Interest

Banyak Perusahaan Salah Menyiasati Produknya Agar Tampak Ramah Lingkungan

Jingga Irawan

Posted on April 10th 2021

Sebagai langkah untuk mencegah krisis lingkungan, tahun lalu Innisfree meluncurkan produk kecantikan Green Tea Seed Serum. Saat itu mereka meluncurkan kemasan dengan label botol kertas, yang bertuliskan “Hello I’m Paper Bottle”. Produk dengan tampilan baru tersebut merupakan bagian dari inisiatif mereka dalam mengurangi penggunaan kemasan plastik.

Namun baru-baru ini, seorang pelanggan mempertanyakan nilai ramah lingkungan dari kemasan produk. Dalam sebuah postingan di Facebook, pelanggan asal Korea Selatan tersebut membagikan robekan foto kemasan Green Tea Seed Serum yang menunjukkan sebenarnya produk tersebut dikemas dalam botol plastik yang dibungkus kertas di lapisan luarnya.

Dilansir dari BBC, pelanggan menuduh perusahaan melakukan "greenwashing" dan "pemasaran yang menyesatkan". Apalagi dalam hitungan hari, postingan tersebut telah dibagikan secara luas dan viral di Korea Selatan, sehingga memicu kritik terhadap Innisfree dan perdebatan tentang pelabelan produk yang konon diklaim ramah lingkungan.

Innisfree kemudian mengklarifikasi label pada kemasan Green Tea Seed Serum dalam pernyataan pada BBC hari Jumat (9/4).

"Produk ini dinamakan 'botol kertas' agar lebih mudah menjelaskan peran pembungkus label kertas di luar botol. Namun kami memahami bahwa seluruh wadah dapat dilihat sebagai bahan kertas karena nama produknya. Kami mohon maaf atas kebingungan yang terjadi dan akan mencoba memberikan informasi yang lebih akurat kepada Anda,” kata juru bicara Amorepacific perusahaan induk Innisfree.

Innisfree mengatakan botol plastik pada produknya menggunakan 51,8 persen lebih sedikit plastik dari kemasan sebelumnya. Menurut Innisfree, baik botol kertas dan wadah plastik produknya sebenarnya dapat disortir dan didaur ulang setelah digunakan. Kemasan produk tersebut juga menyertakan petunjuk tentang cara mendaur ulang kertas serta botol plastik.

Pada Juli tahun lalu, Amorepacific meluncurkan beberapa produk ramah lingkungan dengan tujuan mengurangi penggunaan sekitar 700 ton kemasan plastik pada 2022. Sebab, gelombang keprihatinan publik tentang polusi plastik dalam beberapa tahun terakhir semakin meningkat.

Selain Amorepacific, perusahaan penghasil sampah plastik dalam jumlah besar juga mulai melakukan tindakan mengurangi efek negatif kemasan produknya pada lingkungan.  Namun, para aktivis lingkungan mengatakan niat perusahaan penghasil sampah plastik sejauh ini hanya basa-basi. Justru kegiatan mereka semakin memperburuk kondisi lingkungan dengan limbah kemasan.

Perusahaan yang mempromosikan solusi kemasan “No Plastic” sering dituduh melakukan greenwashing, karena memanfaatkan dan menyesatkan konsumen tentang keunggulan suatu produk ramah lingkungan. Sehingga, solusi dan konsep ramah lingkungan sebenarnya hanya bentuk pemasaran saja.

Sebelumnya, McDonald juga pernah menuai kritik pada 2019. Saat itu mereka mengakui sedotan kertas barunya, yang digambarkan sebagai "ramah lingkungan" sebenarnya tidak dapat didaur ulang.

"Karena perusahaan semakin mendapat tekanan untuk mengatasi masalah plastik mereka, banyak dari mereka yang tergesa-gesa memanfaatkan solusi palsu seperti kertas dan bioplastik yang tidak membantu kita untuk memperbaiki masalah," kata Nina Schrank, juru kampanye plastik senior untuk Greenpeace Inggris.(*)

Related Articles
Interest
Paboco dan Coca-Cola Kolaborasi Uji Coba Botol Kertas Pertama ke Pasaran

Interest
BLACKPINK Bicara Soal Perubahan Iklim dalam Video 'Dear Earth'

Interest
Separuh Sampah Plastik Sekali Pakai di Dunia Berasal dari 20 Perusahaan