Tech

Cegah Pengguna Menyesali Twit Kasar, Twitter Rilis Fitur ‘Review’

Jingga Irawan

Posted on May 6th 2021

Saat topik yang lagi trending memanas, nggak jarang pengguna Twitter biasanya membalas dengan melontarkan kalimat-kalimat kasar. Mungkin hal ini terjadi karena dorongan emosi. Namun, ketika suasana sudah mulai tenang, biasanya mereka baru menyadari, bahkan menyesal, kalau balasannya tersebut sebenarnya nggak baik diperuntukkan bagi orang lain.

Nah, untuk menghindari hal tersebut, Twitter menguji coba fitur yang akan meminta pengguna untuk meninjau dan merevisi balasan yang berpotensi berbahaya atau menyinggung. Platform media sosial yang sering mendapatkan kritik atas perilaku pengguna yang kasar tersebut telah menguji coba fitur “Review” tersebut sejak tahun lalu.

Hasilnya, Twitter menemukan bahwa uji coba atas fitur barunya itu menunjukkan dapat mengurangi balasan ofensif. Kemudian, dilansir dari BBC pada Rabu (5/5), perusahaan mengatakan bakal meluncurkan petunjuknya ke akun Twitter  yang berbahasa Inggris di iOS dan Android.

Dalam sebuah posting blog, Twitter mengatakan mereka telah menemukan bahwa fitur permintaan untuk merevisi atau meninjau kembali balasan tersebut dapat mengarahkan 34 persen orang untuk merevisi balasan awal mereka yang berpotensi kasar, atau justru mendorong orang memutuskan untuk tidak mengirim balasan sama sekali.

“(Dan) rata-rata sebanyak 11 persen pengguna lebih sedikit melakukan balasan ofensif setelah diminta untuk merevisinya pertama kali,” kata Twitter dikutip dari BBC.

Twitter juga mengatakan petunjuk itu dirancang untuk mempertimbangkan komunikasi antara akun yang mengunggah cuitan pertama dan akun yang membalas.

"Jika dua akun mengikuti dan saling membalas satu sama lain, ada kemungkinan lebih tinggi bahwa mereka memiliki pemahaman yang lebih baik tentang nada komunikasi yang disukai," kata posting blog itu.

Dalam beberapa tahun terakhir, platform media sosial telah memikirkan cara untuk mengawasi konten yang menyinggung, penyalahgunaan, dan pelecehan. 

Dilansir dari BBC, statistik terbaru Twitter, untuk Januari hingga Juni tahun lalu, menunjukkan bahwa platform tersebut menghapus konten yang berpotensi menyinggung, yang diposting oleh 1,9 juta akun, dan menangguhkan 925.700 akun karena melanggar aturan Twitter.

Perdebatan mengenai moderasi konten akhir-akhir ini menjadi semakin intens, karena keputusan yang diambil oleh raksasa media sosial terhadap pejabat publik, khususnya mantan Presiden AS Donald Trump. Pria berusia 74 tahun itu dilarang menggunakan sejumlah platform, termasuk Twitter dan Facebook, setelah kerusuhan di AS pada 6 Januari lalu.

Dewan pengawas Facebook menguatkan keputusannya pada hari Rabu (5/5), sekaligus mengkritik Facebook karena membuat pemblokiran tidak terbatas dan memberinya waktu enam bulan untuk menentukan tanggapan yang proporsional.

Meskipun banyak yang percaya platform harus lebih agresif dalam mengawasi penyalahgunaan online dan informasi palsu, banyak yang melihat larangan Trump menggunakan media sosial adalah sebuah tindakan menghambat demokrasi dan sensor politik.(*)

 

Related Articles
Tech
Twitter Lempar Wacana Aneka Pengaturan Privasi, Termasuk Fitur Sembunyikan Akun

Tech
Twitter "Wajibkan" Penggunanya Membaca Dulu Artikel yang Hendak Di-Retweet

Tech
Pengguna Keluhkan Fitur Fleets di Twitter