Tech

Pakar ITB: Generasi Muda Indonesia Siap Adopsi Teknologi Baru EV

Jingga Irawan

Posted on February 14th 2021

Dalam beberapa bulan terakhir kemitraan pembuatan EV di antara perusahaan besar jumlahnya semakin bertambah. Mulai dari Zhejiang Geely Holding Group Co di Tiongkok yang menjalin kolaborasi dengan raksasa teknologi Baidu Inc. Sampai Foxconn Technology Group yang menandatangani kesepakatan manufaktur dengan Startup EV Tiongkok, Byton Ltd.

Tak hanya itu, Apple dan Hyundai juga baru saja ramai diperbincangkan karena rumor kerja sama yang digadang bakal menyaingi Tesla milik Elon Musk. Sedangkan, Tesla sendiri tidak mau kalah dengan terus meng-upgrade fitur kendaraan miliknya. Jauh di San Fransisco, Cruise telah menguji coba kendaraan EV self-driving-nya ke jalan raya.

Penjualan EV saat ini memang sedang booming di Eropa dan mencapai rekor penjualan terbanyak pada 2020. Rekor itu terjadi karena didukung juga munculnya serangkaian EV model baru. Tiongkok secara mengejutkan juga menjadi pasar EV terbesar di dunia. Pada tahun 2050, diperkirakan 73 persen dari semua penjualan mobil baru secara global adalah EV. Dan, akan ada sekitar 800 juta kendaraan EV aktif di jalan dari total sebanyak 1,5 miliar kendaraan.

Di Indonesia sendiri, pengguna kendaraan listrik juga terus meningkat meskipun perlahan. Menurut data Kementerian Perhubungan terdapat 2.278 unit kendaraan yang mendapatkan Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) terhitung pada September 2020. Sebanyak 1.947 untuk unit merupakan sepeda motor. Sedangkan untuk mobil jumlahnya ada 229 unit. Dan ada pula 100 unit kendaraan roda tiga, serta 3 unit bus.

Peningkatan ini juga harus diimbangi dengan adopsi teknologi baru yang dapat diterapkan di Indonesia. Menurut, pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu, generasi muda -baik milenial maupun generasi Z- di Indonesia telah siap menerima kendaraan masa depan, termasuk kendaraan listrik.

"Masyarakat Indonesia khususnya dari generasi potensial millennial dan generasi Z yang akan menjadi the real asset bonus demografi Indonesia pada 2030 adalah generasi penikmat teknologi baru, yang mampu memberikan experience yang menyenangkan, tentunya sesuai dengan limitasi daya beli mereka," kata Yannes saat dikutip dari ANTARA, Minggu (14/2)

Bagi Yannes, kendaraan listrik sudah dapat diibaratkan seperti gadget berjalan. Sebab, fitur baru yang terus bermunculan karena perkembangan teknologi dapat dengan mudah juga ditemukan di kendaraan listrik. Sebenarnya, fitur ini sebagian besar juga berkaitan dengan kebutuhan pasar generasi muda khususnya Gen Z. 

Namun, Yannes juga menegaskan bahwa ini bakal jadi PR penting bagi pemerintah. Strategi kebijakan pajak, insentif dan privilige yang pro masyarakat juga berpengaruh. Ditambah, daya beli masyarakat Indonesia untuk produk mobil kelas menengah ke atas harus disesuaikan. Secara bersamaan, adopsi kendaraan listrik juga bergantung pada upaya pengenalan pemerintah terhadap pasar potensial EV.

Oleh karena itu, menurut Yannes, perlu kerjasama PENTAHELIX -lima unsur kekuatan pembangunan- yang sangat luas. "Semua stakeholders harus mulai dirangkul dan menjalankan program penumbuh kembangan AIDA (Awareness, Interest, Desire, Acceptance) bagi seluruh masyarakat," lanjutnya.

So, penggunaan teknlogi semacam ini harus melibatkan pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi atau pakar dan media massa secara sistemik, masif, dan terstruktur.

Sementara itu, menurut perusahaan teknologi Ericsson beberapa waktu lalu berpendapat bahwa adopsi teknologi baru untuk kendaraan listrik sangat mungkin terjadi di Indonesia, apabila jika 5G sudah tersedia. Selain itu tentu lebih baik jika diikuti dengan kesiapan produksi otomotif dan regulasi di Tanah Air. Bagaimana gengs, kalian siap menggunakan kendaraan ramah lingkungan? Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri buat kalian yang masih hobi pakai knalpot brong. Hehehe(*)

Related Articles
Tech
"EV Boom" Bikin Dunia Butuh Lebih Banyak Listrik

Tech
Studi: Punya Mobil Listrik Lebih Menguntungkan dari Mobil Ber-BBM

Tech
Indonesia Bakal Bangun Pabrik Baterai EV Senilai Rp 17 Triliun Bareng LG