Portrait

Menang Oscar Kategori Sutradara Terbaik, Chloe Zhao Cetak Sejarah di Hollywood

Jingga Irawan

Posted on April 26th 2021

Chloe Zhao (Credit: Indie Wire)

Chloe Zhao mencetak sejarah di Hollywood dengan menjadi wanita Asia pertama dan wanita kedua yang memenangkan penghargaan sutradara terbaik dalam perhelatan Oscars 2021 yang berlangsung Minggu (25/4).

Zhao yag berasal dari Tiongkok, mengenyam pendidikan di Inggris, dan tinggal di Amerika Serikat tersebut juga berhasil mengantarkan film garapannya, Nomadland, memenangkan kategori film terbaik di ajang Academy Awards-93 yang diselenggarakan oleh Academy of Motion Picture Arts and Sciences.

Siapakah Chloe Zhao?

Setelah Kathryn Bigelow menjadi wanita pertama yang memenangkan sutradara terbaik untuk The Hurt Locker 11 tahun lalu, kini giliran Zhao diakui sebagai salah satu pembuat film terbaik dan berbakat bersama Nomadland. Perempuan berusia 39 tahun itu telah menjadi sutradara paling diperbincangkan dalam beberapa tahun terakhir di Hollywood.

Zhao lahir di Beijing, ayahnya adalah seorang eksekutif baja yang sukses dan ibu tirinya adalah aktris komedi Tiongkok yang terkenal, Song Dandan. Dalam pidato penerimaan Piala Oscar untuk kategori sutradara terbaiknya pada Minggu (25/4), Zhao mengingat masa kecilnya bersama ayahnya, mengatakan bahwa ada pelajaran penting yang membuatnya maju hingga hari ini.

Pujian dan Kontroversi Tiongkok

Terlepas dari semua penghargaan dan asal kelahirannya, Chloe Zhao sebenarnya memiliki hubungan yang rumit dengan negara asalnya, terutama sejak interview dengan Filmmaker Magazine di tahun 2013 yang muncul kembali. Kala itu, dia mengatakan ada banyak kebohongan saat dia tumbuh dewasa.

“Itu terjadi ketika saya masih remaja di Tiongkok, berada di tempat di mana ada kebohongan di mana-mana,” katanya.

Pihak berwenang Tiongkok pun merespons pernyataan tersebut dengan memblokir pemasaran dan larangan menyebutkan Nomadland di media sosial. Namun, setelah kemenangannya diumumkan, banyak pujian datang dari pengguna di platform media sosial Tiongkok, Weibo, dengan memanggilnya sebagai "Cahaya Tiongkok", setelah pidatonya merujuk pada warisan Tiongkok dan masa kecilnya.

Masa Remaja dan Dimulainya Karier dalam Industri Film

Zhao pindah ke Inggris untuk belajar di Brighton pada usia 14 tahun, tepatnya di pertengahan 1990-an, meskipun saat itu ia hanya sedikit bisa berbahasa Inggris.

"Yang paling saya ingat tentang dia adalah bahwa dia menyukai tantangan, dengan cara yang baik. Dia datang ke negara yang berbeda, budaya yang berbeda, selalu mempertanyakan mengapa kami melakukan sesuatu, dan bersedia untuk terlibat. Dia jelas sangat cerdas dan sangat cepat menguasai bahasa Inggris,” kata Alison Withers, mantan guru di Brighton College, sebuah sekolah berasrama, kepada BBC.

Setelah menetap di Brighton, dia pindah ke AS dan belajar ilmu politik di Massachusetts sebelum akhirnya pindah ke New York pada tahun 2010 untuk mendaftar di program film Tisch School of the Arts NYU, yang mana direktur artistiknya adalah Spike Lee.

Dari sana lah, dia mulai mengerjakan film feature pertamanya, Songs My Brothers Taught Me, sebuah drama tentang mengenai Native American di South Dakota, serta melibatkan aktor non-profesional. Saat di NYU, dia juga menemukan banyak relasi, salah satunya dengan sesama mahasiswa pascasarjana Joshua James Richards, yang telah bekerja sebagai sinematografer di ketiga film Zhao.

Chloe Zhao dan Joshua James Richards

Saat mengerjakan Songs My Brothers Taught Me, Zhao juga bertemu dengan seorang pengendara rodeo bernama Brady Jandreau, dan memutuskan untuk membuat film berikutnya berdasarkan kisah kecelakaan rodeo Brady, The Rider, yang rilis pada tahun 2017.

The Rider mulai memperlihatkan apa yang telah menjadi ciri khas Zhao dan Richards, dengan menggunakan casting non-aktor. Tujuannya untuk menyampaikan drama pribadi yang penuh kasih dan mengharukan dalam bentuk realitas nyata.

Menyukai Seseorang yang Memiliki Hidup Bebas

Zhao sempat melakukan interview dengan The Telegraph yang membahas tentang kisah-kisah menarik baginya.

 "Ke mana pun saya pergi dalam hidup, saya selalu merasa seperti orang luar. Jadi saya secara alami tertarik pada orang lain yang hidup di pinggiran, atau tidak menjalani gaya hidup arus utama,” katanya. 

Dia tertarik pada cerita orang-orang yang tinggal dalam van berjalan, yang kehidupannya sementara, penuh tantangan dan perjuangan, tetapi terbebaskan dari kegiatan sehari-hari, seperti yang didokumentasikan dalam buku non-fiksi 2017 Nomadland: Surviving America in the Twenty-First Century oleh Jessica Bruder. Dan akhirnya diadaptasi menjadi film oleh Zhao.

Zhao mengenal banyak orang dari buku tersebut, dan mengajak beberapa dari mereka untuk memainkan versi diri mereka sendiri dalam film Nomadland bersama dengan karakter utama Fern, peran fiksi yang dimainkan oleh Frances McDormand.

Fern menemukan kehidupan baru di jalan serta komunitas baru di antara sesama penghuni van nomaden yang dilaluinya setelah kematian suaminya dan kemunduran perusahaan tempat dia bekerja. Nomadland telah digadang menjadi pelopor Oscar sejak September.

Dari pembuat film independen, sekarang Zhao telah pindah ke dunia film yang lebih besar. Dia bakal mengarahkan The Eternals bersama studio produksi Marvel, tentang pahlawan super abadi yang diperankan oleh Angelina Jolie, Salma Hayek, Richard Madden dan Kumail Nanjiani.(*)

 

Related Articles
Entertainment
Gara-gara Komentar Kontroversial, ‘Shang-Chi’ Kemungkinan Tak Rilis di Tiongkok

Entertainment
BAFTA Film Awards 2021 Sukses Digelar, 'Nomadland' Menang Banyak

Current Issues
Tiongkok Siapkan Hotline untuk Laporkan Komentar Negatif Soal Pemerintah