Interest

Punya BFF? Cek Dulu Yuk. Apakah Ada Gejala Persahabatan Toksik?

Dwiwa

Posted on April 4th 2021

 

Siapa bilang kalau hubungan toksik cuma ada antara pasangan kekasih? Dalam lingkup pertemanan dan persahabatan, hubungan yang toksik juga bisa terjadi loh. Tidak peduli berapa lama dan seberapa dalam pertemanan, pershabatan tetap rentan terhadap emosi yang menguras tenaga, stres, dan aura negatif.

Konflik merupakan hal yang wajar terjadi dalam sebuah hubungan, entah itu keluarga, teman, atau pasangan kekasih. Tetapi yang membedakan antara konflik hubungan normal dan hubungan toksik adalah adanya pengulangan atau kesinambungan toksisitas.

Dilansir dari Psychology Today, Kristy Lee Hochenberger, mahasiswa doktoral (ABD) psikologi di Capella University menulis individu sehat yang tidak toksik akan selalu bisa mengenali kesalahan, menebus kesalahan, dan terus berkembang.

Tetapi sayangnya, orang sehat ini kadang berada dalam hubungan dengan dengan individu narsistik, gangguan kepribadian yang menganggap dirinya sangat penting dan harus dikagumi, yang menyebabkan terjadinya toksisitas. Racun yang dihasilkan sangat mengganggu kesehatan dan kesejahteraan mereka.

Menjadi terlalu kompetitif, kurang empati, tidak memberikan dukungan, dan terus menerus menghancurkan orang lain merupakan sifat-sifat toksik dan narsistik. Bersaing memang hal yang wajar muncul pada semua manusia, tetapi bagi seorang narcissists, kekejaman adalah cara hidup. 

Menurut Healthline, ada beberapa tanda jika kalian berada dalam hubungan pertemanan yang toksik. Teman toksik cenderung akan selalu membuat kalian merasa direndahkan. Sedikit ejekan dalam pertemanan bukan selalu berarti toksik, apalagi jika kalian juga ikut tertawa. Tetapi jika teman kalian terus menerus merendahkan dan membuat sedih, itu menjadi tanda jika pertemanan kalian tidak sehat.

Selain itu, mereka juga cenderung membeberkan rahasia yang kalian percayakan. Padahal mungkin sudah berpesan agar hal tersebut hanya diketahui oleh kalian berdua. Mereka juga sering meminta maaf tetapi tidak pernah bersungguh-sungguh dengan permintaan maaf tersebut.

Teman yang toksik juga sering membuat kalian gugup. Seorang teman bisa marah dengan kalian tetapi biasanya diekspresikan dengan cara aman dan sehat. Tetapi jika reaksi mereka bisa menyebabkan cidera atau terasa kasar, ini bisa menjadi tanda agar lebih berhati-hati.

Seorang sahabat harusnya membuat kita tenang, tetapi teman yang toksik justru akan membuat kalian merasa tidak nyaman atau kesal. Mungkin sulit dijelaskan, tetapi yang jelas, kalian akan merasa lebih lega saat berpisah dengan mereka.

Teman yang toksik juga senang membandingkan kalian dengan orang lain, entah itu soal pekerjaan, penampilan atau hal lainnya. Padahal seharusnya seorang teman akan selalu menerima kita apa adanya dengan segala keunikan yang dimiliki.

Jika teman merupakan seorang narcissists, mereka juga cenderung memiliki kecemburuan yang lebih besar pada orang lain sekaligus merasa superior dan elit. Individu tersebut tidak ingin ada orang lain yang melampaui mereka. Lalu, apa yang harus dilakukan jika kalian memiliki teman toksik yang narsistik?

Menurut Hochenberger di Psychology Today, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan membuat batasan sebagai perlindungan. Ada batasan bukan berarti tidak membiarkan orang mendekat, tetapi ini menjadi alat untuk melindungi diri dari luka, kebencian, dan serangan mental.

Hal yang perlu diingat adalah teman harusnya membantu kalian tumbuh, mendorong perubahan gaya hidup lebih positif, dan menyediakan bahu untuk melepas beban dan menangis. Jika mereka hanya menghancurkan dan iri dengan kesuksesan atau menikmati kegagalan kalian, itu artinya mereka bukan teman sejati. (*)

Related Articles
Interest
Butuh Pelampiasan Saat Marah? "Rage Room" di Sao Paulo Bisa Jadi Solusi

Interest
Ternyata Uang Bisa Beli Kebahagiaan Loh, Butuh Berapa Banyak ya?

Interest
Lagi Merasa Stuck? Lima Hal Ini Bakal Bantu Balikin Mood Kalian