Korea

First Impression 'Revolutionary Sisters': Ketika Keluarga Ingin Saling Membunuh

Mainmain.id

Posted on April 6th 2021

Drama akhir pekan terbaru KBS ini menjanjikan banyak hal. Drama keluarga, misteri pembunuhan, romansa, dan komedi sekaligus. Namun, jangan berharap bakal langsung mendapatkan semuanya. Konfliknya keras—bahkan cenderung triggering—dan humornya agak sulit dinikmati.

Drama ini menceritakan Lee Cheol-Soo (diperankan aktor senior Yoon Joo-sang) dan Oh Bong-ja sudah menikah selama 40 tahun. Mereka dikaruniai tiga putri. Hidup berumah tangga tidak selamanya berhias pelangi dan sewangi melati. Namun toh keduanya sama-sama bertahan. Mereka menghadapinya bersama. Meski selalu bergelimang drama dan bertukar kata-kata (kasar).

Maka betapa gusarnya Cheol-soo. Ketika tiba-tiba sang istri mengirimkan gugatan cerai kepadanya. Setelah 40 tahun!

Surat itu dikirimkan ke tempat kerja Cheol-soo. Di sebuah areal konstruksi. Setelah pensiun dari profesi tukang sedot WC, Cheol-soo yang berusia 65 tahun itu memang membantu temannya menjadi builder (baca: tukang bangunan). Bong-ja seolah ingin memastikan bahwa surat gugatan itu benar-benar sampai ke tangan Cheol-soo. Ia makin marah, ketika ketiga putrinya datang. Memaksanya memenuhi gugatan tersebut.

Oh ya, kenalkan dulu dengan tiga anak Cheol-soo. Lee Gwang-nam (diperankan Hong Eun-hee), si anak pertama. Dibesarkan dengan parenting model lama, dia tumbuh menjadi anak manja dan egois. Tidak punya empati dan simpati. Cheol-soo dan Bong-ja merasa berhasil dan bangga, ketika si sulung dipersunting seorang pengacara kaya.

Yang nomor dua, Lee Gwang-sik (Jeon Hye-bin), paling smart. Dia adalah tipikal anak tengah yang harus mengalah kepada kakak dan adik sekaligus. Kuliah dia tertunda karena Cheol-soo memilih menyekolahkan Gwang-nam. Namun, jadinya, dia malah paling dewasa dan bijaksana. Dia berusia 33 tahun, dan bekerja di kantor pemerintahan. Gwang-sik bertunangan dengan cowok pengangguran yang lima tahun lebih muda.

Si bungsu, Lee Gwang-tae, diperankan oleh Go Won-hee. Sifat dia mirip dengan sang kakak pertama. Cerewet, mau menang sendiri. Tidak bisa mengontrol kata-kata. Dia ceria, pintar, dan jago bela diri. Sayang, Gwang-tae sulit berkomitmen kepada apa pun. Jadilah dia hidup dari pekerjaan-pekerjaan paro waktu yang gajinya kecil. Hingga terlilit lintah darat. 

Kelebihannya, tiga sister itu sangat dekat. Gwang-sik sering menginap di apartemen Gwang-nam. Karena dia tidak mau tinggal serumah dengan tunangan dia, sebelum resmi menikah. Meski tidak selamanya akur, ketiganya bersatu untuk urusan-urusan tertentu. Terutama, melawan ayah mereka.

Ya, dalam kasus perceraian Cheol-soo dan Bong-ja, ketika saudari itu memihak sang bunda. Mereka menekan sang ayah mengabulkan gugatan, dan memberikan hak-hak Bong-ja. Termasuk membayar alimony per bulan, serta membagi adil seluruh aset mereka. Jika tidak mau, mereka akan menjadi saksi sang ibu di pengadilan. Cheol-soo pasti kalah.

Padahal, dalam versi Cheol-soo, Bong-ja lah yang seharusnya disalahkan atas kehidupan rumah tangga mereka yang tidak bahagia. Ia memilih bertarung di meja hijau. Di tengah kegalauan, Bong-ja mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia tewas di TKP, bersama pacar baru dia.

Belakangan, diketahui bahwa yang dialami Bong-ja bukan kecelakaan biasa. Mobil dia disabot. Ada orang yang ingin dia mati…

Semua Adalah Tersangka

Dari sanalah cerita bergulir. Hingga akhir episode kedua, semua yang kita lihat di layar punya motif untuk menghabisi Bong-ja. Meskipun, sekilas, yang punya alasan paling kuat adalah Cheol-soo. Dendamnya kepada sang istri sangat membara. Tapi, ketiga putri dia, yang tampaknya memihak Bong-ja dalam proses perceraian, juga punya motif sendiri-sendiri.

