Current Issues

Benarkah Kendaraan Listrik Benar-Benar Ramah Lingkungan?

Jingga Irawan

Posted on March 9th 2021

License photo: Upklyak melalui Freepik 

Di seluruh negara, pemerintah dan pembuat mobil mempromosikan kendaraan listrik sebagai salah satu cara untuk menghentikan penggunaan BBM dan melawan perubahan iklim. Bahkan General Motors bakal beralih membuat seluruh model menjadi bertenaga baterai. Sedangkan Volvo Cars hanya akan menjual mobil listrik pada 2030.

Sementara itu, Pemerintah California sedang membahas penggunaan kendaraan serba listrik yang akan dicapai pada 2035. Di Indonesia, PT Jasa Marga Related Busnisess saat ini sedang fokus menambah stasiun pengisian kendaraan listrik di beberapa rest area tol. Membuktikan bahwa Indonesia juga serius dukung transisi ke kendaraan listrik.

Namun, apakah kendaraan listrik benar-benar ramah lingkungan seperti yang diyakini semua orang di bumi?. Berikut adalah beberapa masalah yang perlu diperhatikan sebelum beralih sepenuhnya ke mobil listrik:

Sumber Listrik

Pada dasarnya, sebagian besar mobil listrik yang dijual saat ini cenderung menghasilkan emisi pemanasan global yang jauh lebih sedikit daripada kebanyakan mobil BBM. Akan tetapi, sumber energi listrik untuk mengisi baterai pada EV (Electric Vehicle) juga patut diperhatikan.

Pasalnya beberapa negara masih bergantung pada batubara sebagai pembangkit listrik. Jika energi listrik lebih banyak dibutuhkan. Semakin banyak pula sumber listrik dibuat. Maka, semakin bertambah juga pembakaran batu bara.

Para peneliti di Massachusetts Institute of Technology (MIT) membuat sebuah software online, Carboncounter, untuk membandingkan dampak pada iklim dari jenis kendaraan BBM atau EV. Software ini dapat menganalisa semua faktor yang memengaruhi emisi. Yakni produksi BBM dan solar, manufaktur mobil, jumlah BBM untuk mobil konvensional dan asal sumber listrik untuk EV charging.

Jika hanya dihitung emisi gas buang pada kendaraan, BEV dan Plug-in yang rata-rata digunakan di AS jauh lebih ramah lingkungan dibandingkan mobil konvensional yang full pakai BBM. Meskipun emisi baterai EV juga masif, motor listrik dalam mobil EV lebih efisien dibandingkan mesin tradisional kendaraan.

The New York Times telah menghitung sebagai contoh, Chevrolet Bolt yang serba listrik diperkirakan menghasilkan rata-rata 189 gram karbon dioksida per mil. Sementara, Toyota Camry BBM menghasilkan 385 gram karbon dioksida per mil. Dan truk Ford F-150 baru, yang diklaim lebih hemat bahan bakar, menghasilkan 636 gram karbon dioksida per mil.

Itu masih menjadi perkiraan rata-rata. Jika Chevrolet Bolt dihitung dengan sumber listrik batu bara yang digunakannya, emisi gas buang secara keseluruhan yang dihasilkan akan lebih buruk daripada mobil hybrid modern seperti Toyota Prius. Bahkan bisa lebih besar dari Camry dan Ford F-150. 

"Batubara cenderung menjadi faktor kritis. Jika memiliki mobil listrik charging dan menyebabkan pembangkit batu bara di dekatnya membakar lebih banyak batu bara untuk mengisi daya, maka manfaat iklim tidak akan besar, justru bisa mendapatkan lebih banyak polusi udara,” kata Jeremy Michalek, profesor teknik di Universitas Carnegie Mellon.

Kabar baiknya, saat ini sebagian besar negara juga sedang fokus mengembangkan pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan. Di AS misalnya, beberapa perusahaan telah menghentikan ratusan pabrik batu bara selama 10 tahun terakhir. Kemudian beralih ke pembangkit listrik gas alam, angin, dan tenaga surya dengan emisi yang lebih rendah.

Masalah Bahan Mentah

Seperti baterai pada umunya, sel lithium-ion yang menjadi sumber tenaga sebagian besar kendaraan listrik bergantung pada bahan mentah seperti kobalt dan nikel. Keduanya merupakan bahan mentah sulit didapat. Dan tambang kobalt maupun nikel telah dituding menjadi sumber isu krisis linhkungan baru.

Penambangan kobalt menghasilkan limbah berbahaya. Penelitian telah menemukan bahwa limbah tersebut dapat berpengaruh kemasyarakat sekitar, terutama anak-anak. Selain itu mengolah bahan mentah logam juga membutuhkan proses peleburan, yang dapat mengeluarkan sulfur oksida dan polusi udara berbahaya lainnya.

Sebesar 70 persen dari pasokan kobalt dunia berasal dari Republik Demokratik Kongo, yang mengalami berbagai masalah. Pertama, melibatkan pekerja di bawah umur. Ditambah dengan masalah kesehatan dan tingkat keselamatan yang rendah. Sehingga, tambang tersebut telah menjadi sorotan kelompok Hak Asasi Manusia.

Saat ini, pembuat mobil dan perusahaan teknologi telah berkomitmen untuk menghilangkan kobalt dari bahan mentah. Banyak perusahaan telah mengembangkan baterai yang mengurangi, bahkan menghilangkan, kobalt sama sekali. Misalnya, perusahaan semen Taiheiyo dari Jepang.

Daur Ulang Lebih Diutamakan

Selain harus membuat baterai baru dengan kobalt, baterai lithium-ion sebenarnya bisa didaur ulang. Para ahli menunjukkan bahwa baterai bekas yang mengandung logam berharga dapat digunakan kembali. Proses daur ulang baterai ini menggunakan air atau dengan proses mengeluarkan polutan udara.

"Persentase baterai litium yang didaur ulang sangat rendah, tetapi seiring waktu dan inovasi, hal itu akan meningkat," kata Radenka Maric, profesor di Departemen Teknik Kimia dan Biomolekuler Universitas Connecticut.

Berbagai produsen mobil, sepedti Nissan dan BMW, telah menguji coba penggunaan baterai kendaraan listrik tua untuk penyimpanan jaringan listrik. General Motors mengatakan pihaknya mempertimbangkan penggunaan masa pakai kedua baterainya.

Langkah daur ulang sebenarnya dapat diutamakan, dengan syarat penggunakan kembali baterai harus melalui pengujian maksimal untuk memastikan baterai bekerja dengan baik seperti baru. (*)

Related Articles
Tech
Volvo Berencana Hanya Jual Mobil Listrik Mulai 2030

Tech
Selain Mobil dan Bus, Traktor Modern Juga Mulai Dirancang Bertenaga Listrik

Current Issues
Elon Musk Tiba-Tiba Puji Produsen EV Tiongkok, Ada Apa Nih?