Opinion

Laki-Laki Bisa Jadi Korban Pelecehan Seksual, Tapi Toxic Masculinity Menolaknya

Dibuktikan dengan perkataan menyakitkan dari warganet

Kezia Kevina Harmoko

Posted on April 25th 2021

(Ilustrasi: Genetic Literacy Project)

Baru-baru ini dunia maya gonjang-ganjing karena kasus dugaan pemerkosaan yang dilakukan seorang penyanyi dangdut asal Probolinggo pada laki-laki berusia 16 tahun. Dilansir dari Kompas, anak tersebut dipaksa minum minuman keras hingga mabuk dan dicabuli tiga hari berturut-turut sejak Minggu (11/4) lalu. Ayah korban tidak terima dan melaporkan kejadian yang menimpa anaknya ke polisi.

Warganet yang budiman tentunya langsung menyerbu akun yang mengunggah berita ini dengan beragam komentar. Tentu bukan memberikan dukungan untuk si korban. Mayoritas komentar intinya….

“Kok nurut aja tiga hari berturut-turut? Kok nggak kabur?”

“Laki-lakinya gak suka sama perempuan kali!”

“Si anak juga mau.”

“Masa depan si anak hancur, kok bisa?”

Tangkapan layar dari unggahan Instagram @portalbalikpapan

Percaya atau nggak, semua komentar tersebut secara gak langsung menyalahkan korban alias victim blaming. Si anak jelas adalah korban perkosaan, tapi fakta tersebut ditepis dengan alasan “dia kan laki-laki, nggak mungkin jadi korban lah!”

Laki-laki bisa jadi korban

Pelecehan seksual atau pemerkosaan nggak memandang gender. Kalau seseorang nggak memberikan persetujuan atas apa yang dilakukan dengan tubuhnya, merasa terganggu, terancam, atau tidak nyaman atau pelaku tahu bahwa sasarannya merasakan hal tersebut—itu sudah bisa masuk dalam pelecehan atau pemerkosaan.

Sayangnya, kita hidup di lingkungan di mana laki-laki dipandang sebagai sosok yang seharusnya selalu bisa melawan karena dipandang lebih kuat dari perempuan.

Apa itu toxic masculinity

Anggapan laki-laki lebih kuat dalam segala hal dari perempuan memang anggapan yang umum (tapi tidak tepat). Seksisme memang subur banget di negara kita, diperkuat dengan pandangan maskulinitas yang kurang tepat. Yup, toxic masculinity.

Dilansir dari Medical News Today, toxic masculinity adalah penilaian maskulinitas dengan anggapan laki-laki itu harus kuat, memiliki sedikit emosi (nggak baperan), bisa menghidupi diri sendiri, mendominasi, dan jantan secara seksual.

See? Para warganet yang Budiman tadi memandang laki-laki dengan dasar toxic masculinity. Korban seharusnya kuat sehingga bisa melawan dan kabur, kalau gak kabur berarti menikmati. Si anak juga dipandang “nggak jantan” karena menganggap perlakuan yang ia terima adalah sebuah perkosaan.

Beberapa komentar juga menganggap aneh ucapan ayah dari sang korban yang menyebut masa depan sang anak bisa hancur. Mereka menganggap korban “tidak rugi apa-apa”, berbeda seperti perempuan yang punya kemungkinan hamil. Mereka tentunya nggak memperhitungkan dampak psikologis si anak yang masih di bawah umur, karena “laki-laki sejati pasti menikmati kalau diajak begitu.”

Korban perkosaan adalah korban, apa pun gender mereka. Jangan malah menyudutkan korban yang sudah punya luka batin tersendiri. (*)

Related Articles
Opinion
Young Lex, Bahan C*li, dan Pelecehan Seksual

Opinion
Selamat Hari Kartini, Jangan Normalisasi Seksisme, Misogini, dan Patriarki

Entertainment
Charli D’Amelio Dihujat karena Rumor Akan Hadir di Met Gala, Akhirnya Buka Suara