dan Robert McCarley contohnya, berpendapat kalau berbagai sirkuit otak menjadi aktif pada malam hari, kemudian memicu sensasi, emosi, dan ingatan, yang semuanya pada dasarnya bersifat acak. Nah, mengingat bahwa manusia makhluk yang membuat makna, otak kita mengumpulkan semua aktivitas yang mendasari ini menjadi sebuah cerita. Tetapi cerita ini sebenarnya tidak berarti apa-apa. Ini hanyalah hasil dari aktivitas saraf yang telah terjadi secara biologis. Itulah mengapa mimpi tampak tidak masuk akal dan aneh.

Yang terpenting, Salah satu alasan utama kita tidur adalah membiarkan otak mengkonsolidasikan dan mengatur ingatan kita. Singkatnya otakmu perlu membersihkan ingatan yang tidak perlu dan menyimpan ingatan lainnya (secara sengaja atau tidak sengaja kamu ingat). Penelitian lain juga menunjukkan, bahwa ingatan orang tentang tugas yang baru-baru ini dipelajari ketika di kelas akan meningkat setelah tidur. Sebaliknya ingatan mereka akan terganggu jika tidurmu juga terganggu. Itu sebabnya orang tua dan guru sering mendorong pelajar untuk tidur nyenyak sebelum mengikuti ujian.

So, kamu bakal meyakini yang mana soal mimpi ? Saya sih meyakini kalo mimpi tentang dia, berarti dia lagi kangen sama saya~

Related Articles
Current Issues
Kenapa sih Rindu Itu Berat?

Current Issues
Di Amerika, 4 Tempat Ini Sering Dikunjungi Sebelum Seseorang Tertular Covid-19

Current Issues
Meski Sepele, Tiga Hal Ini Penting Untuk Menjaga Sistem Imun Bekerja Optimal