Current Issues

Covid-19 Berdampak Pada Kesehatan Mental, Apa yang Terjadi Saat Pandemi Selesai?

Dwiwa

Posted on April 20th 2021

 

Di beberapa negara, jumlah kasus dan kematian akibat Covid-19 mengalami penurunan. Vaksinasi massal juga terus meningkat setiap hari. Dan terlepas dari meningkatnya kasus Covid-19 di negara tertentu dan penolakan vaksin pada sejumlah komunitas, kehidupan pelan-pelan kembali normal.

Tetapi menurut laporan Healthline, ahli mengatakan jika banyak orang diprediksi akan mengalami sejumlah dampak kesehatan mental yang masih akan dirasakan setelah berhasil bertahan selama pandemi.

Pandemi telah berdampak besar pada kesehatan mental banyak orang di seluruh dunia. Banyak yang bergumul dengan stres dan kecemasan yang datang bersama dengan gelombang pertama lockdown.

Banyak yang khawatir tentang dampak emosional yang ditimbulkan akibat kehilangan orang tercinta bagi diri mereka teman dan tetangga. Dan yang lainnya merasa sulit untuk menghadapi kesedihan dan keterasingan.

Beberapa merasa sulit untuk menangani beberapa konsekuensi lain dari pandemi dan lockdown yang menyertainya, termasuk kehilangan pekerjaan dan ketidakamanan secara finansial.

Ketika kehidupan kembali normal, para ahli memperingatkan mungkin ada dampak yang tetap bertahan seperti post traumatic stress disorder (PTSD) bagi beberapa orang. Entah akibat kehilangan orang yang dicintai, isolasi berkepanjangan, atau memperburuk masalah kesehatan mental yang mendasarinya.

Peringatan ini muncul setelah sebuah studi baru Trusted Source yang dilakukan oleh para peneliti dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) dan Cencus Bureau.

Studi menemukan bahwa antara 19 Agustus 202 dan 1 Februari 2021, jumlah orang yang mengalami gejala kecemasan atau depresi selama tujuh hari terakhir meningkat dari 36,4 persen menjadi 41,5 persen.

Mereka yang melaporkan membutuhkan terapi tetapi tidak menerima konseling kesehatan mental dalam 4 minggu terakhir meningkat dari 9,2 menjadi 11,7 persen. Peningkatan tersebut lebih menonjol pada orang berusia antara 18 dan 29 tahun dan memiliki pendidikan lebih rendah dari sekolah menengah.

“Tidak diragukan lagi akan ada periode penyesuaian yang diperlukan agar situasi ini terasa nyaman lagi, meskipun lamanya waktu dapat bervariasi tergantung pada tingkat isolasi seseorang selama pandemi,” ujar Jenna Carl, PhD, psikolog yang berpraktik dan berlisensi serta wakil presiden Pengembangan Klinis & Urusan Medis di Big Health, sebuah perusahaan terapi digital.

Dr. Tara Swart, seorang ahli saraf, penulis, dan dosen senior di MIT Sloan School of Management, mengatakan sementara beberapa orang akan merasakan kegembiraan, yang lain akan merasa takut dan ragu-ragu saat pandemi berakhir. Swart menekankan bahwa orang mungkin menjadi lelah saat mulai melanjutkan aktivitas normal.

“Pembukaan kembali akan disertai dengan periode penyesuaian, yang mungkin melibatkan suasana hati yang menurun karena tekanan ketidakpastian dan harus membuat keputusan yang tidak lagi biasa atau tidak perlu kita buat sebelumnya,” ujar Swart.

Menurutnya, ini akan membutuhkan lebih banyak usaha dari otak dan dapat menyebabkan kelelahan mental. Bahkan orang-orang yang memulai kembali memiliki peluang untuk terlalu terstimulasi dengan mengubah hal-hal tertentu terlalu cepat dan kemudian merasa lelah.

Swart menambahkan jika ada juga kemungkinan bahwa orang mungkin merasakan elemen kecemasan sosial atau agorafobia ketika mereka bertemu orang banyak di tranportasi umum atau dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Dia mengingatkan bahwa stres dan perubahan selalu membawa kejutan seperti roller coaster. Siklusnya mereka menjadi mudah tersinggung, tidak mampu mengatur emosi, muncul pikiran negatif, tawar menawar dengan diri sendiri dan orang lain; dan cemas, depresi, dan pada akhirnya tahap penerimaan dan tanggung jawab.

“Kita cenderung untuk melakukan siklus ini beberapa kali sampai normal baru terbentuk dan dipertahankan. Ini bisa muncul (seperti pada tahun lalu) sebagai insomnia, mimpi kecemasan, dan masalah kulit,” ujar Swart.

Briony Leo, seorang psikologis klinis, mengatakan bahwa bagi banyak orang, keluar rumah setelah sekian lama di rumah akan menimbulkan kecemasan.

“Bahkan berada satu ruangan dengan orang lain akan terasa aneh, terutama dengan tambahan kesadaran tentang menghirup udara orang lain dan berada dalam jarak dekat,” ujar Leo yang juga kepala pembinaan di Relish, sebuah aplikasi tentang hubungan.

Dia menambahkan jika seseorang merasa cemas tentang membersihkan barang-barang dan mengamankan diri dari Covid, itu tidak akan langsung hilang hanya karena mereka divaksinasi. Butuh waktu agar kekhawatiran ini menghilang.

Para ahli mengatakan orang dapat memerangi beberapa masalah yang masih akan menghantui ini antara lain dengan mengatur kecepatan diri mereka sendiri dan mengantisipasi kecemasan lebih awal.

Leo mengatakan jika orang harus bersiap menghadapi banyak emosi yang berbeda dan menerimanya seperti biasa. Terkurung selama setahun bukan hal biasa, dan saat kembali ke kehidupan normal akan butuh periode penyesuaian ketika semuanya kembali.

“Jadi beri ruang untuk emosi yang kuat, dan jika itu membuat tertekan atau bertahan lebih dari satu minggu, hubungilah terapis yang bisa memahami. Mengungkap mengapa perasaan ini ada, dan tujuan apa yang mereka layani adalah cara bagus untuk memulai,” tambah Leo. (*)

 

Related Articles
Current Issues
30 Persen Penyintas Covid Mungkin Mengalami PTSD

Current Issues
Siswa Kembali ke Sekolah, Bagaimana Sekolah Memenuhi Kebutuhan Mereka?

Current Issues
Naiknya Kasus Bunuh Diri, Overdosis, dan KDRT di AS Selama Pandemi Covid-19