Interest

Jalan Panjang Menemukan "Nenek Moyang" Semangka, Ternyata Asalnya Dari...

Dwiwa

Posted on May 25th 2021

(Pixabay)

Mungkin di luar bayangan kita jika ada sebuah penelitian yang memfokuskan diri mencari asal-usul semangka. Penting banget gak sih? Dalam dunia pendidikan tentu hal ini penting.

Nah, lewat sebuah penelitian, asal usul semangka ini kini mungkin sedikit lagi bisa terpecahkan. Dilansir dari Gizmodo, sebuah penelitian terbaru telah mengidentifikasi kemungkinan asal usul buah dengan nama latin citrinus lanatus vulgaris itu. Dalam penelitian itu disebutkan bahwa melon Sudan -yang selama ini dikenal dengan kordofan- merupakan "nenek moyang" buah bergaris hijau yang ikonik itu.

Selama ini orang banyak tahu bahwa semangka merupakan tanaman asli Afrika. Tetapi kapan, di mana, dan bagaimana semangka ini bisa menyebar hingga menjadi buah yang kita kenal sekarang ini, semuanya masih menjadi misteri bagi ahli botani.

Baru dalam sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan Proceedings of the National Academy of Sciences, misteri ini mulai terkuak. Penelitian ini sekaligus menindaklanjuti kerja bertahun-tahun pada biogeografi pada genus melon, Citrillus.

Penulis utama penelitian ini adalah Susanne Renner. Dia seorang botanis di Universitas Munich. Renner mengatakan, selama ini ada pemikiran salah terkait asal-usul semangka. Termasuk mengenai pernyataan bahwa semangkat berasal dari empat spesies liar dan semangka manis berasal dari Afrika Selatan.

Pernyataan Renner sendiri dikuatkan oleh penelitian salah satu siswanya yang sudah lulus, Guillaume Chomicki. Chomicki pernah melakukan pengurutan DNA dari spesimen semangka berbeda di seluruh Afrika.

Chomicki menemukan jika semangka di sisi selatan Afrika -yang dicurigai sebagai "nenek moyang"-nya- hanyalah saudara jauh. Bahkan Chomicki -yang saat ini menjadi botanis di Universitas Sheffield Inggris- telah memastikan salah jika "nenek moyang" semangka disebut berasal dari Afrika Selatan.

Temuan yang menyatakan bahwa melon berasal dari Afrika Selatan bermula dari seorang botanis swedia, Carl Linneaus. Pada 1753, Linneaus menemukan varietas baru di dekat Cape Town, yang kemudian diberi nama citrullus lanatus. Sekitar 150 tahun kemudian, seorang ahli botani Amerika menggabungkan temuannya dengan nama yang sama.

Semangka dan "nenek moyang"-nya bukanlah jenis makhluk yang menjadi fosil. Inilah yang selama ini menjadi kendala untuk menemukan asal muasal buah ini. DNA tertua dalam makalah terbaru ini sendiri berasal dari daun semangka yang berusia 270 tahun. Daun itu diawetkan di herbarium.

Tim peneliti ini kemudian juga melakukan penanaman sampel dari semua spesies semangka dan menumbuhkannya hingga matang di rumah kaca di Munich, Jerman serta Ithaca, New York. Mereka kemudian secara genetik mengurutkan sampel semangka tersebut. Lalu membandingkannya dengan DNA yang diekstrak dari buah liar di Sudan, yang bernama melon kordofan.

Para peneliti menemukan sekitar 16 ribu varian struktural genetik antara kedua tanaman itu, semangka dan melon kardofan. Dari sana peneliti memetakan perbedaan tersebut ke sifat spesifik setiap buah.

Peneliti menemukan bahwa semangka tampaknya menjadi lebih manis sebagai produk domestikasi. Meskipun mungkin telah kehilangan kepahitan sebelum dibiakkan, karena buah Kordofan juga tidak pahit.

Sebenarnya, dulu para pembiak tanaman di era Perang Dingin juga mencatat kemungkinan bahwa tanaman Kordofan adalah "nenek moyang" semangka. Melon Kordofan sendiri lebih kecil dari semangka yang dibudidayakan. Buah ini juga tidak terlihat memiliki garis dan interior merah cerah, seperti semangka.

Berdasarkan jangkauan Kordofan di timur laut Afrika, masuk akal perkembangan semangka terjadi di wilayah yang sama. Tetapi, tim peneliti juga mencatat kemungkinan bahwa semangka dibiakkan di Afrika barat, lalu dibawa ke Afrika timur.

"Berkat ikonografi kami sebenarnya tahu semangka besar yang panjang pernah dimakan mentah pada 4.360 tahun lalu. Tapi saat itu gambarnya adalah buah utuh. Oleh karena itu kami tidak tahu apakah warnanya di dalamnya sudah merah atau tidak," kata Chomicki.

Tanpa bukti material, para peneliti mengandalkan kombinasi penelitian genetik dan konteks sejarah. Sampel melon yang digunakan tim berasal dari Darfur, yang dulu bernama Nubia. Renner mengatakan, ada kemungkinan tanaman itu dibudidayakan di Nubia dan kemudian berpindah ke Sungai Nil melalui perdagangan.

Menurut Renner, kemungkinan melon berubah secara independen dari pertanian manusia, berdasarkan banyak perubahan pada tingkat genetik antara 4.000 dan 6.000 tahun yang lalu. Bahkan saat ini, ada bukti untuk tahapan perubahan dari Kordofan ke semangka.

"Pada tahun 1800-an, adalah hal umum menemukan semangka berdaging putih di AS. Tetapi karena perkembangan di perusahaan pertanian dan permintaan publik, semangka dibiakkan hampir tidak seperti pendahulunya,” jelas Renne. Beberapa semangka seperti itu (berdaging putih) masih ada meskipun tidak akan ditemukan di toko bahan makanan pada umumnya.

Saat ini, tim peneliti juga sedang memeriksa DNA dari biji melon purba untuk mencari tahu lebih banyak. Selain itu, para peneliti juga menemukan bahwa semangka yang dibiakkan telah kehilangan beberapa gen karena kebutuhan untuk ketahanan terhadap penyakit yang dipertahankan melon kordofan.(*)

Related Articles
Lifestyle
Tak Cuma Segar, Ini Loh 6 Manfaat Baik Semangka Buat Kesehatan


Interest
7 Buah Anti-Dehidrasi ini Baik Dikonsumsi Saat Puasa!