Korea

First Impression Move to Heaven: Memaknai Kehidupan dari Mereka yang Telah Tiada

Mainmain.id

Posted on May 17th 2021

Ini bukan K-drama biasa. Ini tentang perjalanan spiritual dan emosional seorang bocah penderita sindrom Asperger. Yang mencoba mencari makna kehidupan bersama sang paman. Sembari menjalankan bisnis yang berkaitan dengan kematian.

---

PERNAH dengar bisnis trauma cleansing? Sangat jarang memang. Pelakunya jauh lebih sedikit daripada bisnis peti mati atau rumah duka. Ini adalah jasa bersih-bersih rumah atau kamar seseorang yang baru saja meninggal. Membuang barang-barang yang tidak diperlukan, dan mengemas apa saja yang kiranya berharga. Untuk diserahkan kepada keluarga.

Jasa itu paling banyak disewa oleh pemilik kos atau kamar asrama yang penyewanya meninggal. Tak jarang si penghuni tinggal sendirian, sehingga baru ditemukan setelah beberapa lama. Penyedia jasa trauma cleansing juga harus mendesinfeksi serta menghilangkan bau kamar.

Han Jeong-u (Ji Jin-hee) menjalankan bisnis langka tersebut bareng anak lelakinya, Han Geu-ru (Tang Jun-sang). Yang menderita sindrom Asperger. Geu-ru punya daya ingat supertinggi dan perhatian terhadap detail yang luar biasa. Namun, ia tidak bisa mengetahui emosi atau perasaan orang lain. Sindrom Asperger masuk dalam spektrum autisme.

Geu-ru tidak memiliki moral compass. Namun ia sangat by the book. Berpikir dan bertindak sesuai peraturan, atau apa saja yang diajarkan sang ayah kepadanya. Hidupnya sangat teratur, karena ia tidak bisa menerima perubahan. Ia penggila kebersihan. Namun bisa tahan membersihkan kamar kos yang superkotor. Karena itulah yang diajarkan ayahnya.

Hingga suatu hari, sang ayah meninggal. Dalam surat wasiat, Jeong-u meminta adik tirinya, Cho Sang-gu, untuk menjadi wali Geu-ru. ’’Nama belakang kami berbeda, karena kami beda ayah. Ibuku menikahi ayahnya waktu aku masih kecil,’’ Sang-gu menjelaskan.

Rupanya bukan hanya ayah mereka yang berbeda. Sang-gu adalah kebalikan Jeong-u dalam segala hal. Ia berangasan, hidup dari menjadi preman dan petarung MMA ilegal, dan melakukan sejumlah kejahatan ringan. Ia baru dibebaskan dari penjara ketika menerima surat permintaan wali dari pengacara Jeong-u. Entah dihukum karena apa. 

Lalu, dimulailah petualangan paman dan keponakan yang sangat bertolak belakang itu. Apakah Geu-ru bisa mengubah Sang-gu menjadi pria yang lebih bertanggung jawab? Sebaliknya, apakah Sang-gu bakal mengajarkan arti kehidupan yang sebenarnya kepada Geu-ru?

Mengandung Bawang

Khas serial yang diproduksi sendiri oleh Netflix, Move to Heaven tidak menghabiskan durasi untuk mengenalkan karakter-karakternya. Tidak perlu ada flashback panjang untuk menjelaskan relasi Geu-ru dan sang ayah yang hangat dan indah.

Dan kita tidak merasa ada masalah waktu kemunculan Sang-gu justru memunculkan sejumlah misteri. Misalnya, apa yang dilakukan Jeong-u hingga ia merasa bersalah kepada sang adik. Sabar saja. Itu akan dijelaskan sambil jalan nanti. Lagipula, drama ini bukan melulu tentang hubungan Geu-ru dan sang paman.

Jeong-u melatih Geu-ru memahami emosi dan perasaan orang lain lewat klien-klien yang sudah meninggal. Misalnya, ketika mereka membersihkan kamar kos seorang anak magang. Cowok itu membeli ramyeon pedas dan gimbap dari sebuah minimarket yang sama. Setiap hari.

