Lifestyle

Caspering, Gak Terlalu Menyakitkan Dibanding Ghosting dalam Hubungan

Tetap aja menggantungkan perasaan sih.

Kezia Kevina Harmoko

Posted on April 4th 2021

(Mengandung gambar dari thechildrenstheatre.com)

Dunia maya memang sempat diramaikan dengan kata ghosting gara-gara kasus K dan F itu, tapi ternyata ada lho versi ‘lebih ramah’ dari ghosting. Memang kadang nggak semua orang yang kita temui bakal “ngeklik” sama kita, tapi sulit juga buat terus terang. Nah, caspering mungkin jadi pilihan buat beberapa orang yang gak kuat mengambil langkah ekstrem.

Asal nama caspering

Entah diciptakan oleh siapa, yang jelas istilah ini terinspirasi dari tokoh kartun hantu bernama Casper. Masih ingat? Tontonan agak lawas nih. Julukan buat si hantu lucu itu adalah the friendly ghost, alias hantu yang ramah.

Apa itu caspering?

Sesuai sama asal-usul namanya, caspering adalah tindakan memutuskan hubungan dengan cara yang ‘lebih ramah’. Seorang Casper bakal tetap berinteraksi dengan kita, tapi nggak menunjukkan ketertarikan untuk berbicara lebih lanjut. Hanya membalas ala kadarnya gitu, tapi tetap ramah.

Perbedaannya sama ghosting adalah caspering tidak memutuskan hubungan secara langsung dengan menghilang. Secara fisik orangnya masih ada, tapi perlahan berubah jadi hantu—alias jati dirinya hilang dari pandangan kita. Ada sih ada, tapi bukan dalam wujud yang benar-benar hadir.

Tanda-tanda kamu di-caspering

Kalau ada orang yang tadinya lagi PDKT dan nge-chat intens terus tiba-tiba berkurang, bisa jadi itu caspering. Si Casper nggak menunjukkan keinginan untuk melanjutkan percakapan dan biasanya menghindar kalau diajak berinteraksi lebih lanjut. Menolak atau selalu ragu buat diajak hangout, misalnya. Atau selalu menjawab kabar, tapi hanya dengan “bentar ya, lagi sibuk nih”.

Cepat atau lambat, kamu pasti sadar orang yang bersangkutan jadi agak berjarak dengan kita. Ini red-flag (pertanda harus mengevaluasi hubungan).

Gimana menghadapi caspering?

Mau dibilang lebih ramah dari ghosting pun, caspering tetap bentuk penolakan. Dan penolakan itu tetap sakit, apalagi nggak disampaikan secara gamblang.

Dilansir dari EHarmony, kalau kamu mulai merasakan tanda-tanda di-caspering, ambil waktu tenang buat membicarakan hubungan. Bisa dengan mengajak ke aktivitas tertentu yang dulu suka dilakukan. Kalau masih menolak atau banyak alasan, jangan buang waktu buat terus bertahan.

Kalau kamu punya nyali lebih, tanya dengan jelas kenapa ada perubahan tingkah laku yang kamu rasakan dari si doi. Keputusan bisa kamu ambil dari jawabannya. Kalau belibet dan gak logis, bye.

Kamu bisa pakai teknik sandwich untuk menyampaikan bahwa kamu gak ingin diperlakukan serba-menggantung, lalu selesaikan hubungan. Kalau ada alasan jelas dan kamu masih mau mencoba lagi, bisa dilanjutkan (sebaiknya sih jangan ya).

Kalau kamu yang berada di posisi ingin memutuskan hubungan dan nggak enak bicara gamblang... belajarlah bicara sesuai kenyataan. Caspering tetap aja bentuk penolakan yang kejam karena bikin orang bingung.

Nah, itu dia sedikit tentang caspering. Hayo, pernah nggak merasakan ada di posisi ini? (*)

Related Articles
Current Issues
Mengenal Istilah Ghosting, Haunting dan Breadcrumbing dalam Hubungan Romantis

Current Issues
Setelah Ghosting, Terbitlah Zombie-ing

Lifestyle
Ghosting Itu Apa sih? Ini Penyebab dan Dampaknya Buat Seseorang