Current Issues

Jenis Masker Ini Paling Cocok Dipakai Untuk Memudahkan Berkomunikasi

Dwiwa

Posted on February 25th 2021

 

Masker telah terbukti dapat melindungi pemakai dan orang sekitarnya dari penularan virus SARS-Cov-2. Tetapi di sisi lain, penggunaan masker juga membuat proses komunikasi jadi memerlukan tenaga lebih.

Bagi orang normal saja, penggunaan masker terkadang membuat perkataan lawan bicara jadi sulit dipahami. Apalagi bagi orang-orang yang memang memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Mereka jadi semakin kesulitan. 

“Kami prihatin tentang masalah ini sejak awal pandemi karena banyak pengidap gangguan pendengaran berjuang lebih keras saat orang lain memakai masker,” ujar Dr Debara Tucci, pemimpin National Institute on Deafness and Other Communication Disorder, bagian dari National Institutes of Health seperti dilansir dari CNN.

Berdasar data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global ada sekitar 466 juta orang mengalami gangguan pendengaran. Dari jumlah tersebut 34 juta diantaranya adalah anak-anak.

Semenatra di Amerika serikat satu dari delapan orang yang berusia 12 tahun atau lebih mengalami gangguan pendengaran di kedua telinga. Statistik menunjukkan hampir 25 persen orang usia 65-74 tahun dan 50 persen orang diatas 75 tahun mengalami gangguan pendengaran.

Orang-orang ini, termasuk beberapa yang tidak mengalami gangguan pendengaran, mengandalkan membaca bibir untuk memahami percakapan. Dan ini sangat sulit dilakukan dengan penggunaan masker selama pandemi.

Tetapi tampaknya masalah ini dapat diatasi berkat sebuah studi yang diterbitkan pada Rabu (24/2) di PLOS One. Penelitian yang membandingkan empat cara memakai masker dengan menggunakan dua jenis masker kain, masker bedah, dan masker N95, yang dapat menyaring 95 persen partikel virus kecil.

“Dalam konteks pandemi, kami termotivasi untuk melihat masalah ini lebih dekat, karena hanya ada sedikit penelitian sebelumnya tentang bagaimana berbagai jenis masker memengaruhi ucapan,” kata penulis studi Joseph Toscano, asisten profesor ilmu psikologi dan otak yang memimpin program ilmu koginitif di Universitas Villanova di Pennsylvania.

Dalam studi tersebut Toscano menemukan jika dalam kondisi seperti yang terjadi pada kehidupan sehari-hari, masker bedah dan N95 memungkinkan ucapan untuk disampaikan secara efektif.

Tetapi ketika kebisingan latar belakang cukup keras sehingga kemungkinan mengganggu pemahaman pembicaraan, peneliti menemukan bahwa  masker bedah bekerja lebih baik daripada masker lain. Namun sayangnya masker medis ini tidak selalu tersedia secara umum dan lebih diutamakan untuk fasilitas medis.

Sebagai gantinya, National Institute For Communicable Disease (NICD) dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC) menyarankan agar guru dan pengasuh menggunakan masker bening atau masker kain dengan panel plastik tembus pandang saat berinteraksi dengan anak-anak yang belajar membaca, siswa yang belajar bahasa baru, atau orang dengan gangguan pendengaran atau disabilitas.

Selain itu, Tucci mengatakan agar orang-orang yang kesulitan berkomunikasi, misalnya memiliki anggota keluarga dekat atau teman yang kesulitan mendengar, akan sangat membantu untuk memiliki masker bedah atau masker dengan panel transparan untuk melihat apakah itu berguna.

Beberapa cara lain yang bisa dicoba agar proses komunikasi lebih lancar saat bermasker adalah menghindari pembicaraan di tempat bising, mengatur suara dan artikulasi agar jelas dan tepat, dan berbicaralah dengan menatapnya langsung.

Kalian juga bisa menambahkan isyarat nonverbal saat berkomunikasi, misalnya dengan mata dan alis atau bahasa tubuh. Jangan takut untuk berhenti sejenak dan menanyakan apakah lawan bicara memahami apa yang kita bicarakan.

Tetapi yang jelas, jangan pernah membuka masker saat kalian berbicara dengan orang lain. (*)

Related Articles
Current Issues
Apakah Jenggot Bisa Mempengaruhi Risiko Penularan Covid-19?

Current Issues
AS Hanya Izinkan Penerima Vaksin Covid-19 Jenis Ini Masuk ke Negaranya

Current Issues
Varian Delta Picu Lonjakan Kasus, Perlukah Booster Vaksin Covid-19?