Lifestyle

Languishing: Keadaan Gak Baik-Baik Aja, tapi Juga Bukan Gangguan Mental

Perasaan yang dialami banyak orang saat pandemi.

Kezia Kevina Harmoko

Posted on May 18th 2021

(Ilustrasi: Mona/Dribbble)

Pernah merasa gak baik-baik aja secara mental, tapi masih bisa melakukan aktivitas pada umumnya? Merasa hampa dan lelah, tapi bukan gangguan mental juga. Kalau kamu familiar dengan perasaan abu-abu ini, beri dia nama: languishing.

Kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia, languishing punya makna merana, lemah, dan lesu. Languishing merupakan istilah yang diciptakan oleh sosiolog dan psikolog Corey Keyes setelah menemukan banyak orang yang mengalami perasaan serupa.

Dilansir dari NY Times, languishing bisa dibilang anak tengah yang terlupakan di kesehatan mental. Saudaranya adalah depresi, perasaan lelah, tak berharga, dan tak punya harapan. Saudara satunya lagi adalah berkembang (flourishing), kondisi well-being terbaik saat kita punya tujuan hidup, optimis, dan berada di tempat yang tepat dalam komunitas.

Languishing jadi penengah depresi dan flourishing. Karena di tengah-tengah, kita masih bisa melakukan aktivitas normal seperti hari-hari pada umumnya, tapi kehilangan motivasi, susah fokus, dan merasa hampa. Gak sehat, tapi juga nggak punya penyakit. Kayak ungkapan “Meh” kalau ditanya tentang kabar.

Langkah menghadapi languishing

1. Validasi emosimu

Ambil waktu buat mengenali emosi. Kalau memang apa yang kamu rasakan sesuai dengan ciri-ciri languishing, kasih nama itu. Dengan nama, kita bisa menandakan kalau perasaan itu memang ada dan bisa mulai memikirkan solusi.

Buat kalian yang setiap ditanya “Apa kabar?” jawabannya “Baik”, mulai ganti kebiasan itu deh. Gak ada gunanya terlihat selalu baik-baik aja, jatuhnya malah jadi toxic positivity. Bisa-bisa perasaanmu merasa terkhianati sama ucapanmu sendiri~

2. Fokus ke kebutuhan dasar

Dilansir dari PopSugar, salah satu cara menghadapi languishing adalah memastikan kita memenuhi kebutuhan dasar kita yang sebenarnya sederhana. Cukup makan? Cukup tidur? Cukup minum air? Cukup bersosialiasi?

Buat poin-poin tersebut dalam sebuah to-do-list. Setiap sudah dilakukan, centang. Ini memberi kita perasaan pengendali dan in charge sama hidup kita sendiri. Pandemi sudah bikin kita kehilangan banyak hal, jadi gak masalah untuk memulai lagi dengan hal-hal kecil.

3. Sediakan waktu me time

Me time di sini benar-benar me, myself, and I. Tanpa orang lain, tanpa gangguan apa pun. Ini perlu agar kita bisa melatih fokus kita yang hobi ke mana-mana kalau di jam produktif. Kalau bisa fokus, kita bisa membuat progress berarti ke apa pun yang kita lakukan. Melihat adanya progress yang kita buat sendiri tentunya membanggakan dan bikin happy~

4. Balik ke hobi

Mungkin sebelum pandemi kita punya kegiatan yang kita suka banget dan rutin dilakukan. Tapi, gara-gara pandemi, hilang semua motivasi buat melakukannya. Sekarang waktu yang tepat buat mencoba lagi. Siapa tahu bisa kegiatan tersebut bisa kembali jadi penghilang stress!

Nah, itu dia pembahasan tentang languishing. Kalau kamu merasa gak baik-baik aja secara mental dan mulai nggak bisa beraktivitas secara normal, kemungkinan besar itu bukan languishing. Sebaiknya konsultasikan ke tenaga medis buat mendapatkan diagnosis yang tepat. (*)

 

Related Articles
Lifestyle
Lagi Susah Menemukan Hal Untuk Disyukuri? Ini Waktunya Bikin Gratitude Journal

Lifestyle
Yang Lain Susah Saat Pandemi, tapi Kita Merasa Baik-Baik Saja? Wajar kok...

Interest
Ini 6 Cara untuk Meningkatkan Kesehatan Mental yang Wajib Dicoba