Current Issues

Covid-19 Ditemukan Menular di Beberapa Hewan, Apa Artinya Bagi Kita?

Dwiwa

Posted on February 22nd 2021

 

Sejak awal pandemi Covid-19 juga telah ditemukan di beberapa hewan seperti kucing, anjing, cerpelai hingga hewan liar musang. Bulan lalu, giliran seekor gorila yang terjangkit penyakit yang disebabkan oleh virus SARS-Cov-2 tersebut.

Dilansir dari Yahoo! News, saat ini para ahli hewan memperingatkan bahwa jika virus ini beredar bebas di hewan liar, ada kemungkinan virus bermutasi dan berevolusi menjadi versi baru. Lalu virus jenis baru itu berpotensi berpindah ke manusia kembali.

Munculnya beragam varian baru corona yang menginfeksi manusia di berbagai belahan bumi juga membuat para ilmuwan sibuk. Tetapi selain itu, banyak ilmuwan yang mengatakan bahwa kita juga harus berusaha menemukan varian baru pada hewan, menurut laporan ABC News.

“Dalam pandemi saat ini, kami tahu bahwa virus berasal dari satwa liar, kemungkinan besar kelelawar, kemudian melompat ke manusia,” ujar Dr Jonathan Epstein, seorang ahli epidemiologi dan wakil presiden untuk science and outreach di EcoHealth Alliance. “Dan kita tahu bahwa ada banyak hewan liar yang rentan terhadap virus ini.”

Epstein menjelaskan bahwa virus Sars-Cov-2 begitu meluas dan banyak orang terinfeksi. Ada kemungkinan besar satwa liar dapat terpapar melalui lingkungan, air limbah yang terkontaminasi, atau kontak langsung dengan manusia.

Cerpelai adalah mamalia karnivora yang kecil yang diternak karena bulunya. Sampai saat ini, enam negara, Denmark, Belanda, Spanyol, Swedia, Italia, dan Amerika Serikat, telah melaporkan infeksi Covid-19 di peternakan  cerpelai ke Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Meski belum ada bukti bahwa virus yang ditemukan pada populasi cerpelai yang dibudidayakan lebih berbahaya dari yang ditemukan pada populasi manusia, virus ini menyebar dengan mudah di antara cerpelai yang kandangnya bersebelahan.

Tetapi infeksi di peternakan dan penangkaran hewan bisa ditangani. Beberapa populasi cerpelai yang dibudidayakan di Eropa misalnya, telah di musnahkan. Sementara kebun binatang telah mengisolasi dan merawat hewan yang positif untuk mencegah penyebaran penyakit.

Tetapi ini akan menjadi cerita yang berbeda ketika virus menular pada satwa liar. Ketika para ilmuwan sedang menyelidiki Covid di antara cerpelai yang dibudidayakan, mereka menemukan bahwa virus juga telah menyebar ke cerpelai liar.

“Apa yang kita lihat sekarang ini dikenal sebagai infeksi spill back,” ujar Dr Christine Kreuder Johnson, profesor kedokteran hewan dan kesehatan ekosistem di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas California-Davis.

Virus tersebut, yang kemungkinan besar berasal dari kelelawar, menyebar ke populasi manusia dan sekarang telah “menyebar kembali” ke spesies hewan liar lainnya.

Menurut Johnson, ancaman spill back ini mencakup populasi satwa liar dan hewan kebun binatang. Kucing, termasuk harimau dan kucing peliharaan, diduga telah terinfeksi dari pemilik atau pengasuh. “Penularan yang meluas pada spesies hewan apapun bisa menjadi sumber mutasi virus,” ujarnya.

Mskipun bukti masih sedikit bahwa virus menyebar secara signifikan dari hewan ke manusia, para ilmuwan khawatir bahwa virus dapat berubah saat menginfeksi spesies hewan lain. Jika spill back, atau kembali, untuk menginfeksi manusia lagi, itu bisa kembali sebagai varian baru.

Namun butuh lebih banyak pengujian dan penelitian yang perlu dilakukan untuk lebih memahami sejauh mana virus dapat menyebar pada hewan.

Pada akhirnya, ancaman spill back adalah pengingat bahwa hampir semua wabah virus bersifat zoonosis, artinya berasal dari hewan dan satwa liar.

“Pandemi ini tidak terjadi secara kebetulan,” kata Eipstein. “Itu terjadi karena aktivitas manusia yang mengubah lingkungan di sekitar kita dan membawa kita lebih dekat dengan satwa liar.” (*)

Related Articles
Current Issues
WHO: 1 Dari  10 Orang Mungkin Sudah Tertular Covid-19

Current Issues
Dirjen WHO: Herd Immunity Respon Pendekatan Pandemi yang Tak Etis

Current Issues
Jangan Kasih Kendor, Ini Saran WHO Tentang Kapan Harus Memakai Masker