Current Issues

6 Hal Tentang Vaksin Sinopharm yang Digunakan untuk Vaksinasi Gotong Royong

Dwiwa

Posted on May 1st 2021


(Reuters/Thomas Peter)

Berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia untuk segera mengakhiri pandemi. Selain mengeluarkan beragam aturan yang bertujuan untuk membatasi pergerakan manusia, program vaksinasi massal bagi masyarakat juga dikebut.

Selain melalui program vaksin gratis yang diutamakan bagi empat kelompok prioritas, pemerintah juga menyiapkan program vaksin mandiri atau yang kini dikenal sebagai vaksinasi gotong royong. Salah satu yang akan digunakan adalah Sinopharm yang tiba di Indonesia pada Jumat (30/4).

Nah, kehadiran vaksin Sinopharm ini nantinya akan didistribusikan melalui jalur berbeda dengen Sinovac maupun AstraZeneca yang diperuntukkan kelompok prioritas. Vaksinasi gotong royong nantinya akan dilaksanakan oleh perusahaan swasta dan bukan pemerintah.

Jadi, dalam pelaksanaannya ada biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk bisa mendapatkan vaksin ini. Kemudian vaksin tersebut akan diberikan secara gratis kepada para pekerja. Berikut beberapa fakta terkait vaksin Sinopharm yang dikumpulkan Mainmain dari berbagai sumber.

1. Sudah Mendapat EUA BPOM

Meski baru tiba di Indonesia pada Jumat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sudah mengeluarkan izin penggunaan darurat (EUA) untuk Sinopharm. Pemberian EUA ini didasarkan pada hasil evaluasi keamanan, khasiat dan mutu dari vaksin yang dilakukan BPOM bersama tim ahli dalam Komite Nasional Penilai Vaksin Covid-19 dan ITAGI serta klinisi terkait lainnya.

Berdasarkan evaluasi, dua dosis vaksin Sinopharm yang diberikan dengan jeda 21 sampai 28 hari memperlihatkan profil keamanan yang baik.

2. Menggunakan virus yang dinonaktifkan

Vaksin buatan Beijing Bio-Institute Biological Products Co, salah satu unit Sinopharm atau China National Biotec Group (CNBG) ini menggunakan platform virus yang dimatikan atau inactivated virus. Ini merupakan platform yang juga digunakan untuk vaksin CoronaVac dari Sinovac. 

3. Memiliki tingkat kemanjuran 78 persen

Jika dibandingkan dengan dua vaksin yang saat ini sudah digunakan untuk vaksinasi massal, vaksin Sinopharm ini memiliki kemanjuran alias efikasi yang paling tinggi. Menurut keterangan kepala BPOM Penny Lukito, berdasar uji klinis fase 3 di Uni Emirat Arab pada 48 ribu relawan, efikasinya mencapai 78 persen.

Ini tentu jauh lebih tinggi dibanding vaksin AstraZeneca dan Sinovac yang saat ini sudah digunakan di Indonesia. Vaksin AstraZeneca hanya memiliki efikasi 62,1 persen sedangkan vaksin Sinovak 65,3 persen.

4. Efek samping cenderung ringan

Sama seperti vaksin Covid-19 lainnya, vaksin Sinopharm juga memiliki sejumlah efek samping saat digunakan. Namun menurut Penny, efek samping yang ditimbulkan masih dalam kategori ringan dan masih bisa ditoleransi tubuh.

Efek samping yang muncul pun jarang terjadi. Misalnya bengkak, terasa sakit, dan kemerahan yang hanya dirasakan oleh 0,01 persen orang. Sementara sakit kepala, nyeri otot, demam, dan batuk memiliki tingkat kejadian 0,1 persen.

5. Mampu memicu respon imun sampai 99,52 persen

Berdasarkan hasil uji klinis fase III di Uni Emirat Arab, kemampuan vaksin Sinopharm dalam memicu respon kekebalan tubuh atau imunogenitas tergolong tinggi. Pada lansia angkanya mencapai 100 persen sementara pada orang dewasa 99,52 persen.

6. Harga

Untuk harga resmi di indonesia memang masih belum diumumkan. Namun CEO Sinopharm Lui Jengzhen pada Agustus 2020 pernah mengungkap kepada SCMP jika harga vaksin tersebut sekitar 1.000 yuan atau sekitar Rp 2,1 juta untuk dua dosis.

Tetapi berdasarkan laporan The New York Times, Hungaria hanya membayar USD 36 atau sekitar Rp 522 ribu untuk setiap dosis. Jadi jika membutuhkan dua dosis, maka harga yang harus dibayarkan menjadi Rp 1,05 juta.

Related Articles
Current Issues
Belum Semua, Ini Daftar Vaksin yang Sudah Bisa Mendapat Booster di Januari

Current Issues
Gratis! Ini Syarat dan Cara Mendapatkan Vaksin Booster

Current Issues
Fakta-Fakta Vaksin Covid-19 AstraZeneca yang Sudah Tiba di Indonesia