Current Issues

Cara Raksasa E-Commerce dan Logistik Tiongkok Sukseskan Ambisi Bebas Karbon

Jingga Irawan

Posted on May 1st 2021

Emisi gas rumah kaca tidak hanya berasal dari pencemaran udara karena kendaraan ber-BBM. Tapi, juga bisa melalui bungkus sampah plastik yang setiap harinya melonjak. Kondisi ini diperparah dengan fenomena pencemaran limbah plastik dan karton dari bekas bungkus belanja online.

Menurut perkiraan Biro Pos Negara Tiongkok, pada 2020 ada sebanyak 67,1 miliar paket dikirim dari industri belanja online Tiongkok. Sementara, sekitar 80 persen dari total semua paket dikirim ke seluruh Tiongkok. Menurut Carbon Stop, angka tersebut bisa membengkak menjadi 127,5 miliar paket pada 2025. Hal itu bisa meningkatkan jejak karbon yang setara dengan 116 juta ton. Atau 1,1 persen dari total emisi gas rumah kaca Tiongkok.

Nah, saat ini di distrik Longhua di kota metropolitan teknologi Tiongkok selatan, Shenzhen, ada sebuah revolusi bebas karbon yang sedang dilakukan. Shenzhen sebagaimana kita tahu merupakan rumah bagi beberapa perusahaan paling maju di Tiongkok.

Di sana saat ini ada kotak sampah daur ulang raksasa berwarna hijau untuk karton bekas, bungkus plastik, dan kemasan. Hampir 1.000 paket setiap hari diproses ada di sana.

Dilansir dari South China Morning Post, jaringan logistik milik Alibaba Group Holding, Cainiao, mempelopori serta mengelola gerakan tersebut untuk mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang kemasan yang berasal dari pasar e-commerce.

Cainiao juga menggagas kampanye membendung penggunaan kemasan. Dan, mempromosikan penggunaan sumber daya Bumi secara berkelanjutan. Hal itu mereka lakukan untuk mendukung visi Tiongkok mencapai netralitas karbon pada 2060.

“Banyak kotak yang kami kumpulkan bagus untuk digunakan kembali. Tapi kami tidak membutuhkan banyak. Sisanya masuk ke pemulung, begitu juga pembungkus, busa plastik, dan kantong plastik,” kata manajer stasiun daur ulang Wu Hui, dalam wawancara baru-baru ini dengan South China Morning Post.

Menurut direktur Cainiao Green Initiatives Wang Haosu, sebanyak 120 juta karton saat ini telah digunakan kembali. Akan tetapi, lebih banyak lagi tujuan dapat dicapai jika program Cainiao bisa diperluas dengan tujuan memenuhi kebutuhan bersama.

Industri ritel online Tiongkok -yang terbesar di dunia- menjadi salah satu sektor utama yang diidentifikasi oleh regulator untuk tunduk pada aturan untuk menghasilkan solusi pengemasan yang lebih berkelanjutan. Ini mencakup emisi yang timbul dari pengiriman paket, produksi bahan kemasan, serta penyimpanan dan pemrosesan data transaksi e-commerce.

Masalah terbesar dalam industri ritel online selama ini adalah banyaknya penggunaan kemasan. Mulai dari buku dan pakaian hingga barang yang lebih besar seperti furnitur. Pemerintah Tiongkok sudah memiliki larangan terkait penggunaan kantong plastik yang tidak dapat terurai secara hayati, dan produk plastik yang dapat dibuang secara bebas. Larangan itu wajib dilaksanakan pada 2025.

Tas pengiriman dan pita perekat yang tidak dapat terurai secara hayati untuk layanan kurir juga akan dilarang di kantor pos di Beijing dan Shanghai pada akhir 2022. Larangan itu akan diterapkan lebih meluas -secara nasional- pada 2025.

Menurut kebijakan yang dikeluarkan pada Januari 2020 oleh National Development and Reform Commission (NDRC) bersama Kementerian Ekologi dan Lingkungan Tiongkok mengungkapkan, penyedia layanan e-commerce dan pengantaran makanan harus secara terbuka mengungkapkan kemajuan program mereka dalam memangkas plastik sekali pakai. Perusahaan juga wajib menyebutkan apa pengganti alternatif dari penggunaan kemasan plastik tersebut.

Beberapa perusahaan di Tiongkok telah melakukan itu. Lenovo misalnya. Vendor komputer pribadi terbesar di dunia itu sama sekali tidak perlu menggunakan pita plastik pada kotak kemasan yang dirancang khusus untuk laptop ThinkPad-nya.

Cainiao juga menggunakan kotak zip -yang menggunakan ritsleting kertas- untuk menyegel kemasannya. Cainiao juga bermitra dengan lebih dari 500 vendor di seluruh dunia untuk mengganti paket plastik sekali pakai dengan yang dapat terurai secara hayati.

Sedangkan JD.com, raksasa e-commerce terbesar kedua di Tiongkok, telah menggunakan kotak kemasan yang dapat digunakan kembali karena terbuat dari bahan terbarukan. Hal itu mereka lakukan sejak 2017. Kotak tersebut bisa dipakai lebih dari 50 kali, dan telah diterapkan di lebih dari 30 kota di Tiongkok.

Namun sebenarnya penggantian plastik dengan karton bukanlah solusi cerdas. Karena masih berkaitan dengan penggundulan hutan dan produksinya juga menghasilkan emisi. Menurut direktur eksekutif kelompok adcoskasi Plastic Free China Zheng Xue, hanya sekitar 5 persen karton yang digunakan kembali setidaknya sekali.(*)

Related Articles
Current Issues
CATL Bantah Bantu Tesla Jual Kendaraan Listrik Cacat di Tiongkok

Current Issues
Waspada! Ternyata Coronavirus Bisa Bertahan 3 Minggu di Daging Beku

Current Issues
Kasus Covid-19 Pertama Kemungkinan Muncul di Tiongkok Sejak Oktober 2019