Current Issues

Studi: 1 dari 3 Penyintas Covid Mengalami Gangguan Otak atau Kesehatan Mental

Dwiwa

Posted on April 9th 2021

Sebuah studi besar-besaran yang dilakukan selama pandemi memperkirakan 1 dari 3 penyintas Covid-19 didiagnosis dengan kondisi neurologis atau gangguan kejiwaan dalam enam bulan setelah infeksi.

Dilansir dari USA Today, studi yang dipublikasikan di jurnal peer-review The Lancet Psychiatry ini menggunakan lebih dari 230 ribu catatan kesehatan elektronik pasien Covid-19, yang sebagian besar di Amerika Serikat, mengamati 14 gangguan otak dan kesehatan mental yang berbeda.

Tiga puluh empat persen orang yang selamat didiagnosis dengan setidaknya satu dari kondisi ini. Sebanyak 17 persen didiagnosis dengan kecemasan dan 14 persen didiagnosis dengan gangguan mood.

Meksipun diagnosis neurologis lebih jarang, diagnosis tersebut lebih umum pada pasien yang pernah sakit parah selama infeksi Covid-19. Misalnya, tujuh persen pasien yang dirawat di perawatan intensif mengalami stroke dan dua persen didiagnosis dengan demensia.

“Ini menunjukkan bahwa dampak Covid tidak hanya (penyakit itu sendiri) tetapi juga akibat dari kondisi tersebut, yang sangat rumit, tidak hanya melibatkan otak tetapi juga organ lain dalam tubuh,” ujar Dr. William Li, presiden dan direktur medis dari Angiogenesis Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk mempelajari pertumbuhan pembuluh darah yang tidak normal.

Penulis penelitian juga mengamati setidaknya 100 ribu pasien flu dan lebih dari 230 ribu pasien yang didiagnosis dengan infeksi saluran pernapasan selama periode waktu sama dan menemukan diagnosis neurologis dan kejiwaan lebih umum pada pasien Covid-19.

Menurut penelitian tersebut, ada risiko 44 persen lebih besar untuk diagnosis gangguan otak atau kesehatan mental setelah Covid-19 dibandingkan setelah flu dan risiko 16 persen lebih besar dibandigkan dengan infeksi saluran pernapasan.

"Ada kemungkinan infeksi virus corona dapat menyebabkan kecemasan atau depresi, karena kondisi ini dikaitkan dengan peradangan yang biasanya terlihat pada Covid-19," ujar Julie Walsh-Messinger, asisten profesor di departemen psikologi Universitas Dayton. Tetapi gangguan kejiwaan ini juga bisa berasal dari tekanan pandemi itu sendiri.

Merela melihat tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tingi di seluruh dunia terlepas dari (infeksi Covid-19) atau tidak.

"Sulit untuk memisahkan seberapa banyak kecemasan atau depresi yang disebabkan secara umum karena kurangnya kemampuan bersosialisasi, kurangnya kemampuan untuk terlibat dalam kegiatan yang biasanya dinikmati seseorang, ketakutan tentang masa depan dan seberapa banyak hal itu spesifik dalam perkembangan penyakit,” ujarnya.

Besarnya penelitian juga menunjukkan bagaimana efek jangka panjang Covid-19 dapat memengaruhi sistem perawatan kesehatan suatu negara bahkan setelah penyakitnya hilang, tulis penulis utama Paul Harrison, seorang profesor di Universitas Oxford Inggris.

Dia menambahkan meski risiko individu untuk sebagian besar gangguan kecil, efeknya di seluruh populasi mungkin besar untuk kesehatan dan sistem perawatan sosial karena skala pandemi. Sistem perawatan kesehatan perlu tersedia untuk menangani kebutuhan yang diantisipasi.

“Sekalipun saat ini kami harus menutup katup dan tidak ada yang akan terinfeksi Covid, masih ada sekelompok orang yang sudah terpengaruh,” katanya. "Rasanya seperti ada api di rumah kami dan bahkan jika apinya padam dan kami tidak mengalami kerusakan baru, kami harus menangani perkembangan sindrom yang dialami orang-orang ini selama bertahun-tahun yang akan datang." (*)

 

Related Articles
Current Issues
Studi: Pasien Covid-19 Mungkin Lebih Berisiko Terkena Masalah Kesehatan Mental

Current Issues
Pembelajaran Jarak Jauh Tak Hanya Jadi Beban Mental Anak Tapi Juga Orang Tua

Current Issues
Jangan cuma Rebahan, Gerak Yuk. Kata WHO, Segini Minimal Waktu Aktivitas Fisik