Current Issues

Selain Darurat Listrik, Dunia Bakal Hadapi Krisis Mineral Akibat Baterai EV

Jingga Irawan

Posted on February 24th 2021

Foto: Redwood Materials

Prediksi EV Boom atau ledakan penggunaan kendaraan listrik memaksa sejumlah perusahaan terjun ke industri tersebut. Bukan cuma produsen otomotif, tapi perusahaan di bidang lainnya.

Baru saja perusahaan semen asal Jepang, Taiheiyo mengumumkan bahwa mereka mampu membuat bahan dasar baterai tanpa nikel dan kobalt untuk menghindari penggunaan bahan mineral berlebih. Eh tak lama berselang datang kabar dari Redwood Materials. Itu adalah perusahaan pimpinan JB Straubel -mantan petinggi Tesla. Mereka menyebut mampu membuat baterai baru memanfaatkan hasil daur ulang.

Kobalt, litium, nikel, dan logam lainnya yang digunakan dalam baterai EV (Electric Vehicle) menjadi komoditas yang sangat menarik perhatian dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya adalah lonjakan produksi baterai lithium-ion untuk beberapa perusahaan seperti Tesla, GM dan Ford yang saat ini berada dalam persaingan EV.

Nah, untuk mengurangi limbah pemakaian dan kerusakan lingkungan, daur ulang dianggap sebagai solusi efektif bagi produksi massal. "Besarnya limbah, masalah skrap dan (jumlah) baterai yang perlu didaur ulang, menurut saya, mengejutkan akan mengejutkan orang," kata Straubel, dikutip dari CNBC.

Redwood Materials saat ini telah mencapai kesepakatan untuk mendaur ulang sisa dan sel baterai yang rusak bagi Envision AESC. Itu adalah nama produsen baterai untuk EV Nissan Leaf yang diproduksi di Smyrna, Tennessee, Amerika Serikat.

Banyak pihak menyebut kerja sama ini merupakan inovasi berani. Sebab, Redwood memasok pembuat baterai dan perusahaan otomotif dengan bahan daur ulang.

JB Straubel

Redwood Materials berani menjamin bahwa efektivitas bahan hasil daur ulangnya sama seperti bahan baru. JB Straubel juga mengatakan bahwa perusahaannya akan mengembalikan bahan lawas tersebut menjadi bahan yang bersih dengan nilai kegunaan seperti bahan baru.

Untuk membuat baterai yang dibutuhkan dunia dalam 10 tahun, perusahaan setidaknya membutuhkan 1,5 juta ton lithium, 1,5 juta ton grafit, 1 juta ton nikel dan 500 ribu ton mangan. Namun, saat ini dunia memproduksi kurang dari sepertiga dari masing-masing bahan tersebut. Sumber bahan baterai baru tentu bakal sangat dibutuhkan.

Meskipun demikian, pertumbuhan penggunaan baterai merupakan keuntungan luar biasa bagi perusahaan seperti Panasonic, yang saat ini menjalankan Gigafactory -pabrik baterai lithium- bersama Tesla di Sparks, Nevada. Berkat pertumbuhan itu, Gigafactory akan memproduksi kurang dari 2 miliar sel baterai tahun ini.

Sementata itu, Celina Mikolajczak, wakil presiden teknik dan teknologi baterai di Panasonic Energy Amerika Utara percaya, rencana EV yang berkembang pesat saat ini mendorong perusahaan untuk melihat potensi daur ulang sebagai sumber baru mineral utamanya.

“Ada banyak energi yang dihabiskan untuk mengekstraksi mineral ini dan sama sekali tidak masuk akal untuk menimbunnya, Kami akan sangat bodoh jika kami tidak memanfaatkan kapasitas sel yang lebih tua, untuk menciptakan generasi berikutnya,” kata Celina.

Foto: Redwood Materials

Straubel memperkirakan terdapat setidaknya satu miliar baterai di laptop lama, ponsel, dan peralatan nirkabel yang sudah lama terlupakan di wilayah Amerika Serikat dan dapat lebih bermanfaat jika didaur ulang. (*) 

Artikel Terkait
Current Issues
Elon Musk Tiba-Tiba Puji Produsen EV Tiongkok, Ada Apa Nih?

Tech
Produsen Semen Jepang Taiheiyo Siap Produksi Baterai EV yang Lebih Canggih

Tech
Ford Produksi Sel Baterai Kendaraan Listrik Bareng Produsen Korea Selatan