Sport

Bisa All England Final Lagi, lho!

DBL Indonesia

Posted on April 30th 2021

Jangan-jangan duel melawan Bayern Munich di perempat final jadi peak performance Paris Saint-Germain PSG). Lihat saja penampilan mereka saat menjamu Manchester City di Stadion Parc des Prince Paris Kamis (29/4) dini hari. PSG yang kalah 1-2 dari City seperti tim yang baru belajar main bola. Megabintangnya, Kylian Mbappe, salah satu contohnya. Striker berusia 22 tahun itu sama sekali tak melepaskan shot on goal. Mbappe hanya sempat dua kali memberikan umpan kunci. Selebihnya, Mbappe praktis ghosting. Entah raib ke mana?

Dengan demikian, kerja Manchester City pekan depan jadi lebih mudah. Kemenangan City itu bahkan makin mendekatkan mereka dengan all England final atau final sesama Inggris. Itu berarti, Inggris akan mencatat prestasi serupa pada 2018/2019. Kala itu Liverpool bertemu Tottenham Hotspur. Sebab, Rabu lalu Chelsea berhasil menahan imbang Real Madrid 1-1 di Valdebebas, Madrid. Akankah prediksi itu menjadi kenyataan? Entahlah. Yang jelas, peluang tersebut terbuka lebar. Inilah kans emas tim Inggris.

PSG sebetulnya tidak layak kalah. Dua gol City terjadi kerena keteledoran pemainnya. Gol Kevin de Bruyne sebetulnya umpan. Namun, karena pemain belakang PSG saling berharap membuat bola nyelonong masuk gawang. Gol kedua Riyad Mahrez terjadi karena persoalan pagar betisnya yang tidak disiplin menutup celah. ''Paredes dan Kimpembe justru membelakangi tendangan itu,'' ucap Wenger seperti dikutip L'Equipe kemarin (29/4).

Sampai-sampai Arsene Wenger yang notabene menjadi pendukung PSG saja berang. Ia mengecap pemain PSG emosional dan bodoh. Celakanya, di saat tim tertinggal, Idrissa Gueye justru menerima kartu merah karena menghajar kaki Ilkay Guendogan.

Menurut Wenger, runtuhnya babak kedua PSG terjadi karena disiplin tim yang buruk. ''Saya pribadi yakin bahwa gol kedua tidak dapat diterima untuk level itu. Ini bukan kali pertama saya melihat para pemain berbalik dan City memanfaatkannya,'' tambah Wenger.

Menurut Wenger, setelah kedudukan imbang 1-1, PSG jadi tidak terkontrol. PSG  memang agresif, tapi malah cenderung emosional. Cara itu, kata Wenger, sangat bodoh.

Wenger juga yakin kampanye domestik yang penuh gejolak, yakni PSG saat ini berada di urutan kedua klasemen dan satu poin di belakang Lille, telah memengaruhi kepercayaan diri dan cara bermain pasukan Mauricio Pochettino.

Sang pelatih juga tidak habis pikir dengan situasi di lapangan. Dua gol itu tidak perlu terjadi. ''Saya sulit sekali menerima. Gol seperti itu malah terjadi di semifinal,'' sebut Pochettino, eks pelatih Tottenham Hotspur.

Daily Mail melaporkan, ada situasi khusus yang terjadi sehingga City akhirnya unggul. Situasi khusus tersebut terjadi ketika Kevin de Bruyne memberikan izin kepada Riyad Mahrez untuk melakukan tendangan bebas.

Pada menit ke-71, City dapat tendangan bebas. Jaraknya sekitar 20 yard. Itu jarak ideal buat Kevin de Bruyne. Di saat itulah, Mahrez bertanya apakah ia bisa mengambilnya. De Bruyne mengizinkan pemain Aljazair itu mengambilnya.

''Saya bilang kalau kamu yakin dengan dirimu sendiri, kenapa tidak? Saya percaya pada semua rekan satu tim saya,'' kata De Bruyne kepada BT Sport.

De Bruyne dianugerahi man of the match atas penampilannya pada malam itu, tetapi segalanya bisa menjadi sangat berbeda setelah Marquinhos menyundul gol pembuka untuk PSG 15 menit berlalu.

Namun, tim asuhan Pep Guardiola memperlambat segalanya di babak kedua. Akhirnya kesabaran mereka membuahkan hasil. ''Masih ada satu pertandingan lagi. Kami berharap semuanya berjalan sesuai dengan rencana,'' kata Pep Guardiola. (Max Wangge/Harian Disway)

Tulisan ini sebelumnya telah tayang di Harian Disway (partner Mainmain.id)

Artikel Terkait
Sport
Nagelsmann Menuju Klub Impian

Sport
Bumerang False Nine Guardiola

Sport
Tebas Masa Honey Moon Tuchel