Tech

Perusahaan Tiongkok Berlomba Kuasai Pasar Sensor Lidar untuk Mobil Otonom

Jingga Irawan

Posted on May 2nd 2021

Sensor Lidar,kini menjadi salah satu teknologi penting untuk mobil otonom. Teknologi ini telah muncul sebagai medan persaingan baru bagi perusahaan teknologi Tiongkok. Dilansir dari South China Morning Post Minggu (2/5), terdapat tiga perusahaan yang berbasis di Shenzhen, yakni Huawei Technologies, DJI dan RoboSense, yang melirik sektor tersebut di tengah pesatnya perkembangan kendaraan otonom di Tiongkok.

"Lidar adalah sensor yang sangat diperlukan untuk mengemudi otonom dan industri ini telah berkembang dengan munculnya sistem mengemudi otonom," kata Mark Qiu Chunchao. Ia merupakan salah satu pendiri dan kepala operasi RoboSense. RoboSense merupakan perusahaan pembuat  lidar dan penginderaan robotik untuk berbagai aplikasi termasuk kendaraan otonom, drone, dan pemetaan 3D.

Sejak didirikan 7 tahun lalu, RoboSense atau juga dikenal sebagai Suteng Innovation Technology, memulai debutnya pada solid-state lidar di CES (Consumer Electronic Show) di Las Vegas pada 2018. Lebih dari 30 dari 200 karyawan perusahaan memegang gelar PhD.

Menurut Qiu, penggunaan lidar di level tiga hingga level lima untuk mobil saat ini secara bertahap telah menjadi standar industri, antara baik dan kurang baik dalam sektor mobil self-driving.

Lidar -pendeteksi cahaya dan jangkauan- dapat mengukur jarak menggunakan sinar laser untuk menghasilkan peta 2D atau 3D yang sangat akurat dari dunia di luar kendaraan. Teknologi ini juga digunakan di berbagai industri mulai dari pertanian hingga manufaktur lanjutan. Sensor Lidar dideskripsikan sebagai "mata" dari sistem mengemudi otonom.

Menurut Manajer Umum Pemasaran dan Penjualan Smart Car Huawei Chi Linchun, teknologi Lidar pasti bakal digunakan secara luas dalam mengembangkan teknologi mengemudi otonom. Hal ini dikarenakan peralatan dan teknologi penginderaan yang ada dalam mobil saat ini kurang memadai dalam mencegah kecelakaan di jalan

"Sistem penginderaan yang ada yang bekerja dengan baik di negara-negara Barat mungkin tidak berfungsi di Tiongkok karena kerumitan mengemudi di jalan raya Tiongkok," kata Chi.

Huawei sendiri mulai mengembangkan teknologi lidar pada 2016. Karya Huawei itu pernah diterapkan di mobil produksi perusahaan Tiongkok Arcfox. Saat itu Arcfox menampilkan crossover model Alpha S yang dilengkapi platform mobil pintar HI Huawei dan sensor lidarnya di Shanghai Auto Show 2021.

Huawei berencana meningkatkan output-nya dari 100 ribu set lidar menjadi 1 juta unit per tahun karena penggunaan sensor lidar oleh pembuat mobil makin meluas.

Setelah Tiongkok memimpin pasar mobil listrik, kini mereka mulai mengarahkan pandangannya pada kemajuan sistem pengemudi otonom. Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi telah menyusun undang-undang baru untuk pengujian kendaraan otonom di jalan raya. Kebijakan itu sejalan dengan negara-negara seperti AS, Inggris, dan Jerman yang telah mengizinkan pengujian mobil otonom di jalan umum.

Tiongkok sendiri menargetkan produksi massal kendaraan otonom level-3 pada 2025. Mengemudi otonom level 3 memungkinkan pengemudi dengan aman mengalihkan perhatian dari fokus mengemudi dalam kondisi tertentu.

Sejumlah pembuat smart EV di Tiongkok kini sudah mulai memasang lidar ke dalam produk mereka. Xpeng Motors misalnya. Mereka mengumumkan bahwa telah mencapai kerjasama dengan Livox, sebuah unit pembuat drone DJI. Mereka akan menggunakan sensor lidar DJI dalam mobile listrik model P5 barunya.

Sedangkan, RoboSense telah menerima sejumlah pesanan lidar untuk model kendaraan produksi massal di seluruh dunia. Robosense meluncurkan apa yang diklaimnya sebagai lini produksi solid-state lidar tingkat otomotif pertama di Tiongkok. Lini produksi ini akan diluncurkan pada pertengahan tahun ini.

"Kami termasuk batch pertama perusahaan dalam negeri (Tiongkok) yang masuk ke industri lidar. Produk kami telah dikomersialkan selama lebih dari lima tahun, dan telah diverifikasi oleh sejumlah besar skenario mengemudi, dengan solusi skenario yang lebih matang dan akumulasi teknologi," kata Qiu.

Saat ini, pemasok Lidar ke industri otomotif menghadapi tiga hambatan harga, skalabilitas, dan keandalan. Selain itu, lidar juga menuai banyak kritik. CEO Tesla Elon Musk misalnya. Ia pernah mengkritik teknologi lidar memerlukan biayanya yang tinggi. Bahkan, Musk menyebut lidar adalah “sesuatu bodoh". (*)

Related Articles
Tech
Berambisi Kuasai Pasar EV dan AV, General Motors Berinvestasi Rp 503 Triliun

Tech
Raksasa Teknologi Baidu dan Geely Investasikan USD 7,7 Miliar untuk Smart EV

Tech
Mazda Luncurkan 13 Model Mobil Listrik pada 2025