Sport

Jelang Final Liga Champions 2020/2021: Sejarah Berpadu ke Biru Laut

Mainmain.id

Posted on May 29th 2021

BIRU langit dan biru laut jadi warna wajib di final Liga Champions 2020/2021. Manchester City melawan Chelsea juga disebut-sebut sebagai All England final di Estadio do Dragao, Porto. Partai akbar Liga Champions itu ditayangkan langsung oleh SCTV pada Minggu (30/5) dini hari, pukul 02.00 WIB.

Ada sebuah kontradiksi yang layak jadi  bumbu penyedap pertarungan itu. Kontradiksi tersebut adalah status yang melekat di klub dan sang pelatih. Manajer Manchester City Pep Guardiola pernah dua kali naik podium juara Liga Champions bersama Barcelona pada 2009 dan 2011. Tetapi, kali ini klub asuhan Guardiola menjadi pendatang baru di arena itu.

City baru sekali ini melaju ke final Liga Champions. Keadaan tersebut justru sebaliknya dengan Manajer Chelsea Thomas Tuchel. Ia belum pernah mengangkat Si Kuping Besar. Tahun lalu Tuchel sudah begitu dekat, tetapi klub asuhannya, Paris Saint-Germain, akhirnya kalah 0-1 dari Bayern Munich di final. Namun, The Blues –sebutan Chelsea– pernah sekali juara pada 2012.

Yang juga menarik, final liga Champions itu akan disaksikan 16.500 penonton setia di tribun yang dibagi rata antara kedua klub. Chelsea yang mentereng dan ''hedonis'' kalah glamor dari City. Mengapa? Di saat klub-klub lain megap-megap karena kondisi keuangannya yang minus akibat terjangan Covid-19, manajemen City justru menanggung semua akomodasi fansnya ke Porto. Luar biasa kan.

Barcelona, ​​Bavaria, Manchester, semuanya sudah ditaklukkan Pep Guardiola. Kini Pep tengah berada di ujung tantangan untuk menaklukkan ujung barat Semenanjung Iberia.

Dominasi City di kancah Piala EFL tidak tertandingi, kemenangan gelar Liga Premier kelima baru saja terukir, kini Pep memburu gelar ketiga yang lebih prestisius. Kalau trofi itu bisa didapatkan, ia bisa berdiri sejajar dengan Bob Paisley, Carlo Ancelotti, dan Zinedine Zidane. Tiga pelatih fenomenal itu sudah tiga kali merengkuh trofi antarklub elite Benua Biru.

Akuisisi yang cerdik dari Ruben Dias dan peningkatan tajam penampilan John Stones membuat lini belakang City ibarat tembok tebal yang kokoh dan sulit ditembus tim mana pun. Kehebatan Guardiola kini seolah-olah sudah melegenda, bahkan menjadi folklor manis di kalangan top manajemen antarklub di Eropa.

Seperti halnya Pep Guardiola, Thomas Tuchel adalah tipe pelatih yang perfeksionis. Semua detail tanggung jawabnya dilakukan dengan sangat teliti. Di awal kedatangan, para pemain Chelsea kerap kebingungan dengan kebiasaan Tuchel. Ada sedikit saja yang salah dengan pemainnya, langsung mendapatkan teguran dari sang mentor.

Untung, ada Thiago Silva yang kemudian memberi tahu rekan-rekannya soal perfeksionsime seorang Tuchel. Pengalamannya selama bersama Tuchel di Paris Saint-Germain berperan sangat penting untuk adaptasi pemain dengan pelatihnya. Tuchel berjanji membongkar dengan sempurna tembok penghalang yang sulit ditembus tim mana pun, baik di Inggris maupun Liga Champions. Dan, Tuchel tidak khawatir. Ia punya seribu satu kiat untuk melumpuhkan Guardiola seperti yang dilakukan bulan lalu.

Tuchel juga sedikit lega karena Chelsea sudah mendapatkan tempat kontinental untuk musim depan. Karena itu, kalaupun Chelsea kalah, dewan direksi The Blues tidak akan kebakaran jenggot dengan kekalahan.

Tuchel dianggap masih beradaptasi dengan timnya. Baru musim depan Tuchel mendapatkan tantangan dari manajemen untuk menjadi penguasa Liga Inggris dan Eropa sekaligus. Manajemen Chelsea juga angkat topi dengan Tuchel yang menjadi manajer pertama dalam sejarah yang mencapai final Liga Champions dua tahun berturut-turut dengan dua klub berbeda.

