Lifestyle

Dalam Skala Tertentu, Menghabiskan Waktu Sendirian itu Perlu Lho, Cek Ini Deh!

Dwiwa

Posted on February 14th 2021

Telah banyak penelitian terkait kesepian (lonely) dalam ilmu sosial. Secara umum, kesepian didefinisikan sebagai perasaan subyektif dari ketidakpuasan dengan hubungan interpersonal dan sosial seseorang.

Tetapi pernahkah seseorang merasakan ketidakpuasan yang muncul dari perasaan bahwa kalian tidak menghabiskan cukup waktu sendirian? Dilansir dari Psychology Today, psikolog Dr Rob Coplan dan rekannya telah melakukan serangkaian studi yang berusaha untuk lebih memahami implikasi dari perasaan kehilangan kesendirian.

Banyak penelitian telah menunjukkan jika kesendirian memiliki manfaat asalkan memenuhi sejumlah kriteria. Beberapa di antaranya adalah dilakukan berdasarkan pilihan, dinikmati dalam jumlah sedang, dan diimbangi dengan menghabiskan waktu bersama orang lain.

Beberapa orang mungkin memang lebih banyak yang suka dengan kesendirian. Selama itu tidak berkaitan dengan rasa malu atau kecemasan sosial, mencari waktu untuk sendirian memang perlu dilakukan. Tetapi ketika keinginan ini tidak terpenuhi, timbul perasaan aloneliness (perasaan negatif yang muncul karena tidak cukup menghabiskan waktu sendiri).

Para peneliti mengembangkan Skala Kesepian dan Tidak Pernah Sendirian, sebuah kuisioner mandiri yang meminta peserta untuk menilai seberapa banyak mereka setuju dengan sejumlah pertanyaan. Jika kalian menjawab kuisioner dan skornya tinggi, peneliti akan mengklasifikasikannya sebagai “alonely”.

Kabar baiknya, para peneliti juga menemukan bahwa bagi orang-orang yang mengidentifikasi diri mereka alonely, semakin banyak waktu yang dihabiskan dalam kesendirian, semakin sedikit depresi yang dirasakan.

Dengan kata lain, obat untuk aloneliness adalah dengan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian. Temuan ini mungkin tampak jelas, tetapi dalam praktiknya, hal itu bisa sangat sulit untuk dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu apa yang harus dilakukan jika kita merasa aloneliness?

Para peneliti merekomendasikan untuk merencanakan atau menjadwalkan waktu sendirian untuk menghindari apa yang mereka sebut sebagai siklus degeneratif negatif.

Mereka menjelaskan bahwa ketika kebutuhan untuk sendirian terus menerus digagalkan oleh kebutuhan waktu (atau ruang) kalian, akan terjadi peningkatan perasaan aloneliness yang kemudian meningkatkan stres dan ketidakpuasan hidup. Siklus negatif ini dapat memperburuk gejala internalisasi seperti depresi.

Para peneliti juga mengakui jika mungkin sulit untuk merencanakan waktu sendiri, jadi kalian perlu menyesuaikan kembali harapan. Tetapi mungkin yang terpenting adalah kualitas bukan kuantitas waktu yang dihabiskan sendirian.

Kesendirian yang singkat jika dihabiskan dengan tepat mungkin cukup meredakan perasaaan aloneliness.

Sebuah penelitian yang diterbitkan bulan lalu juga mengungkap bahwa remaja yang menghabiskan kesendirian dengan terlibat dalam kegiatan yang termotivasi secara intrinsik seperti membaca untuk kepuasan atau beraktivitas di luar cenderung tidak merasakan aloneliness dibanding dengan yang hanya mengisi waktu tanpa melakukan apa-apa atau hanya membuka media sosial.

Jadi, jika kalian pernah merasa bersalah karena ingin pergi sejenak dan menyendiri, bebaskan perasaan itu. Daripada memikirkan kesendirian sebagai kemewahan atau kesenangan yang egois, penelitian mengatakan jika ini penting untuk kesejahteraan kalian. (*)

Related Articles
Interest
Merasa Kesepian? Lakukan Hal Ini 10 Menit untuk Menjaga Kesehatan Mentalmu

Lifestyle
Kenapa sih Kita Sering Sedih? Mungkin Tiga Alasan Ini Jawabannya

Lifestyle
Terlalu Banyak Informasi Negatif Bikin Stres? Cobain Tips Sederhana Ini