Current Issues

30 Persen Penyintas Covid Mungkin Mengalami PTSD

Dwiwa

Posted on February 28th 2021

 

Jumlah pasien Covid-19 yang sembuh memang lebih banyak dari yang meninggal. Tetapi penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 ini meninggalkan jejak berupa gejala jangka panjang pada sebagian penyintas, termasuk pada kesehatan mental.

Dilansir dari Yahoo! News, sebuah studi baru yang diterbitkan di JAMA Psychiatry menemukan bahwa lebih dari 30 persen penyintas Covid-19 mungkin mengalami post traumatic stress disorder (PTSD). Kondisi kesehatan mental yang dipicu peristiwa traumatis dan ditandai dengan kilas balik trauma, mimpi buruk, dan kecemasan parah. Begitu menurut penelitian Mayo Clinic.

Dalam studi tersebut, para peneliti mengevaluasi lebih dari 380 penyintas yang telah dirawat di unit gawat darurat di Roma, pulih dari sakit dan kemudian meneerima penilaian medis dan psikiatris dari April hingga Oktober 2020. Hasilnya, 115 dari penyintas (lebih dari 30 persen) didiagnosis PTSD.

Arianna Galligher, supervisor pekerja sosial dan direktur muda di STAR Trauma Recovery Center di Ohio State University Wexner Medical Center, mengatakan jika hasil studi tersebut sebagian besar konsisten dengan penelitian sebelumnya. Penelitian tersebut menemukan tingkat kejadian PTSD lebih tinggi pada individu yang dirawat di ICU di rumah sakit.

Berdasarkan penelitian terbaru, wanita lebih mungkin didiagnosis dengan PTSD. Memiliki riwayat depresi atau kecemasan atau mengalami lebih dari tiga gejala Covid yang menetap setelah pemulihan juga meningkatkan kemungkinan didiagnosis PTSD.

“PTSD diklasifikasikan sebagai gangguan kecemasan. Mereka yang sudah didiagnosis dengan atau rentan pada kondisi lain seperti kecemasan atau depresi jauh lebih mungkin mengalami PTSD daripada yang tidak,” ujar Sanam Hafeez, seorang nuropsikologi dan pendiri Comprehensive Consultation Psychological Service di New York.

Dr Maja Artandi, direktur medis dari klinik Stanford CROWN juga mengatakan hal senada. Berdasar pengalamannya, wanita sering kali lebih mengkhawatirkan keluarga mereka daripada diri sendiri.

Terisolasi di ranjang rumah sakit, tidak dapat terhubung dengan keluarga dan mengkhawatirkan masa depan keluarga dan siapa yang akan merawat mereka dapat meningkatkan stres secara signifikan dan meningkatkan kemungkinan mengembangkan PTSD.

Tingkat keparahan juga dapat berperan pada kemungkinan penyintas Covid-19 akan mengalami PTSD. Menurut Galligher, pasien yang mengalami sakit ringan hingga sedang mungkin merasa beruntung bisa sembuh. Tetapi di sisi lain, beberapa orang mungkin juga “merasa bersalah” karena mereka bisa sembuh sementara banyak orang lain sakit lebih parah bahkan meninggal.

Sedangkan bagi yang sakit parah atau terus mengalami komplikasi gejala jangka panjang akibat Covid-19, mereka mungkin merasa cemas apakah bisa pulih total atau tidak. Sebagian lain juga mungkin bertanya-tanya “mengapa saya?”.

Sementara Artandi mengatakan bagi sebagian orang terpapar Covid-19 merupakan pengalaman traumatis, terutama yang dirawat di rumah sakit. Sebab mereka yang dirawat di rumah sakit seringkali mengalami masalah pernapasan yang cukup berat. Mereka tidak tahu apa yang diharapkan.

Selain itu, pasien yang dirawat di rumah sakit akibat Covid sering diisolasi dan kurang bersosialisasi dengan manusia lain. Jika ada tenaga medis yang datang pun harus memakai alat pelindung diri lengkap sehingga pasien bahkan tidak bisa melihat wajah mereka. Ini adalah pengalaman yang sangat menakutkan bagi pasien.

Para ahli mengatakan bahwa penelitian tersebut menjadi contoh mengapa kesehatan mental juga perlu ditangani saat merawat pasien Covid. Galligher mengatakan studi ini menambah bukti yang mendukung pentingnya menggunakan protokol perawatan berdasarkan informasi trauma saat seseorang akan dirawat dan pentingnya akses dukungan psikososial saat keluar rumah sakit.

Keberadaan PTSD ini bisa membuat seseorang lebih sulit kembali menjalani hidup. Galligher menambahkan, tanpa pengobatan, gejala PTSD dapat membuat individu sulit berfungsi dalam kehidupan sehari-hari. (*)

 

Related Articles
Current Issues
Sekitar 76 Juta Orang Mengalami Kecemasan Karena Pandemi, Kalian Juga?

Current Issues
Studi: Gangguan Kesehatan Otak dan Mental Umum Terjadi Pada Pasien Covid-19

Current Issues
Covid-19 Berdampak Pada Kesehatan Mental, Apa yang Terjadi Saat Pandemi Selesai?