Namun, apa pun yang terjadi selama 90 atau 120 menit –atau bahkan tendangan penalti dengan 22 gol– di Estadio do Dragao, satu hal yang pasti: trofi Liga Champions kembali ke tanah air Inggris.

Bos Man City Guardiola sekali lagi memiliki tugas yang tidak menyenangkan saat memilih skuad yang sepenuhnya fit untuk final dini hari nanti, mesin golnya musim ini, Ilkay Guendogan sudah benar-benar fit.

Karena itu, ia harus mengisi lini tengah bersama Bernardo Silva. Diharapkan keduanya bisa memperpanjang rekor tak terkalahkan City di Liga Champions menjadi 27 pertandingan.

Joao Cancelo tidak terlihat saat melawan Everton dan menghadapi perjuangan berat untuk menggantikan Oleksandr Zinchenko di sisi kiri, dengan Kyle Walker dijamin akan memulai di sisi kanan.

Guardiola kembali meninggalkan pemain nomor 9. Dengan demikian, City akan bermain dengan false nine. Strategi itu terbukti ajaib karena belum tersentuh kekalahan.

Aguero di bangku cadangan memungkinkan Kevin de Bruyne berfungsi sebagai false nine dengan Foden dan Mahrez bersamanya. Foden menjadi pemain Inggris termuda ketiga yang tampil sejak peluit pertama di final Liga Champions.

Tuchel agak kelimpungan belakangan setelah kiper pilihan pertama Edouard Mendy harus diganti pada babak pertama saat melawan Aston Villa gara-gara menabrak tiang gawang.

Tuchel optimistis Mendy bisa mengenakan sarung tangan akhir pekan ini dan N'Golo Kante juga diharapkan fit meski absen pada hari terakhir musim Liga Premier karena masalah paha.

Kartu merah Cesar Azpilicueta di Villa Park dibatalkan, meski itu tidak akan memengaruhi partisipasinya di final, dan pemain Spanyol itu harus mengambil tempat yang selayaknya di tiga bek bersama Thiago Silva dan Antonio Rudiger.

Mateo Kovacic yang fit akan kembali menggeser Jorginho ke bangku cadangan setelah memainkan peran kecil dalam kesuksesan Real Madrid di Liga Champions sebelumnya, dan Kante seharusnya cukup sehat untuk mengisi ruang tengah itu.

Mount tidak tersentuh di tiga trio lini depan. Tuchel memiliki dua kandidat di lini depan itu. Timo Werner dan Kai Havertz mungkin kembali dipercaya diturunkan.

Dalam perspektif sejarah pertandingan, final Liga Champions dini hari nanti adalah pertemuan ke-169 antara Man City dan Chelsea di semua kompetisi. The Blues mengoleksi 70 kemenangan jika dibandingkan dengan 59 kemenangan milik The Citizens.

Artinya, sejarah dominan berpihak ke biru laut milik Chelsea, bukan biru langit kepunyaan City. 

Tuchel mengalahkan Guardiola di semifinal Piala FA sebelum menyaksikan kesuksesan 2-1 di Etihad awal bulan ini, walaupun absennya Panenka yang lucu dari Aguero berkontribusi pada kejatuhan City pada hari itu.

Terlepas dari hukumannya yang lemah, calon penyerang Barcelona, yakni Sergio Aguero, telah mencetak 15 gol dalam 22 pertandingan melawan Chelsea untuk City. Kedua klub belum pernah bertemu di Eropa sejak Piala Winners 1970/1971. Kala itu Chelsea mengalahkan City. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

 

Prediksi Line-up

Manchester City:

Ederson, Walker, Dias, Stones, Zinchenko, Fernandinho, Guendogan, Silva, Mahrez, De Bruyne, Foden

Chelsea:

Mendy, Azpilicueta, Silva, Rudiger, James, Kovacic, Kante, Chilwell, Mount, Werner, Havertz

 

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Related Articles
Sport
Jelang Final Liga Champions, Siang Malam Ederson Asah Tendangan Penalti

Sport
Di Mana Ada Bola, di Situ Ada Kante

Sport
Tebas Masa Honey Moon Tuchel