Current Issues

Ada yang Salah Ketika Video Pelecehan Seksual Dianggap Keren dan Viral

Konten TikTok buatan @iqbalahm buktikan rape culture masih subur

Kezia Kevina Harmoko

Posted on May 3rd 2021

(Ilustrasi: Freepik)

Beberapa waktu belakangan dunia maya diramaikan dengan beberapa video TikTok dari akun @iqbalahm. Bukan karena bikin kagum atau mengharumkan nama bangsa, pengguna aplikasi tersebut justru viral karena kontennya yang merendahkan perempuan.

Kebanyakan video TikTok buatan Iqbal adalah konten POV (poin of view). Jadi dia mengarang cerita tertentu dan kita sebagai penonton jadi lawan mainnya gitu deh. Kalau ceritanya asyik sih gak masalah.

Di satu video, pengguna TikTok satu ini menceritakan bahwa ia lagi masuk ke ruang ganti dan ada seorang perempuan (ceritanya perempuan itu kita) di sana. Ternyata, si perempuan itu salah masuk ke ruang ganti laki-laki.

Entah bagaimana bisa si kreator video tetap bisa masuk (logikanya kan ruang ganti pasti dikunci). Bukannya langsung menutup pintu, Iqbal justru agak menggoda dan masuk ke ruang ganti yang sama. Video ini sudah ditonton jutaan kali di TikTok.

Tangkapan layar video TikTok @iqbalahm

Di video lain, Iqbal ceritanya telat upacara. Ditegur sama adik kelas yang mengatur barisan karena dia gak baris di barisan orang telat. Si kreator video menolak menuruti arahan dan agak cekcok. Untuk menyelesaikan perdebatan… orang ini mencium (di video disebut nganu) si adik kelas secara tiba-tiba. Video ini juga sudah ditonton jutaan kali di TikTok.

Tangkapan layar video TikTok @iqbalahm

Percaya atau nggak, kreator konten yang jelas menggambarkan pelecehan seksual pada perempuan itu justru punya banyak penggemar. Akun TikTok @iqbalahm punya 5,5 juta pengikut dan akun Instagram @rafiqiqball punya kebih dari 470 ribu pengikut.

Kalau search namanya di search bar Instagram, banyak banget bermunculan akun fanbase si kreator video. Tentunya mayoritas penggemar Iqbal itu… anak di bawah umur. Yang mungkin menganggap dicium kakak kelas tiba-tiba itu sesuatu hal yang wajar dan manis (akibat kebanyakan baca Wattpad atau sinetron romansa gak sesuai umur) atau berpikir diintip di ruang ganti itu hal yang normal.

Karena video-video tersebut dianggap *wajar* oleh sebagian orang, ini menandakan bahwa rape culture masih kuat banget mengikat kita. Tidak ada yang keren atau manis dari pelecehan. Tidak ada yang romantis dari pemerkosaan. Yang ada hanya korban yang tak berdaya karena anggapan-anggapan tersebut.

Mungkin ada yang berpikir begini, “Lah itu kan cuma video, cuma konten doang. Nggak ada korbannya lah!” Oke, sekarang memang nggak ada korbannya. Namun, bayangkan kalau video tersebut muncul di FYP anak-anak yang belum bisa memfilter mana yang perlu dan tidak perlu dilakukan.

Bukan nggak mungkin kalau ada yang meniru tindakan Iqbal tersebut. Bukan gak mungkin juga kalau ada korban pelecehan yang jadi takut terus terang karena melihat konten yang mewajarkan pelecehan. Stop menormalisasi rape culture. (*)

Related Articles
Hobi
7 Rekomendasi Akun TikTok Make Up Kreator Indonesia Biar Glow Up di Tahun Baru

Tech
Mengapa Jarang Lihat Kreator Tiongkok di TikTok? Padahal Aplikasinya dari Sana

Current Issues
Mulai dari Dokter hingga Artis Bikin Konten Cegah Coronavirus di TikTok