Current Issues

Tiga Gejala Long Covid yang Paling Umum Dialami Penyintas Covid-19

Dwiwa

Posted on May 16th 2021

Setelah lebih dari setahun berlangsung, para ahli kesehatan di dunia mulai menyadari jika beberapa penyintas Covid-19, bahkan dengan gejala paling ringan sekalipun, tidak sembuh total. Sindrom pasca Covid-19, juga disebut “PCS”, “sindrom jangka panjang Covid-19” dan “Post-Acute Sequelae of SARS-Cov-2” adalah versi jangka panjang Covid-19. Yang mungkin kini dialami jutaan orang.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Mayo Clinic di Amerika Serikat mengungkap tiga gejala utama yang paling sering dialami para penyintas selama berbulan-bulan setelah pulih dari infeksi virus awal.

Dilansir dari Eat This, Not That!, studi tersebut menunjukkan jika kelelahan, gangguan kognitif, dan gangguan suasana hati semua berkaitan dengan sindrom pasca-Covid-19. Gejalanya bisa sangat parah hingga dapat berdampak negatif saat kembali bekerja dan melanjutkan aktivitas normal.

Studi Mayo Clinic yang diterbitkan di Mayo Clinic Proceedings itu melibatkan 100 pasien pertama. Mereka berpartisipasi dalam program Rehabilitasi Aktivitas Covid-19 (CARP) Mayo Clinic yang dievaluasi dan dirawat antara 1 Juni dan 31 Desember 2020. Kelompok tersebut memiliki usia rata-rata 45 tahun dan 68 persen perempuan.

Berdasar temuan mereka, kelelahan yang tidak biasa adalah gejala paling umum, di mana 80 persen peserta merasakan kondisi itu. Kemudian 59 persen melaporkan keluhan pernapasan dan jumlah serupa mengeluhkan masalah neurologis.

Satu dari tiga melaporkan kesulitan melakukan aktivitas dasar kehidupan sehari-hari. Sementara hanya sepertiga pasien yang kembali ke aktivitas kerja yang tidak dibatasi.

"Sebagian besar pasien dalam penelitian ini tidak memiliki penyakit penyerta sebelum infeksi Covid-19 dan banyak yang tidak mengalami gejala Covid-19 cukup parah sehingga tak perlu dirawat di rumah sakit,” ujar dr. Greg Vanichkachorn, direktur medis CARP Mayo Clinic dan penulis utama studi.

Vanichkachorn menambahkan, sebagian besar pasien memiliki hasil laboratorium dan pencitraan normal atau nondiagnostik. Meskipun mereka memiliki gejala yang melemahkan. Kondisi ini merupakan salah satu tantangan dalam mendiagnosis PCS secara tepat waktu dan merespon secara efektif.

Gejalanya sangat parah sehingga ada efek negatif yang signifikan sampai membuat pasien sulit kembali ke aktivitas sehari-hari, termasuk bekerja. Vanichkachorn menambahkan, banyak dari pasiennya perlu terapi fisik, okupasi, atau rehabilitasi otak untuk mengatasi gangguan kognitif yang dirasakan.

"Sementara banyak pasien mengalami kelelahan, lebih dari setengahnya juga melaporkan masalah dengan berpikir, umumnya dikenal sebagai 'kabut otak'. Dan lebih dari sepertiga pasien memiliki masalah dengan aktivitas dasar kehidupan. Banyak tidak bisa melanjutkan kehidupan kerja normal setidaknya beberapa bulan,” lanjutnya.

Vanichkachorn pun menganjurkan orang-orang yang telah pulih dari infeksi akut dan masih mengalami gejala yang berkepanjangan untuk segera menemui profesional untuk dilakukan evaluasi.

Waduh, ngeri juga ya dampak jangka panjangnya. Agar tidak sampai mengalami, yuk kita perketat protokol kesehatan. Ingat selalu untuk memakai masker, menjaga jarak minimal 2 meter, rutin mencuci tangan dengan sabun, menjauhi kerumunan dan mengurangi mobilitas.(*)

Artikel Terkait
Current Issues
Studi: Gangguan Kesehatan Otak dan Mental Umum Terjadi Pada Pasien Covid-19

Current Issues
Studi: Kasus Long Covid-19 dengan Gejala Sesak Napas dan Depresi Meningkat

Current Issues
Gejala-Gejala Long Covid yang Mungkin Tak Disadari