Lifestyle

Kasus Penipuan di Twitter Makin Marak, Ini Tips Berdonasi Aman di Media Sosial

Kezia Kevina Harmoko

Posted on February 16th 2021

(Foto: Twitter)

Warganet dibikin kesal setengah mati sama sederet penipu yang melancarkan aksinya baru-baru ini. Mulai dari mahasiswi berinisial PIRS asal Jambi yang diduga mencomot foto kue orang lain untuk dijual (alasannya ibunya dapat pesanan lalu ditipu, eh ternyata dia sendiri yang menipu).

Ada juga mahasiswa berinisial MKN asal Semarang yang diduga membawa lari uang donasi untuk banjir di Kalimantan Selatan sebesar Rp111 juta. Gila gak tuh.

Pola-pola penipu yang belakangan ini terjadi cukup menarik. Mereka memanfaatkan rasa kasihan warganet untuk mendulang sejumlah uang. Buat yang penipuan jual kue, twitnya diawali dengan kalimat ”TWITTER PLEASE DO YOUR MAGIC”, kalimat yang umum digunakan pengguna Twitter untuk menarik simpati.

Kadang memang sulit untuk nggak merasa kasihan sama nasib kurang baik yang dialami orang lain. Nggak heran, konten sedih atau nasib buruk gampang banget viral karena banyak di-retweet atau disukai. Karena viral, makin banyak deh kemungkinan yang tertipu. Biar kasus kayak gini bisa dihindari, simak beberapa tips berdonasi melalui media sosial.

1. Cari foto-foto yang digunakan si pembuka donasi

Umumnya, penggalang dana akan menampikan foto-foto yang bikin sedih sebagai bukti kalau apa yang dialaminya memang nyata. Untuk memastikan foto tersebut bukan hasil browsing atau mencomot foto orang lain, kita bisa lakukan pencarian gambar di browser.

Ketik ada “Google search image” atau klik di sini. Bakal muncul tampilan kotak pencari seperti Google umumnya, tapi kita bisa unggah foto atau menempelkan tautan gambar di sini. Simpan foto yang dipakai untuk galang dana, lalu unggah. Setelah itu, klik ”Temukan ukuran lain untuk gambar ini“.

Cara mencari gambar tertentu di Google

Kalau muncul gambar banyak begini, berarti kemungkinan fotonya hasil browsing

Kalau foto tersebut muncul banyak di berbagai platform, besar kemungkinan foto itu hasil curian. Tapi, kalau gambar hanya muncul di media sosial tempat kita menemukan donasi tersebut, kemungkinan gambar tersebut memang milik si pengunggah.

2. Cari nama asli dan username si pembuka donasi

Zaman sekarang, jejak digital bisa menunjukkan segalanya. Kalau kita ketik salah satu nama penipu, pasti akan muncul jelas wajahnya, namanya, dan kasus penipuannya. Kalau orang tersebut bersih, kita bisa tahu latar belakang orang tersebut mulai dari pendidikan (biasanya dari web kampus atau sekolah) atau pekerjaan (biasanya dari platform LinkedIn).

Data-data tersebut bisa jadi acuan untuk menilai apakah si pembuka donasi memang jujur atau nggak. Cek lagi domisili yang ia sebutkan dengan data-data yang kita temukan. Kalau nggak cocok, patut waspada deh.

3. Sebisa mungkin kirim donasi ke rekening, bukan akun e-money

Sekarang mah donasi bisa lewat GoPay, OVO, atau DANA. Tapi, sebisa mungkin tetap kirim lewat rekening. Nomor rekening bisa kita periksa rekam jejaknya di web cekrekening.id, situs resmi buatan Kemkominfo. Cek dulu deh nomor rekening yang bersangkutan pernah dilaporkan kasus hukum atau nggak. Kalau bersih, bisa dipertimbangkan untuk berdonasi.

Kalau terpaksa banget mengirimkan donasi lewat akun e-money, minta nomor telepon yang dicantumkan dalam akun tersebut. Alasannya adalah nomor telepon bisa kita periksa di web seperti kredibel.co.id untuk memastikan apakah si pembuka donasi pernah melakukan penipuan. Bisa juga menggunakan aplikasi seperti GetContact untuk memeriksa nomornya.

Cara paling aman berdonasi

Untuk menghindari penipuan seperti yang viral belakangan, ada baiknya hanya berdonasi melalui platform yang sudah fundraising tepercaya seperti kitabisa.com atau wecare.id. Kalau donasi dibuka dengan menjual barang, lebih baik beli melalui marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan lain-lain. Tetap hati-hati ya berbuat baiknya, jangan sampai malah dimanfaatkan oknum-oknum yang gak bertanggung jawab! (*)

 

Related Articles
Lifestyle
Kasus Toxic Relationship Viral di Twitter, Kenapa sih Susah buat Langsung Putus?

Lifestyle
Ghosting Itu Apa sih? Ini Penyebab dan Dampaknya Buat Seseorang

Tech
Twitter Hapus Fitur ‘Fleets’, Cuma Bertahan 8 Bulan karena Pengguna Sedikit