Current Issues

Biden Berencana Tingkatkan Penjualan EV, Pengamat: Bisa Berhasil Bisa Tidak

Jingga Irawan

Posted on April 3rd 2021

Foto: Joe Biden (Car and Driver) 

Presiden Joe Biden ngotot memberi kredit pajak dan potongan harga untuk mendorong warga negaranya membeli membeli mobil listrik, sebagai upaya untuk mengurangi emisi gas. Langkah itu merupakan bagian dari rencana infrastruktur sebesar USD 2,25 triliun. Akan tetapi banyak pengamat mempertanyakan keberhasilan langkah tersebut.

Sejauh ini, para pembeli kendaraan listrik menganggap kebijakan Biden sangat menguntungkan. Namun, rencana Biden rawan gagal dan bisa menimbulkan kerugian besar. Sebab, butuh waktu bertahun-tahun untuk mengganti kendaraan berbahan bakar bensin dengan EV, sebagaimana dilansir dari Associated Press.

Saat ini, ada sekitar 279 juta kendaraan aktif di Amerika Serikat. Yang terindikasi sepenuhnya bertenaga listrik, menurut IHS Markit, sebesar 0,36 persen. Dari 14,5 juta kendaraan baru yang terjual tahun lalu, baru 2 persen di antaranya sepenuhnya bertenaga listrik.

Meskipun semua kendaraan baru yang dijual adalah mobil listrik, masih butuh waktu sekitar 15 tahun untuk mengganti seluruh mobil BBM menjadi mobil listrik. Terlebih lagi, mobil yang dihasilkan selama dua dekade terakhir dapat tahan lebih lama, sehingga pemilik kendaraan akan lebih lama memutuskan mengganti mobilnya.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa setiap EV yang dijual memang mengurangi emisi gas. Tapi butuh beberapa tahun untuk mencapai titik itu. Apalagi jika batu bara masih digunakan untuk menghasilkan listrik, yang dipakai mengisi ulang kendaraan. Begitu menurut analisa Bruce Belzowski. Ia merupakan peneliti transportasi dari Universitas Michigan yang menjalankan perusahaan penelitian industri otomotif masa depan.

Meskipun demikian, Bruce tetap menekankan agar melakukan perubahan lebih awal untuk mengetahui hasilnya. Sebab keberadaan EV memang terbukti berdampak baik bagi lingkungan.

Pemerintah Biden juga tidak memberikan gambaran secara spesifik berapa banyak pembeli mobil yang akan menerima insentif dalam rangka program tersebut. Tetapi, pemerintah berencana menghabiskan USD 174 miliar selama delapan tahun hanya untuk pengembangan EV.

Anggaran tersebut termasuk insentif bagi konsumen, dana untuk pembangunan 500.000 EV charging. Dan dana untuk mengembangkan rantai pasokan AS untuk suku cadang dan bahan mentah yang dibutuhkan untuk membuat baterai.

"Kami akan memberikan insentif pajak dan potongan harga untuk semua keluarga Amerika," kata Biden, Rabu (31/3), dikutip dari Associated Press.

Insentif terbesar kemungkinan adalah peningkatan kredit pajak kendaraan listrik, yang sekarang diberikan sebesar USD 7.500, dan bakal dihapuskan setelah perusahaan mencapai kuota yang ditentukan yakni 200.000 kendaraan listrik. Tesla dan General Motors adalah dua perusahaan yang telah memenuhi kuota tersebut.

David Kirsch, seorang profesor strategi dan kewirausahaan di Universitas Maryland, mengatakan bahwa rencana Biden bukanlah titik balik yang bakal mengubah minat konsumen dari mobil BBM menjadi kendaraan listrik.

"Tapi tetap saja akan ada beberapa perubahan bagus yang akan terjadi karena skala investasi ini. Dan, itu tidak boleh diremehkan. Saya pikir elektrifikasi akan datang juga," kata Kirsch.

Sejauh ini, menurut Jeff Schuster, presiden LMC Automotive, potongan harga dan kurangnya EV charging adalah alasan utama mengapa banyak konsumen khawatir untuk beralih ke kendaraan listrik. Namun jika rencana berhasil, insentif tersebut dapat membantu meningkatkan penjualan EV. Dari kini sekitar 358.000 tahun ini menjadi lebih dari 1 juta pada 2023. Dan mencapai angka 4 juta pada 2030.

Industri otomotif secara keseluruhan sudah terlanjur menghabiskan miliaran dolar untuk pengembangan kendaraan listrik. Menurut sebuah studi oleh AlixPartners, industri otomotif global bakal menghabiskan USD 255 miliar untuk kendaraan listrik pada 2023. Tahun ini saja, LMC Automotive mengatakan 22 model mobil listrik baru akan dirilis.

Pada saat yang sama, Alliance for Automotive Innovation, sebuah grup industri yang mewakili General Motors, Ford, Toyota, dan sebagian besar pembuat mobil, mengatakan bahwa kendaraan listrik akan selalu lebih mahal daripada mobil BBM. Meskipun nantinya diberikan potongan harga. Meskipun nantinya ada baterai dengan biaya produksi dan harga jual yang lebih murah.

Orang akan enggan mengganti mobil mereka juga karena faktor pasca pandemi. Di mana beberapa hal yang terjadi selama pandemi seperti misalnya bekerja secara remote dan work from home (WFH), akan membuat orang lebih sedikit melakukan aktivitas mengemudi. "Jadi ini akan membuat beberapa orang semakin enggan untuk mengganti mobil mereka,” kata Schuster.(*)

Related Articles
Current Issues
Eropa Pimpin Pasar Mobil Listrik Dunia, tapi Diprediksi Tak Lama. Kenapa?

Current Issues
EV Boom Bisa Kurangi Pemakaian 3,5 juta Barel Minyak Tiap Hari

Tech
Tesla Tak Diundang ke Acara EV di Gedung Putih, Elon Musk Kecewa