Current Issues

Anjing Pelacak Inggris Dilatih Deteksi Bau Covid-19 Lewat Kaos dan Kaos Kaki

Dwiwa

Posted on May 24th 2021

(Filou, anjing penggembala Belgia berusia 3 tahun yang mampu mendeteksi COVID-19 dalam sampel air liur manusia, di Hanover, Jerman. Foto: Reuters)

Di tengah melonjaknya kasus akibat varian baru virus corona, para ilmuwan terus berusaha mencari cara tercepat untuk mendeteksi keberadaannya. Salah satunya adalah dengan menggunakan anjing pelacak yang dilatih khusus.

Para ilmuwan Inggris bahkan optimis jika hewan berkaki empat ini bisa segera digunakan di bandara, atau tempat berkumpulnya banyak orang untuk mendeteksi “bau corona” dari orang yang terinfeksi Covid-19.

Dilansir dari Reuters, anjing pelacak yang dilatih secara khusus ini dapat mendeteksi bau corona dari orang yang terinfeksi Covid-19. Menurut para ilmuwan, anjing yang dilatih Covid dapat mendeteksi keberadaan virus corona dengan sensitivitas hingga 94,3 persen.

Sebuah studi tahap awal yang melibatkan sekitar 3.500 sampel bau dalam bentuk kaus kaki atau kaos oblong yang tidak dicuci yang dikenakan oleh masyarakat dan petugas kesehatan menunjukkan jika anjing bahkan dapat mengendus bau orang dengan Covid-19 tanpa gejala atau bergejala ringan. Termasuk kasus yang disebabkan oleh varian mutan yang muncul di Inggris tahun lalu.

"Anjing bisa menjadi cara yang bagus untuk menyaring sejumlah besar orang dengan cepat dan mencegah Covid-19 merebak kembali di Inggris," ujar Steve Lindsay, seorang profesor di departemen biosains Universitas Durham yang mengerjakan penelitian tersebut.

James Logan, spesialis pengendalian penyakit di London School of Hygiene & Tropical Medicine yang memimpin proyek tersebut mengatakan keuntungan utama anjing pelacak dibandingkan metode lain seperti pengujian lateral adalah memiliki kecepatan yang luar biasa. Selain itu akurasinya juga cukup baik. Termasuk ketika diterapkan dalam kelompok besar.

Penelitian Inggris yang diterbitkan secara online pada Senin ini memperbanyak proyek percontohan. Seperti yang sudah dilakukan di Finlandia, Jerman, Chili dan tempat lain yang menguji coba anjing pelacak yang dilatih Covid di bandara. Sayangnya penelitian online ini belum ditinjau rekan sejawat.

Anjing-anjing dalam penelitian di Inggris ini dilatih selama beberapa minggu. Merka dengan diperkenalkan pada 200 sampel bau dari orang yang positif Covid-19, serta 200 kontrol dari orang yang dites negatif.

Anjing dengan kinerja tertinggi dalam uji coba itu bisa mendeteksi bau virus corona pada sampel dengan sensitivitas hingga 94,3 persen. Ini berarti risiko hasil negatif palsu terbilang rendah. Sedangkan spesifisitasnya mencapai 92 persen. Itu berarti risiko hasil positif palsu juga rendah. Sekedar diketahui, spesifisitas adalah kemampuan tes untuk menunjukkan individu mana yang tidak menderita sakit dari mereka yang benar-benar tidak sakit.

Tim peneliti tersebut mengatakan akurasi ini lebih tinggi dari yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk diagnosis Covid. Anjing-anjing tersebut mengungguli tes aliran lateral, yang memiliki sensitivitas keseluruhan antara 58 persen dan 77 persen.

Meski begitu, para pakar independen mengingatkan jika temuan ini memerlukan aplikasi di situasi dunia nyata untuk membuktikan efektifitasnya.

"Bukti studi konsep ini menunjukkan bahwa anjing pelacak terlatih dapat digunakan di tempat seperti bandara, stadion olahraga, dan tempat konser. Pertanyaan besarnya adalah, apakah ini bisa bekerja di dunia nyata pada manusia bukan sampel kaus kaki dan kemeja?” ujar Lawrence Young, ahli virus dan profesor onkologi molekuler di Warwick University.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Perketat Prokes, Varian Delta yang Lebih Menular Sudah Menyebar di Indonesia

Current Issues
Dirjen WHO Khawatir Terjadi “Tsunami Kasus” Akibat Varian Omicron dan Delta

Current Issues
Direktur WHO Rekomendasikan Orang Batalkan Atau Tunda Rencana Liburan