Current Issues

Lockdown Berdampak Negatif Pada Kesehatan Mental Remaja, Ada yang Ngalamin?

Dwiwa

Posted on March 18th 2021

 

Pandemi Covid-19  membuat dunia mengalami banyak krisis. Bukan hanya keuangan, pandemi ini juga menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan fisik maupun mental. Kaiser Family Foundation menemukan 4 dari 10 orang dewasa Amerika Serikat melaporkan gejala keceamasan atau gangguan depresi selama pandemi.

Namun jajak pendapat dari C.S Mott Children’s Hospital yang ada di Amerika Serikat, justru menemukan jika kesehatan mental remaja cenderung lebih terdampak oleh kondisi pandemi Covid-19 saat ini. Lockdown yang dimaksudkan untuk mengatasi pandemi telah memaksa para remaja belajar secara virtual selama berbulan-bulan.

Kondisi ini membuat mereka lebih banyak menghabiskan waktu terisolasi dari teman. Selain itu, berbagai kegiatan sosial penting seperti olahraga, pertunjukan sekolah, wisuda, dan pesta prom juga dibatalkan akibat pandemi.

Dilansir dari Healthline, jajak pendapat itu menemukan jika 46 persen orang tua mengatakan bahwa anak remaja mereka telah menunjukkan tanda-tanda kondisi kesehatan mental yang baru atau memburuk sejak awal pandemi pada Maret 2020.

Brittany LeMonda, PhD, ahli saraf senior di Lenox Hill Hospital di New York mengatakan jika masa remaja penuh dengan perubahan fisik, emosional, kognitif, hormonal, lebih banyak kemandirian dan tanggung jawab serta tantangan teman sebaya. Hal ini membuat remaja jadi lebih rentan terhadap penurunan kesehatan psikologis dalam setahun terakhir.

Jajak pendapat ini mengamati tanggapan 977 orang tua dari remaja berusia antara 13 dan 18 tahun. Hasilnya, 1 dari 3 anak perempuan dan 1 dari 5 remaja laki-laki mengalami kecemasan baru atau yang memburuk.

Lebih jauh, hasil menunjukkan bahwa lebih banyak orang tua remaja perempuan daripada orang tua remaja laki-laki mencatat peningkatan kecemasan dan kekhawatiran (36 persen versus 19 persen) atau depresi/kesedihan (31 persen versus 18 persen).

 

Kenapa sih remaja mengalami depresi dan kecemasan selama pandemi Covid-19?

Tanpa ada pandemi, sebagian besar remaja akan memenuhi kriteria kecemasan, depresi atau kondisi mental lainnya. Satu dari tiga remaja (31,9 persen) akan memenuhi kriteria gangguan kecemasan pada usia 18 tahun.

Menurut Child Mind Institue, 14,3 persen remaja akan mengalami depresi dan gangguan bipolar. Ditambah trauma akibat pandemi global, wajar jika remaja menjadi salah satu kelompok yang paling terpengaruh.

Pandemi telah memaksa remaja untuk keluar dari interaksi sosial, fisik, dan pendidikan yang normal. Hasil jajak pendapat menemukan bahwa anak-anak paling terpukul oleh perubahan dalam interaksi sosial selama setahun terakhir, dengan 3 dari 4 orang tua melaporkan dampak negatif pada hubungan anak remaja mereka dengan teman.

Para orang tua melaporkan 64 persen anak remaja mereka bertukar pesan, 56 persen menggunakan sosial media, 43 persen bermain game online, dan 35 persen berbicara di telepon setiap hari.

Sebagian orang tua melaporkan bahwa anak remaja mereka telah bertemu dengan teman setiap hari. Sebanyak 9 persen di dalam ruangan dan 6 persen di luar ruangan.

Dr Jess Shatkin, seorang psikiater anak dan remaja yang memimpin upaya pendidikan dari Pusat Studi Anak di Rumah Sakit Anak Hassenfeld di NYU Langone Health mengatakan jika saat anak-anak depresi, mereka mencoba melibatkannya dalam berbagai aktivitas sehingga tidak hanya diam dan terisolasi. Ini mereka sebut sebagai aktivasi perilaku.

Lalu apa saja sih tanda depresi pada remaja?

Penelitian menunjukkan bahwa orang tua selama pandemi telah melaporkan perubahan negatif pada pola tidur anak remaja mereka, menarik diri dari keluarga dan perilaku agresif. Gejala ini bisa menjadi tanda depresi atau kecemasan.

“Orang tua harus waspada terhadap tanda-tanda peringatan seperti penarikan diri dan isolasi dari orang lain, penurunan nilai, perubahan pola tidur atau makan, penggunaan narkoba, sikap apatis, dan pikiran untuk bunuh diri. Deteksi dini kecemasan dan depresi dapat mengarah pada intervensi dini dan hasil pengobatan yang lebih baik," ujar LeMonda.

Nah, kalau kalian ada yang ngerasain tanda-tanda itu nggak guys? Kalau iya dan itu semakin mengarah ke hal-hal negatif, segera bicarakan dengan mama atau papa ya, jangan disimpan sendiri. (*)

Related Articles
Current Issues
Remaja Banyak Rasakan Kecemasan Saat Memulai Sekolah Tatap Muka

Current Issues
Ahli Virus: Anak-anak Sekarang Jadi Penyebar Utama Covid-19

Current Issues
Covid-19 Berdampak Pada Kesehatan Mental, Apa yang Terjadi Saat Pandemi Selesai?