Interest

Diduga Tengkorak Reptil, Fosil 66 Juta Tahun Ini Ternyata Paru-paru Ikan Raksasa

Ahmad Redho Nugraha

Posted on February 20th 2021

Maroko memang "tambang" bagi fosil hewan-hewan purba. Salah satunya adalah ditemukannya fosil paru-paru ikan purba berusia 66 juta tahun. Fosil itu sempat dikira tengkorak reptil.

Peneliti menemukan jika ikan tersebut ternyata jauh lebih besar dari perkiraan mereka, dan ternyata merupakan anggota dari ordo coelacanth, jenis ikan purba yang satu spesiesnya masih hidup di lautan dalam saat ini. Coelacanth sendiri sebelumnya diperkirakan sudah punah, sebelum spesimen hidupnya yang berukuran panjang 5,2 meter ditemukan pada 1938.

Fosil paru-paru ikan tersebut berbentuk lempengan batu yang digali dari lapisan fosfat di Oued Zem, Maroko. Selain fosil paru-paru tersebut, beberapa tulang pterosaurus juga turut ditemukan. Temuan tersebut membuktikan jika coelacanth sudah ada sejak masa Cretaceous pada 66 juta tahun lalu, tepat sebelum dinosaurus mengalami kepunahan.

"Ini (temuan yang) besar sekali. Ini coelacanth raksasa, ditemukan di lokasi di mana mereka tidak pernah ditemukan sebelumnya," ujar paleontolog Universitas Portsmouth Inggris, David Martill.

Fosil lempengan tersebut dibeli oleh seorang kolektor fosil di London. Pada awalnya, orang itu salah mengira jika fosil paru-paru tersebut merupakan tengkorak pterosaurus. Karena merasa tidak yakin, kolektor tersebut mengontak Martill dan meminta pendapatnya sebagai seorang profesional.

"Dia mengirimu beberapa foto, dan aku sama sekali tidak tahu apa itu," ujar Martill, dilansir dari Live Science. "Tapi aku sama sekali tidak yakin jika itu bagian tubuh pterosaurus."

Saat mengamatinya secara langsung, Martill baru sadar jika fosil itu bukan satu tulang, melainkan ratusan lapisan tulang yang membatu. Fosil paru-paru tersebut berbentuk tabung dan struktur tulangnya saling melapisi satu sama lain.

"Hanya ada satu spesies dengan struktur tulang seperti itu, dan dia adalah ikan coelacanth," tukas Martill. "Mereka membungkus paru-parunya dengan lapisan bertulang seperti ini, dan ini adalah struktur yang sangat tidak biasa."

Kolektor yang merasa kecewa akhirnya membiarkan Martill mengambil fosil paru-paru tersebut untuk diteliti lebih lanjut, sebelum akhirnya dia mendonasikan fosil paru-paru tersebut kepada Departemen Geologi Universitas Hassan II di Casablanca, Maroko. Martill lalu bekerjasama dengan paleontolog Brazil bernama Paulo Brito, pakar yang meneliti tentang paru-paru coelacanth.

Coelacanth purba yang ditemukan pada mulanya diduga hidup di sungai dengan panjang antara 3 hingga 4 meter. Namun paru-paru tersebut menunjukkan jika ukuran coelacanth yang mereka teliti mungkin jauh lebih besar.

Misteri terbesar dari penelitian tersebut adalah, kemana perginya seluruh tubuh coelacanth tersebut, dan mengapa hanya paru-parunya yang tersisa?

Martill menduga jika coelacanth tersebut dimangsa oleh reptil raksasa, mungkin pleiosaurus atau mosasaurus, mengingat coelacanth berenang dengan sangat lamban dan tentu saja menjadi mangsa empuk bagi predator.

Teori tersebut didukung dengan kerusakan pada fosil paru-paru tersebut, yang kemungkinan merupakan bekas gigitan pemangsanya. Mosasaurus dan pleiosaurus, seperti reptil lainnya di masa kini, biasanya akan memuntahkan tulang mangsa mereka.

Hal tersebut menjelaskan kenapa fosil paru-paru tersebut ditemukan tidak jauh dari tulang belulang pterosaurus, serta mengapa tidak terdapat fosil coelacanth lain di lokasi yang sama. Pemangsa coelacanth itu mungkin menangkap mangsanya di tempat yang jauh, lalu baru memuntahkannya di Oued Zem.

Meski demikian, tidak ada cara untuk membuktikan kebenaran teori tersebut. "Kami belum menulis tentang hal ini di penelitian kami, karena buktinya sangat lemah," ujar Martill. Penelitian Martill dan rekan-rekannya tersebut dipublikasikan pada 15 Februari lalu di Jurnal Cretaceous Research.(*)

Related Articles
Interest
Temuan Arkeologis Ini Buktikan Bahwa Spinosaurus Bisa Berenang

Interest
Nenek Moyang Dinosaurus Mungkin Berukuran “Kecil”

Current Issues
Inilah Tempat Paling Berbahaya yang Pernah ada di Planet Bumi Menurut Ilmuwan