Current Issues

Vaksin Meluas, Tetap Pembatasan Atau Mulai Mengajarkan Cara Aman Bepergian?

Dwiwa

Posted on March 14th 2021

Kelelahan bertahan selama pandemi Covid-19 telah banyak digunakan orang-orang sebagai alasan untuk bepergian. Jumlah orang yang mulai kembali berpiknik pun meningkat secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Meski begitu, para ahli dan otoritas berwenang masih merekomendasikan orang-orang untuk menghindari bepergian jika tidak benar-benar penting. Sebab, bepergian telah diketahui memingkatkan risiko menularkan dan tertular Covid-19.

Namun di tengah kondisi seperti saat ini - ketika jumlah orang yang divaksin semakin banyak, kelelahan atas pandemi semakin kuat, dan jumlah kasus menurun - rekomendasi tersebut tampaknya hanya masuk telinga kanan dan langsung keluar kuping kiri.

Lalu, masihkah pembatasan ini efektif? Ataukah harus dibuat strategi baru dengan lebih mengedukasi masyarakat tentang bagaimana cara untuk bepergian dengan aman?

Dilansir dari Insider, banyak pakar kesehatan masyarakat terkemuka dan independen setuju jika melonggarkan pembatasan perjalanan untuk orang yang sudah mendapat vaksin penuh masuk akal secara ilmiah. Asalkan protokol kesehatan tetap dilakukan guna melindungi yang belum divaksin.

Ashish Jha, dekan Brown University school of public health, merekomendasikan perjalanan hanya pada orang yang sudah mendapat vaksinasi penuh. “Kupikir saat ini orang yang perlu melakukan perjalanan dan sudah mendapat vaksin penuh bisa melakukannya, tetapi mereka harus terus memakai masker,” jelas Jha. Tetapi itu juga bukan berarti bisa bepergian jarak jauh dengan bebas.

Beberapa penelitian terbatas menunjukkan jika penularan Covid-19 telah terjadi dalam penerbangan jarak jauh. Jha bahkan mengatakan jika meskipun sudah divaksin dirinya tidak akan bepergian keliling dunia saat ini.

Tetapi untuk perjalanan pendek, seperti terbang untuk bertemu keluarga yang memiliki risiko kecil, terutama jika orang sudah divaksin dan berhati-hati selama dalam perjalanan, perjalanan bisa dilakukan. “Kakek dan nenek sangat ingin bertemu cucu mereka. Dan itu membutuhkan perjalanan. Pertanyaannya, apakah ini tidak aman? Dan aku tidak percaya ini tidak aman,” tambah Jha.

Selain itu, Jha mengatakan bahwa pada musim panas perjalanan domestik akan relatif lebih aman dan nyaman, tetapi kita tetap harus menjaga upaya pencegahan di masyarakat yang bisa diandalkan dan bekerja dengan baik. 

Langkah itu termasuk mandat memakai masker dan menjaga jarak serta memperbaiki strategi pengujian yang dilakukan. Misalnya saja pelancong internasional maupun lokal harus menunjukkan tes Covid-19 negatif hingga beberapa hari sebelum keberangkatan.

Atau aturan untuk menunjukkan hasil tes Covid-19 negatif dan menjalani karantina setelahnya. Pengujian dan karantina menjadi cara yang lebih ketat dan lebih handal karena pengujian Covid-19 hanya dapat menangkap kondisi saat sedang dilakukan pengujian.

Sementara untuk yang belum divaksinasi, melakukan perjalanan juga bisa cukup aman asal tidak melibatkan ke bandara dan hanya melakukan perjalanan darat bersama anggota keluarga satu rumah. Menurut pakar kesiapsiagaan pandemi Amesh Adalja, pilihan-pilihan ini berisiko nol.

Berkemah pun menjadi pilihan liburan yang tergolong aman karena memiliki ventilasi yang baik. Selain itu, menyewa rumah pribadi yang tidak berbagi dengan wisatawan lain akan lebih aman dari resor yang sibuk.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah dengan fokus pada risiko nyata. Tidak ada salahnya membersihkan permukaan yang sering digunakan bersama, tetapi jauh lebih penting melindungi diri dari partikel di udara yang membawa virus corona dari orang ke orang.

Tetap gunakan masker yang pas di wajah dan menjaga jarak setidaknya 1,8 meter dari orang lain selama melakukan perjalanan. Selain itu, selalu memastikan sirkulasi udara baik juga menjadi poin penting.

Secara umum, sebisa mungkin hindari menghirup udara yang sama dari orang yang tidak tinggal satu rumah. Skrining yang sering dilakukan oleh tempat-tempat umum seperti bandara, taman bermain, dan hotel mungkin memberikan rasa aman palsu sehingga membuat abai terhadap protokol kesehatan lain.

“Lebih efektif untuk mengedepakan kebersihan diri untuk mengurangi risiko terpapar,” jelas ahli mikrobiologi Miryam Wahrman. “Kalian harus berasumsi dimana ada orang, di situ pasti ada kuman.” (*)

 

Related Articles
Current Issues
Berencana Naik Pesawat? Pilih Nomor Kursi Ini Agar Tak Tertular Covid-19

Current Issues
Varian Omicron Merajalela di Sejumlah Negara, Lakukan Hal Ini Agar Tak Terpapar

Current Issues
Seminggu Cetak 3 Kali Rekor! Yuk Makin Disiplin Protokol Covid-19