Saat ini sih, dari ketiga sisters, Gwang-sik paling punya alasan. Gara-gara kengototan sang ibu untuk bercerai, proses pernikahan dia sendiri terganggu. Calon mertua dia—yang sama-sama parasitnya dengan sang tunangan—menyinyiri rencana perceraian tersebut.

Mari kita mengalihkan perhatian sebentar dari kasus pembunuhan. Masih terlalu awal untuk menebak-nebak siapa yang bertanggung jawab atas kematian Bong-ja. Yang selama beberapa episode awal, sama sekali tidak diperlihatkan sosoknya.

Dari segi premis, sebenarnya Revolutionary Sisters menjanjikan. Dan karena formatnya panjang (terdiri dari 50 episode), cara membangun konfliknya mantap. Audiens dapat memahami kenapa Cheol-soo sangat berat bercerai. Kita juga mendapatkan back story yang lengkap bagaimana kondisi pasangan tersebut saat baru menikah. 

Pendalaman karakternya juga lumayan oke. Kita tahu kenapa ketiga sisters tersebut punya sifat seperti itu. Kita juga dikenalkan pada beberapa karakter pendukung. Yang juga diberi latar belakang memadai. Antara lain Taeng-ja (Kim Hye-sun), adik perempuan Bong-ja. Yang oleh Bong-ja selalu dituduh naksir Cheol-soo.

Ada juga Han Dol-se (Lee Byung-joon), teman Cheol-soo sejak di kampung. Ia yang merawat Cheol-soo ketika Bong-ja pergi. Dol-se punya anak, Han Ye-seol namanya. Cowok cool yang bercita-cita jadi penyanyi rock. Kelak, ia menjadi love interest Hwang-sik. Tokoh-tokoh ini dikenalkan dengan cara dan porsi yang pas.

Drama Keluarga Sebenarnya

Yang agak mengganggu dari drama ini adalah betapa kasarnya ketiga sisters tersebut kepada orang tua. Baik kepada ayah maupun bibi mereka. Buat penonton yang tidak terbiasa dengan gaya berbicara ala anak durhaka itu, adegan-adegan tersebut cukup menjadi trigger. Menimbulkan perasaan tidak nyaman. Apalagi, setting drama ini masih di Asia. Tepatnya Korea. Yang masih menjunjung tinggi senioritas.

Keluarga Dol-se tak kalah disfungsional. Ia membenci si Ye-seul, yang gondrong dan tak punya pekerjaan tetap. Ia mencurahkan seluruh perhatian kepada si sulung, yang lebih pintar di sekolah. Namun, si sulung ini tiba-tiba datang, membawa kabar bahwa dirinya akan menikah. Dan meminta sang ayah untuk tidak menghadirinya.

Memang tidak ada siksaan fisik yang mereka lakukan kepada sang ayah. Namun kata-kata ketiganya sungguh tajam. Dan bukankah kata-kata sering kali lebih kejam dan menyakitkan daripada pukulan dan tendangan? Ucapan-ucapan ketiga bersaudari, serta anak sulung Dol-se, dijamin menimbulkan luka yang sangat dalam di hati orang tua mereka.

Menonton drama ini membuat kita kadang-kadang berpikir, kok ada anak yang memperlakukan orang tua seperti itu. Namun, hal-hal semacam itu bukannya tidak pernah terjadi di dunia.

Tentu kita pernah membaca kasus anak yang menggugat orang tuanya sendiri karena masalah uang. Tak sedikit pula anak yang mengabaikan ayah ibunya. Saling lempar soal siapa yang merawat mereka saat tua. Bahkan, kita tak jarang membaca soal anak yang tega membunuh orang tuanya sendiri.

Jadi, Revolutionary Sisters sebenarnya justru memotret konflik-konflik paling realistis dalam keluarga. Jangan nonton kalau gampang sedih. (Retna Christa-Harian Disway)

Konten ini diproduksi Harian Disway (partner Mainmain.id). Setiap hari di Harian Disway ada rubrik khusus drama korea.

Related Articles
Korea
Happy Seonho Day!

Korea
Comeback! Ku Hye-sun Menulis dan Sutradarai Film Sendiri

Korea
First Impression Move to Heaven: Memaknai Kehidupan dari Mereka yang Telah Tiada