Current Issues

Varian Virus Corona Baru Kepung AS, Lebih Banyak Anak Muda Dirawat

Dwiwa

Posted on April 19th 2021

Varian virus corona B117 yang pertama kali diidentifikasi di Inggris telah menyebar ke puluhan negara di dunia. Bahkan, varian yang lebih menular ini sudah mendominasi di Amerika Serikat. Dan tampaknya virus ini menjadi pukulan berat untuk orang-orang muda di negara itu.

“Kasus (Covid-19) dan kunjungan ruang gawat darurat meningkat. Kami melihat ini meningkat pada orang-orang muda, sebagian besar yang belum mendapat vaksin,” ujar Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) Dr Rochelle Walensky seperti dilansir dari CNN.

Walensky mengatakan jika banyak orang muda yang mengalami komplikasi Covid-19 yang tidak terduga. Ini menjadi pengingat penting bahwa bukan hanya orang tua atau orang yang memiliki penyakit penyerta saja yang berisiko mengalami Covid-19 parah.

Menurut CDC, kasus B117 telah dilaporkan di 50 negara bagian Amaerika Serikat. “Apa yang kami lihat di berbagai tempat saat ini adalah orang muda yang sakit, dirawat di rumah sakit. Padahal pada awal pandemi, lebih banyak orang tua,” ujar Jonathan Reiner, profesor kedokteran dan bedah di George Washington University.

Dia menambahkan, alasan lonjakan ini mungkin sesederhana seperti pada populasi orang tua yang lebih dulu terdampak virus dan sekarang mendapat vaksinasi. Selain itu, mereka yang banyak terpapar adalah anak muda yang tidak mendapatkan vaksinasi.

Komisaris negara bagian New Jersey melaporkan pada Maret, mereka mengalami lonjakan 31 persen rawat inap Covid-19 pada anak muda berusia 20 hingga 29 tahun.  Sedangkan kelompok usia 40-49 tahun meningkat 48 persen.

Dr Megan Ranney, direktur Brown-Lifespan Center for Digital Health menyebut jika ini merupakan peningkatan bertahap pada proporsi orang yang lebih muda dalam beberapa bulan terakhir.

Mengutip data dari COVID-Net yang melacak kasus di lebih dari 250 rumah sakit di 14 negara bagian, Ranney menjelaskan jika pada minggu di 26 Desember atau 2 Januari menunjukkan usia 65 lebih, katakanlah, ada 3 ribu yang dirawat dan sisa kelompok usia lainnya 3 ribu. Lebih dari 50 persen adalah usia 65 tahun ke atas.

“Tetapi pada 27 Maret, sepertiga berusia 18 hingga 49 ... sekitar sepertiga usia 50 hingga 64, dan sekitar sepertiga lebih dari 65,” ujar Ranney. Sebagai dokter di ruang gawat darurat, Ranney mengatakan dia kini sering melihat pasien muda yang tadinya sehat berjuang melawan Covid-19.

Ranney menjelaskan jika saat sedang bertugas di UGD, dia belihat beberapa orang muda, yang didefinisikannya sebagai kurang dari 50 tahun, kesulitan bernapas atau mengalami efek samping lain akibat Covid-19.

“Kami juga melihat orang-orang berusia 20-an dan 30-an. Dan orang berusia 20-an dan 30-an lebih kecil kemungkinannya untuk divaksinasi dan lebih mungkin untuk keluar dan melakukan lainnya,” lanjutnya.

Sebagian besar tes virus corona positif tidak melalui pengurutan genom untuk melihat apakah B117 bertanggung jawab atas ini. Tetapi mengingat pengurutan genom meningkat secara nasional, ahli kesehatan mengatakan tidak ada keraguan peningkatan rawat inap pada orang muda disebabkan B117.

Pada kasus Covid-19, orang muda terkadang menjadi korban dari sistem kekebalan mereka yang kuat. Sepanjang pandemi, dokter telah memperhatikan beberapa pasien muda yang tadinya sehat mengalami badai sitokin Covid-19. Ini terjadi saat sistem imun bereaksi berlebihan sehingga berpotensi menyebabkan peradangan parah atau gejala serius lainnya.

“Kami telah melihat orang yang datang ke rumah sakit kami, sangat muda (awal 20-an) ... perlu menggunakan ECMO, yang pada dasarnya adalah mesin jantung-paru selama berhari-hari atau berminggu-minggu karena mereka datang dengan kardiomiopati – yang merupakan respon terhadap badai sitokin,” ujar Reiner.

Dan terpenting untuk diingat, Covid-19 tidak perlu membunuhmu untuk bisa menghancurkan hidup. Semakin banyak orang muda yang terinfeksi membuat dokter khawatir mereka akan melihat lebih banyak komplikasi jangka panjang yang mengganggu.

“Aku tidak bisa memberi tahumu berapa banyak orang yang aku rawat di UGD berusia 20-an, 30-an, dan 40-an tahun, yang tidak pernah cukup sakit untuk masuk UGD berakhir dengan Covid, tetapi sekarang mengalami kesulitan pernapasan yang berkepanjangan,” ujar Ranney.

Tidak sedikit juga yang kehilangan rasa dan bau sehingga berat badan turun karena tidak berselera. Atau mereka memiliki kabut otak. Dan hal ini tidak bersifat universal.

Tidak semua orang yang terkena Covid-19 akan mengalami ini. Tetapi kenyataannya, penyakit ini tidak jinak, terlepas dari apakah mereka dirawat di rumah sakit atau di ICU.

Dari apa yang terjadi di Amerika saat ini, kita bisa belajar bahwa pikiran “aku kebal Covid-19 karena masih muda” adalah salah. Beberapa orang muda bahkan mengalami gelaja jangka panjang hingga setahun. Itu tentu saja akan mengganggu kualitas hidup kita di usia yang harusnya sangat produktif.

Jadi, yuk jangan kendor dalam menerapkan protokol kesehatan. Tetap gunakan masker saat keluar rumah, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, dan hindari kerumunan.

Melindungi diri kita dari Covid-19 adalah bagian dari investasi masa depan. Virus SARS-Cov-2 penyebab Covid-19 ini baru. Belum ada yang tahu bagaimana dampak jangka panjang ke depan pada orang-orang yang berhasil sembuh. Tapi yang sudah jelas, banyak yang mengalami gejala jangka panjang hingga berbulan-bulan usai dinyatakan negatif Covid-19. (*)

 

Artikel Terkait
Current Issues
Covid-19 di Indonesia Menggila, Ini Tips Aman Agar Tidak Tertular Varian Baru

Current Issues
Ada Varian Omicron di Indonesia, Bisa Nggak Ya Liburan dengan Aman?

Current Issues
Kapan Kita Tak Perlu Pakai Masker Saat di Luar Rumah?