Tech

Cewek Ini Bikin Pabrik Pengolahan Sampah Mikro, Bisa Tangani Daur Ulang E-Waste

Ahmad Redho Nugraha

Posted on February 15th 2021

Pengelolaan sampah merupakan salah satu isu lingkungan yang muncul akibat kemajuan industri elektronik. Sebanyak 2,22 miliar ton sampah setiap tahunnya berakhir di tempat pembuangan sampah.

Salah satu sampah yang selama ini menjadi persoalan adalah sampah logam bekas perangkat elektronik. Sebab sampah ini beda dengan sampah organik dan sampah plastik yang bisa diolah atau didaur ulang dengan singkat.

Tapi beruntung ada Veena Sahajwalla. Ilmuwan perempuan dari Universitas New South Wales Sydney, Australia ini punya solusi untuk menanggulangi jumlah sampah yang menumpuk, khususnya sampah elektronik. Ia punya penemuan yang biasa disebut dengan "pabrik sampah mikro".

Pabrik itu sebenarnya berupa perangkat pengolah sampah kecil yang normalnya berukuran seluas 500 meter persegi. Perangkat itu dilengkapi serangkaian mesin yang berfungsi mendaur ulang sampah, lalu mentransformasikannya menjadi material baru menggunakan teknologi panas bumi.

Sahajwalla meluncurkan pabrik pengolahan sampah mikronya yang pertama pada 2018. "Pabrik" itu khusus mendaur ulang sampah elektronik alias e-waste. Sementara pabrik mikro keduanya dibuat pada 2019. Kini grup laboratoriumnya bekerjasama dengan universitas dan mitra industri untuk mematenkan dan mengomersialkan teknologi pabrik mikro buatannya itu.

Menurut Sahajwalla, mesinnya yang beroperasi dalam skala kecil dalam sehari dapat lebih efisien menghasilkan energi terbarukan, dibandingkan pembangkit listrik biasa. Yang tak kalah penting, pabrik mikro pengolahan sampah bisa memutus rantai panjang pengolahan sampah. Seperti kita tahu, selama ini antara tempat pembuangan sampah dan pabrik pengolahan sampah dipisahkan jarak yang jauh. Bahkan kadang beda kota.

Pabrik mikro ini juga tidak memerlukan fasilitas pemilahan sampah untuk memisahkan sampah yang bisa didaur ulang, mengumpulkannya, mengekstrak unsurnya dan menggunakan unsurnya untuk membuat produk baru. Semua itu dapat dilakukan di satu titik lokasi, yaitu pabrik mikro pengolahan sampah yang teknologinya dikembangkan oleh Sahajwalla.

Pabrik mikro pengolahan sampah ini bahkan dapat menghancurkan ponsel dan monitor komputer bekas, lalu langsung mengekstrak silikon dari kacanya dan karbon dari wadah plastiknya. Mesin ini lalu mengombinasikan kedua unsur tersebut untuk menciptakan kabel nano berbahan karbit silikon, sebuah bahan keramik yang umum digunakan dalam berbagai industri.

Sahajwalla menamai proses mesinnya sebagai "R keempat," sebagai tambahan 3R yang biasanya dikenal dalam dunia pengolahan sampah, yaitu reduce, reuse dan recycle.

Berdasarkan data yang ada, pada 2019 hanya ada 17,4 persen dari total jumlah e-waste yang berhasil didaur ulang. Jadi, kemampuan melakkukan reform ini seharusnya menjadi solusi baru dalam menghadapi penumpukan e-waste yang semakin banyak.

"Sistem pendauran ulang e-waste tradisional selama ini tidak selalu berhasil dalam menghadapi segala jenis masalah daur ulang," tukas Sahajwalla.(*)

Related Articles
Tech
Teknologi Pencetakan 3D Cepat Bisa Jadi Rahasia Mewujudkan Organ Buatan

Tech
Benarkah TikTok Menyalahgunakan Data Penggunanya?

Tech
Sensor Mirip Plester Luka Ini Dapat Deteksi Covid-19 Lewat Kulit