Current Issues

Orang Terdekat Kalian Ada yang Tidak Mau Vaksin? Begini Loh Cara Membujuknya

Dwiwa

Posted on April 21st 2021

Program vaksinasi Covid-19 sudah dilakukan sejak awal tahun dan jumlah orang yang divaksin sudah semakin banyak. Meski begitu, tidak bisa dipungkiri jika ada sebagian yang masih menolak untuk vaksin.

Sebuah survei yang dirilis oleh Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada 23 Maret lalu bahkan mengungkap jika hanya ada 46 persen warga Indonesia yang dengan yakin bersedia untuk divaksin Covid-19. 

Sementara itu, ada 28 persen dari peserta survei yang menyatakan menolak untuk divaksin dan 23 persen masih ragu untuk terlibat dalam program vaksinasi. Alasan keragu-raguan atau penolakan ini pun beragam. Mulai dari keamanan vaksin, pengaruh kampanye tolak vaksin, hingga kekhawatiran tertular Covid-19 saat divaksin.

Lalu, jika ada orang-orang terdekat kita yang menolak atau masih ragu-ragu untuk mengikuti program vaksinasi, apa yang harus kita lakukan? Dilansir dari USA Today, berikut beberapa hal yang bisa kalian lakukan untuk meyakinkan mereka untuk terlibat dalam program vaksinasi.

1. Diskusikan soal ketakutan mereka, jangan meremehkan

Menurut Rebecca Ortiz, asisten profesor di S.I Newhouse School of Public Communications di Syracuse University mengatakan jika penting untuk menciptakan ruang terbuka bagi mereka untuk mengungkapkan alasan ketakutan tersebut.

“Orang-orang memiliki kekhawatiran tentang efek samping dan keamanannya, dan sangat normal untuk memiliki kekhawatiran tersebut. Jika kita membangun ruang di mana kita dapat melakukan percakapan ... orang-orang yang menolak lebih bersedia mendengar dari orang terkasih,” ujarnya.

Dr. Georgia Gaveras, kepala psikiater dan salah satu pendiri Talkiatry, penyedia layanan kesehatan mental, mengatakan jangan meremehkan perasaan atau informasi yang salah. Menurut para ahli, misinformasi viral di media sosial telah memengaruhi kepercayaan publik soal vaksin, terutama pada komunitas yang rentan.

Gaveras mengatakan jika orang terkasih kita mengutip sumber yang tidak meyakinkan, periksa sumbernya bersama-sama. Baca dan lihat sumber bersama-sama. Diskusikan dengan baik-baik dan jangan diabaikan begitu saja.

2. Fokus pada perasaan bukan fakta

Meskipun misinformasi bisa menjadi penyebab keraguan vaksin, para ahli mengatakan itu buka yang utama. Menurut Orits, ini lebih kepada emosi seperti “ini terasa tidak benar bagiku”. Jika perasaan ini bisa keluarkan dan dibicarakan, ini akan kehilangan kekuatannya.

Alih-alih memfokuskan percakapan berbasis sains, bicarakan soal perasaan. Apakah mereka takut dengan efek samping vaksin? Apakah mereka khawatir dengan varian baru? Apakah mereka takut akan efek jangka panjang yang mungkin timbul? “Ini lebih merupakan hal yang emosional daripada lainnya. Kecemasan adalah faktor pendorong, ketakutan akan yang tidak diketahui,” ujar Gaveras.

3. Normalisasikan vaksin Covid-19

Meskipun Covid-19 baru di dunia, tetapi teknologi yang digunakan untuk mengembangkan vaksin yang digunakan sudah terkenal. Vaksin AstraZeneca dan Johnson & Johnson misalnya, menggunakan pendekatan vektor virus untuk pembuatannya yang juga digunakan pada vaksin wabah Ebola dan lainnya.

Sementara vaksin mRNA seperti Pfizer-BioNTech dan Moderna, merupakan teknologi lebih baru. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengatakan ilmuwan telah mempelajari vaksin mRNA selama beberapa dekade untuk potensinya memerangi penyakit.

Menurut Maya Clark-Cutaia, praktisi perawat dan asisten profesor di NYU Rory Meyers College of Nursing, untuk membujuk orang terkasih agar mau divaksinasi adalah dengan menormalkan vaksin Covid-19. Ini sama seperti vaksin lain yang selama ini sudah digunakan.

Soal kecepatan pengembangan vaksin yang mungkin terdengar mengerikan, Clark-Cutaia mencoba meyakinkan orang terkasihnya jika kemajuan teknologi di luar perawatan kesehatan juga terjadi dengan cepat.

4. Jelaskan mengapa kita harus divaksin

Ada banyak alasan ilmiah mengapa mendapat vaksinasi penting untuk melawan Covid-19. Tetapi menurut Ortiz, orang akan lebih yakin jika itu merupakan alasan pribadi. “Orang yang dicintai mendukung mereka, bukan menkan atau menindas, tetapi untuk memberi dukungan dan menjelaskan mengapa mereka divaksinasi,” ujar Ortiz.

Kita bisa memakai alasan untuk berkumpul kembali dengan teman dan keluarga yang divaksinasi, melindungi orang terkasih yang rentan berisiko terkena penyakit parah, atau bepergian dengan risiko infeksi yang rendah.

5. Beri waktu mereka untuk berpikir

Orang tidak akan langsung berubah pikiran setelah berdiskusi. Jadi berikan waktu untuk mereka berpikir dengan nyaman dan memikirkan kembali alasan mereka menolak. Penting untuk selalu mendukung mereka dan menunjukan perhatian saat seseorang lebih terbuka soal mendapat vaksinasi.

Gaveras mengatakan bersiaplah untuk melakukan percakapan beberapa kali untuk meyakinkan mereka jika keputusan apapun yang diambil kalian tetap sayang mereka. Jika perlu, temani mereka saat tiba waktunya jadwal vaksinasi.

 

Semangat yuk untuk meyakinkan orang terdekat kita untuk mau divaksin agar pandemi Covid-19 bisa segera berakhir dan tidak lebih banyak korban berjatuhan. (*)

Artikel Terkait
Current Issues
Kapan Kita Butuh Booster Vaksin Covid-19?

Current Issues
WHO Setujui Vaksin Sinovac Biotech untuk Penggunaan Darurat Lawan Covid-19

Current Issues
Ini Syarat dan Sejumlah Lokasi Vaksin Covid-19 untuk Remaja 12-17 Tahun