Tech

Startup Ini Pakai Sistem EV Charging Tukar Baterai, Pengisian Hanya 10 Menit

Jingga Irawan

Posted on March 5th 2021

Kontribusi dalam komitmen bersama zero-emission tidak hanya dilakukan oleh produsen kendaraan listrik. Melainkan juga perusahaan penyedia EV charging. Ample misalnya. Rabu (3/3), startup yang berbasis di San Fransisco itu meluncurkan jaringan EV charging yang dapat mengisi ulang kendaraan listrik dalam waktu 10 menit. 

Perusahaan rintisan tersebut memulai pengembangan teknologinya melalui kemitraan bersama Uber. Mereka mendapat dana sebesar USD 70 juta atau sekitar Rp 1 triliun dari berbagai investor swasta. Jaringan tersebut saat ini hanya mengisi unit armada Uber di San Fransisco. Namun, perusahaan berencana memasuki pasar terbuka dalam beberapa tahun ke depan.

Ample telah memilki dua stasiun EV charging yang aktif digunakan di San Fransisco dan dimanfaatkan oleh Uber untuk recharge EV-nya. Perusahaan itu sekarang sedang membangun lebih banyak stasiun di beberapa kota besar lainnya di California.

Ample berharap dengan begini, para pemilik EV tidak lagi cemas terkait dengan jangkauan stasiun EV charging. Perusahaan bakal menyediakan pelayanan tercepat dan tersedia di berbagai wilayah.

Tidak seperti stasiun pengisian daya biasa lainnya yang mencolokkan EV charger ke mobil listrik, stasiun pengisian daya Ample melepas baterai mobil dan menggantinya dengan yang baru diisi. Jika stasiun pengisian biasa butuh waktu 45 menit hingga 12 jam, Ample hanya butuh waktu 10 menit.

Ample menggunakan sistem penggantian baterai modular. Baterai yang habis kemudian ditempatkan di ‘loker’ stasiun baterai untuk diisi ulang.

CEO Ample, Khaled Hassounah, mengatakan sistem pertukaran baterai modular beroperasi seperti menyusun “balok Lego”. Ukuran mobil menentukan berapa banyak modul baterai yang dibutuhkan dan modul tersebut dapat disesuaikan dengan berbagai kendaraan.

“Sistem ini juga sepenuhnya otonom. Pelanggan bakal membayar menggunakan sistem aplikasi dan bahkan tidak perlu keluar dari mobil untuk mengisi daya kendaraan listrik. Stasiun secara otomatis mendeteksi kendaraan dan mulai melakukan pengisian,” kata Hassounah.

Presiden Ample, John de Souza mengungkapkan keinginan perusahaan yaitu agar mobil listrik dapat diakses seefisien mungkin. Bagi banyak pengguna EV, beralih ke mobil listrik harusnya dapat memberikan kemudahan dalam berkendara. Hal ini tidak akan tercapai jika pengisian ulang daya membutuhkan waktu berjam-jam

"Mobil listrik seharusnya tidak disubsidi oleh pemerintah atau menghabiskan biaya pribadi yang besar. Ini harus lebih nyaman daripada BBM sehingga tidak perlu lagi orang-orang ragu untuk beralih,” ungkap de Souza kepada Bussiness Insider, dikutip Jum’at (5/3).

Keuntungan dari sistem ini adalah prosesnya lebih sederhana dan harganya lebih murah. Menukarkan baterai juga dapat meningkatkan masa pakai mobil listrik, baterai yang ditukarkan bakal membantu kendaraan listrik untuk mengemudi lebih jauh.

Hassounah juga menegaskan sistem pertukaran juga bakal membuat kendaraan lebih berumur panjang, karena mobil tidak lagi dibatasi oleh baterai yang sudah jelek, tetapi akan terus menerima bahan energi dari baterai terbaru.

Ample Bukan Yang Pertama dalam Teknologi Pertukaran Baterai

Perusahaan ini bukan yang pertama menggunakan teknologi pertukaran baterai dan sedang menghadapi persaingan dari setidaknya enam perusahaan rintisan dengan strategi serupa. Di Tiongkok praktek pertukaran seperti ini jauh lebih umum.

Selain itu, pada tahun 2013 Elon Musk juga sempat memamerkan teknologi pertukaran baterai untuk Tesla. Namun, dua tahun kemudian memilih fokus pada stasiun pengisian daya-nya yang terkenal, Supercharging. Karena teknologi pertukaran baterai dianggap terlalu mahal.

Sementara di Israel, sebuah startup bernama Better Place juga berinvestasi dalam teknologi pertukaran baterai. Namun, mereka kemudian kehilangan ratusan juta dollar karena ide tersebut gagal diterapkan.

Hal ini disebabkan karena Better Place tidak dapat menemukan pembuat mobil yang mau memproduksi kendaraan dengan teknologinya. Serta tidak membuat cukup jenis baterai yang berbeda agar sesuai dengan setiap jenis mobil listrik di pasar.

Ample telah belajar dari kesalahan Better Place. Baterai modular perusahaan lebih murah dan dibuat cocok dengan jenis mobil apa pun. Tidak seperti metode pertukaran baterai Better Place. Ample juga dalam proses bekerja sama dengan lima pembuat mobil besar. (*)

 

Related Articles
Tech
Berambisi Kuasai Pasar EV dan AV, General Motors Berinvestasi Rp 503 Triliun

Tech
Tesla Buka Stasiun Pengisian Daya untuk EV Merek Lain Akhir Tahun Ini

Tech
Ford Produksi Sel Baterai Kendaraan Listrik Bareng Produsen Korea Selatan