Current Issues

Eropa Pimpin Pasar Mobil Listrik Dunia, tapi Diprediksi Tak Lama. Kenapa?

Jingga Irawan

Posted on March 1st 2021

Masyarakat di Eropa telah mengadopsi peralihan kendaraan BBM menjadi listrik lebih cepat dari dugaan siapa pun. Pesatnya adopsi kendaraan listrik Eropa telah mengalahkan pasar EV di Tiongkok pada 2020.

Dilansir dari Wall Street Journal pada Senin (29/2) fenomena ini terjadi karena dorongan subsidi pemerintah yang cukup besar. Ditambah adanya keluaran mobil EV terbaru dari brand favorit juga membuat pembelian meningkat.

Akan tetapi, lonjakan pembelian yang terjadi di Eropa saat ini sangat bergantung pada subsidi dan dukungan pemerintah. Para analis di bidang industri otomotif memprediksi fenomena tersebut bakal terjadi sebaliknya jika subsidi ditarik. Rencananya, subsidi kendaraan listrik di Eropa memang bakal berakhir pada tahun ini.

"Pasar (mobil listrik) sangat sensitif terhadap bantuan pemerintah dan ‘diskon’ perusahaan. Setelah subsidi dicabut, penjualan EV diprediksi setidaknya akan turun 30-40 persen untuk satu atau dua kuartal,” kata Arndt Ellinghorst, analis otomotif di Bernstein Research, dikutip dari Wall Street Journal.

Tanpa subsidi, pembelian EV masih jauh lebih mahal daripada kendaraan yang menggunakan BBM. Para analis juga memperkirakan bahwa, kondisi ini tidak akan berubah sampai satu dekade ke depan. Hal ini dikarenakan perusahaan sedang getol dalam persaingan dan berinovasi pada teknologi baru.

Persaingan yang terjadi di antara perusahaan juga merupakan dampak dari kebijakan Uni Eropa yang semakin memperketat syarat emisi gas. Sehingga, mendorong industri untuk mengeluarkan lebih banyak mobil listrik.

Walaupun begitu, sebagian besar pemimpin industri otomotif di Eropa menyambut baik upaya pemerintah untuk memulai pasar teknologi baru seperti kendaraan listrik. Namun tetap saja, para pembuat mobil tersebut masih kahwatir jika subsidi hanya berlaku dalam jangka pendek.

"Kami mendapatkan keringanan dalam membuat mobil-mobil ini … Ini membantu agar EV sangat menarik bagi konsumen, tetapi dalam jangka panjang subsidi dan keringanan pajak ini tidak berkelanjutan,” kata Hakan Samuelsson, CEO Volvo Cars, pembuat mobil Swedia yang dimiliki oleh Zhejiang Geely Holding Group Tiongkok.

Hakan Samuelsson

Di sisi lain mereka juga sedang gencar mendesak pemerintah untuk lebih fokus pada pengembangan infrastruktur seperti stasiun pengisian daya listrik serta memberikan dukungan untuk membangun pabrik baterai.

Jajaran pembuat mobil Eropa seperti Volkswagen, Audi, Mercedes dan BMW saat ini telah memiliki jagoan EV masing-masing.

Sekitar 65 model EV baru telah diluncurkan di Eropa tahun lalu. Jumlah ini dua kali lebih banyak daripada Tiongkok. Sementara, terdapat 99 model lain yang dijadwalkan untuk dipasarkan tahun ini. Mengalahkan Amerika Utara dengan 15 peluncuran tahun lalu dan 64 model direncanakan tahun ini.

Fenomena yang terjadi di pasar Eropa saat ini mengingatkan pertumbuhan kendaraan listrik di Tiongkok 2019 lalu. Negeri Tirai Bambu juga memberikan subsidi yang besar untuk pembelian serta mewajibkan produsen memproduksi mobil listrik dalam jumlah tertentu.

Dampaknya, ratusan startup lahir dan meningkatkan pasar EV. Kemudian, saat pemerintah Tiongkok memangkas subsidi pada Juni 2019 dampaknya membuat penjualan turun. Saat pandemi melanda, Penjualan EV di Tiongkok semakin merosot, kemudian memaksa pemerintah memberikan subsidi kembali tahun lalu dan memangkasnya lagi mulai 1 Januari 2021. (*)

Related Articles
Tech
Beralih ke Listrik, Mulai 2035 VW Setop Jual Mobil Berbahan Bakar Fosil di Eropa

Tech
Volkswagen akan Produksi Mobil Listrik Generasi Kedua Mereka, ID.4

Current Issues
Biden Berencana Tingkatkan Penjualan EV, Pengamat: Bisa Berhasil Bisa Tidak