Opinion

Selamat Hari Kartini, Jangan Normalisasi Seksisme, Misogini, dan Patriarki

Apa sih perbedaan misogini, seksisme, sama patriarki?

Kezia Kevina Harmoko

Posted on April 21st 2021

(Ilustrasi: Laura Lhuillier/Dribbble)

Selamat Hari Kartini! Lebih dari satu abad lalu, seorang pahlawan perempuan bernama Raden Adjeng Kartini berjuang agar kaum perempuan bisa mengenyam pendidikan dan memperjuangkan ketidakadilan berdasarkan gender.

Namun, perjuangan Kartini memperjuangkan agar perempuan bisa memperoleh hak yang setara dengan laki-laki sebenarnya masih belum usai. Kita masih harus berhadapan dengan sederet diskriminasi berbasis gender, seperti seksisme dan misogini. Tindakan tersebut erat banget di lingkungan kita yang masih didominasi budaya patriarki. Istilah-istilahnya agak runyam ya. Mari kita bedah dulu.

Definisi

Seksisme adalah diskriminasi berdasarkan gender atau pemikiran yang percaya bahwa laki-laki itu lebih superior daripada perempuan.

Misogini adalah bentuk diskriminasi terhadap gender perempuan yang melibatkan kebencian. Seorang misoginis akan memandang perempuan sebagai pihak yang memang pantas ditindas, disudutkan, dan dieksploitasi.

Seksisme dan misogini sama-sama menomorduakan perempuan dibanding laki-laki, tapi misogini bisa dibilang lebih keras karena ada kebencian di sana.

Seorang yang misogini sudah pasti seksis, tapi seorang yang seksis belum tentu misoginis. Kalau benci banget sama kaum perempuan dia pasti merasa laki-laki lebih superior. Kalau dia merasa laki-laki lebih tinggi derajatnya, belum tentu benci sama  perempuan. Pokoknya harus ada unsur kebencian dulu, baru bisa dibilang misogini.

Nah, sekarang apa itu patriarki? Sering banget kan dengar ujaran “Lawan patriarki!” atau sejenisnya. Menurut KBBI, Patriarki sendiri memiliki arti perilaku mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu.

Patriarki sendiri sudah menjadi sistem di kehidupan kita. Nah, misogini dan seksisme berperan besar dalam memperkuat sistem patriarki. Bisa dibilang sebagai faktor yang membuat patriarki terus eksis sampai sekarang

Kenyataan yang terjadi

Di Indonesia, bisa dibilang budaya patriarki masih kental banget. Misalnya petinggi perusahaan atau pejabat yang lebih banyak laki-laki daripada perempuan. Terkadang, masih ada anggapan “perempuan tugasnya urus rumah aja” yang membuat perempuan yang sebenarnya mampu jadi tersisih.

Di luar itu, kita sendiri sering kali secara gak sadar menjadi seorang yang seksis atau misoginis. Misalnya contoh yang dibuat oleh Magdalene. Sering banget kalau ada perempuan korban pelecehan seksual, yang disalahkan justru korbannya.

Misal, “Salah sendiri pakai baju kayak gitu, nggak heran digodain!”

Atau kalau berkaitan tentang performa, “Perempuan pasti nggak tahu apa-apa, kalau memimpin pasti jadi berantakan!”

Dua kalimat tersebut termasuk dalam tindakan misoginis karena menyebut perempuan sebagai pihak yang memang pantas disudutkan serta memandang rendah kemampuan perempuan (ada kebencian di sana).

Pasti sering dengar kalimat, “Emak-emak kalau naik motor pasti deh kacau, sein kanan tapi belok kiri!” Atau kalimat, “Marah-marah terus, lagi PMS ya?”

Dua kalimat itu termasuk dalam tindakan seksisme karena belum tentu yang bicara itu benci sama perempuan, tapi jelas merendahkan. Gak semua ibu-ibu yang naik motor pasti sein kanan belok kiri kok. Orang marah-marah juga kan wajar, namanya manusia punya emosi (tapi kalau perempuan, pasti dituduh lagi mau/lagi datang bulan).

Nah, kalau kamu masih sering menerima kalimat atau justru melontarkan kalimat-kalimat tersebut, mulai berhenti deh. Jangan normalisasi seksisme dan misogini, biar sistem patriarki juga bisa perlahan hilang. Selamat Hari Kartini! (*)

Related Articles
Entertainment
Selamat Hari Kartini! Tonton deh 5 Film tentang Perempuan Hebat ini di Netflix!

Entertainment
Olivia Rodrigo Balas Kritik Seksis yang Sebut Lagunya Cuma Soal Percintaan Receh

Opinion
Laki-Laki Bisa Jadi Korban Pelecehan Seksual, Tapi Toxic Masculinity Menolaknya