Lifestyle

Hedonic Treadmill, Kondisi yang Bikin Kita Gak Bisa Lama Rasakan Bahagia

Kezia Kevina Harmoko

Posted on May 24th 2021


(Ilustrasi: Jeremie Roberrini/Dribbble)

Pernah nggak merasa kalau pas kita bahagia, momen kebahagiaan itu gak berlangsung lama? Kita pasti akan kembali ke rutinitas yang sama, perasaan yang biasa aja, lagi dan lagi. Sebenarnya ada istilah khusus yang mewakili kondisi tersebut: hedonic treadmill.

Hedonic treadmill dicetuskan oleh Brickman dan Campbell pada 1971 (saat itu disebut hedonic adaptation). Saat itu mereka meneliti dua grup, orang yang baru menang lotre dan orang yang baru kecelakaan dan menjadi lumpuh. Singkatnya, tidak ada kelompok yang menjadi lebih bahagia setelah sekian lama. Mereka yang bahagia kembali ke perasaan netral, begitu juga mereka yang sedih.

Teori tersebut berkembang dan masih nyambung sama kehidupan zaman sekarang. Intinya sih teori ini menganggap bahwa perasaan seseorang setelah mengalami peristiwa positif atau negatif akan kembali ke perasaan seperti sebelum mengalami peristiwa tersebut. Kalau dibuat kurva, momen membahagiakan itu naik, momen menyedihkan itu turun—tapi ada sebuah garis tengah yang menjadi “perasaan dasar”.

Nah, kenapa kok disebut hedonic treadmill? Karena setelah momen membahagiakan atau menyedihkan, kita kembali lagi ke posisi yang sama dan ini terjadi berulang-ulang, seperti pas kita lari di treadmill. Terus berulang dan kita (kadar kebahagiaan kita) sebenarnya nggak ke mana-mana.

Ilustrasi
Misal kita baru berhasil dapat keuntungan dari investasi koin. Sebut aja untungnya Rp 1 juta gitu deh ya. Oke, kita bahagia dan perasaan kita naik. Lama-kelamaan setelah terus mendapatkan untung segitu, kita berpikir, "Duh, kayaknya lebih asyik lagi kalau untung Rp 3 juta." Turun deh perasaan kita ke "perasaan dasar".

(Ilustrasi: Conversion Uplift)

Lalu perlahan perasaan kita turun lagi sampai ke titik terendah karena belum mencapai target. Terus tiba-tiba profit naik dan bikin kaya mendadak, perasaan kita mulai naik. Namun, lama-kelamaan kita merasa b aja juga sama kondisi sekarang, balik lagi deh ke “perasaan dasar”. Gitu terus aja. Sampai McDonald’s jual lemper juga kebahagiaan kita tetap di di situ-situ aja.

Memang sih kata Imagine Dragon, ”No matter what we breed we still are made of greed.” Kita, manusia, bakal terus-menerus pengin sesuatu yang lebih besar, lebih banyak, pokoknya lebih-lebih. Tapi, kalau dipikir-pikir, percuma dong terus lari di pola yang sama? Kapan istirahatnya~

Cara menjaga hedonic treadmill tetap wajar

Dilansir dari Psychology Today, ada dua cara yang dicetuskan oleh Sheldon dan Lyubomirsky untuk menjaga apa yang bikin kita bahagia itu tetap membahagiakan. Nggak turun nilainya gitu lho. Yang pertama adalah variety (keberagaman).

Kita pasti bakal bosan sama sesuatu yang kita lakukan terus-menerus atau kita bisa expect hasilnya gimana. Biar gak bosan, ya buat jadi beda. Misal kita lagi suka merajut, atur jadwal mingguan buat coba simpul baru, atau ajak orang lain buat ikut merajut. Biar nggak mengecap pacar sendiri membosankan, buat aktivitas bareng yang berbeda.

Pokoknya setiap mau melakukan sesuatu yang dianggap bakal bikin senang, pikirkan dulu apakah kita bisa menikmatinya dengan beragam cara yang berbeda? Kalau nggak, kebahagiaan di sana gak akan bertahan lama.

Yang kedua adalah appreciaton (apresiasi). Ini bisa dibilang lawannya adaptation (adaptasi) karena kita gak melakukan perubahan, tetapi memaknai apa yang sudah kita punya. Entah itu dengan memerhatikan atau mensyukurinya. Dengan melakukan apresiasi, kita tetap memandang sesuatu yang positif sebagai hal yang membahagiakan—jadi kebahagiaan bisa long last deh daripada sekadar hilang termakan lupa.(*)

Related Articles
Lifestyle
5 Langkah Sederhana Menghadapi Duka atau Kehilangan saat Pandemi

Lifestyle
Sedih Karena Kepergian Idola? Wajar kok! Ini Alasan dan Tips Menghadapinya

Lifestyle
Kenapa sih Kita Suka Menghindar Pas Ada Masalah? Begini Mengatasinya.