Awalnya, mereka mengira ia melakukan itu untuk mengirit. Tidak salah, sih. Namun, ketika melewati minimarket tempat si cowok belanja, mereka menemukan alasan lain. Dari cairan penyegar kain yang disimpannya di tas, mereka jadi tahu. Bahwa cowok itu ke minimarket setiap hari untuk menemui gadis kasir yang cantik jelita.

Pada episode kedua, Geu-ru—kali ini sudah ditemani Cho Sang-gu—mendapati masalah lain. Mereka harus membereskan barang seorang nenek yang meninggal di kamar kos sewaan. Dia baru ditemukan tiga pekan setelah tiada. Sehingga baunya enggak karuan. Pemilik kamar yang serakah menyuruh Geu-ru mencari uang tunai simpanan si nenek.

Ia menurut. Geu-ru bahkan mendesinfeksi puluhan lembaran 50 ribu won itu di rumahnya. Menyusunnya sesuai nomor seri. Lalu membawanya ke bank untuk ditukarkan. Ia bahkan berencana menyerahkan uang itu ke pemilik kamar. Sang-gu geleng-geleng kepala melihat keponakannya begitu polos dan lurus.  

Setiap episode nanti, kasus trauma cleansing yang ditangani bakal berbeda-beda. Dan dari tiap kasus, Geu-ru dan Sang-gu mendapatkan pelajaran baru. Tentang hidup. Tentang cinta. Tentang emosi. Tentang keluarga serta pertemanan. Dan bisa dipastikan, setiap episode itu mengandung bawang. Bikin kornea terasa pedas. Lalu memproduksi air mata berliter-liter.

 

Lee Je-hoon dan Tang Jun-sang

Drama yang indah ini dibawakan dengan sangat indah pula oleh Lee Je-hoon dan Tang Jun-sang. Belum habis kekaguman kita menonton Je-hoon di Taxi Driver. Eh di sini ia sudah mengeksekusi jenis peran lain dengan excellent. Sang-gu nyebelin banget. Tapi sangat terasa bahwa ia adalah pria dengan semangat hidup dan insting survival yang tinggi.

Sementara Jun-sang aslinya tidak autis. Namun penampilannya sebagai penderita Asperger sangat meyakinkan. Aktor yang baru berusia 17 tahun itu berbicara dengan nada datar seperti robot. Ia juga memasang ekspresi datar, hampir sepanjang waktu. Kita semua tahu. Menyampaikan emosi sebuah karakter tanpa bantuan mimik wajah itu jauh lebih sulit daripada akting melotot-melotot seperti kesurupan.

Mereka menyajikan dinamika hubungan yang unik. Yang satu sangat kaku dan teratur. Satunya lagi cuek cenderung ngawur. Mereka jelas bakal sering crash. Tapi ada lucunya juga. Seperti waktu Sang-gu gagal ’’merebut’’ kamar Jeong-u karena Geu-ru menjaganya semalam suntuk. Ia akhirnya mengalah. Dan memasang tenda di ruang tamu.

Ini lebih seperti drama yang dibuat Netflix untuk Korea. Daripada drama Korea yang hak distribusinya dibeli Netflix. Tidak ada musik dramatis nan lebay. Tidak ada montase adegan di akhir episode. Pace-nya sangat terjaga. Nuansanya pun lebih seperti film daripada drama. Asyiknya lagi, seperti drama orisinal Netflix yang lain, ke-10 episode Move to Heaven tayang berbarengan. So, bisa di-binge sampai tamat! Yay! (Retna Christa/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Artikel Terkait
Korea
Drama To Watch Selama Mei

Korea
First Impression Spring Camp: Curhat Jae-hyun di Perkemahan Musim Semi

Korea
6 Alasan Kenapa Lee Do-hyun Layak Dikagumi